Tepat tengah malam. Ketika yang lainnya tertidur pulas, aku
merintih kesakitan dalam kamarku. Yang sejak pagi memang tak kuasa untuk bangun
dari tempat tidur. Sejak siang, aku meminta Ayahku untuk pulang mengantarku ke
dokter. Aku hanya bisa mengotak atik hpku meminta pertolongan pada Ayahku yang
sedang bekerja hari itu. Yang ada hanya pembantuku, tapi aku tak cukup kuat
bangun dan memanggil orang yang biasa kupanggil ‘Yu’ itu. Yu sedang berada di
belakang, dia memang jarang ke rumah bagian depan. Wajar saja aku hanya bisa di
dalam kamar. Sampai sore, aku semakin lemas dan semakin tidak memiliki tenaga.
Akhirnya yu yang sadar aku tidak keluar kamar dari pagi, menengok ke kamarku.
Melihat aku yang tergolek lemas di tempat tidur, dia menanyakan apa aku baik-baik
saja. Aku menceritakan betapa lemasnya aku. Yu keluar dari kamarku dan kembali
membawa makanan minuman serta minyak kayu putih. Aku dipijitnya biar agak
mendingan katanya. Ayah dan Ibu tiriku pulang sewaktu maghrib. Aku terbangun
ketika mereka datang. Saat aku diajak ke dokter aku justru menangis, aku merasa
menyedihkan. Merintih dari siang meminta Ayahku pulang, tapi ia malah pulang
saat fajar sudah tenggelam dan aku sudah semakin parah. Kemudian ditariklah
tanganku oleh ibu tiri itu, dipaksa ke dokter. Aku bersikeras tetap tidur di
ranjangku, aku tak ingin bangun. Aku berfikir, biar saja aku mati membusuk
ditempat tidur. Peduli apa mereka. Kemudian ibu tiri itu keluar dari kamarku,
sudah kuyakini dia hanya basa basi. Ayahku hanya mengelus-elus kepalaku,
berkata dengan lembut menyuruhku ke dokter. Aku hanya terisak. Sampai tengah
malam aku mencoba membawa penyakitku tidur, tetapi gagal. Semakin lemas dan
semakin menyakitkanku. Aku mencoba bangkit walau harus merangkak rangkak. Aku
menangis di dekat pintu, ternyata Ayahku belum tidur. Ia masih di depan
laptopnya, dan mendengar tangisanku di malam yang sunyi itu. Tergopoh-gopoh
mendatangiku yang berada di lantai dan bersandar di tembok sedang menangis
memegangi kepala dan perut. Akhirnya tengah malam itu juga Ayahku membawaku ke
UGD rumah sakit swasta terdekat. Hanya berdua, di mobil aku tetap menangis.
Saat sampai di rumah sakit, aku menghapus air mataku dan diperiksa oleh dokter
setempat. Akhirnya diputuskan aku untuk opname malam itu juga. Aku setuju, aku
tidak ingin di rumah. Karena di rumah aku diabaikan dan tidak terurus. Lalu,
infuse dipasangkan di pergelangan tangan kiriku. Itu pertama kalinya aku
dirawat. Aku dirawat di kamar kelas dua, aku tidak peduli. Yang penting aku
tidak berada di rumah. Beberapa jam aku mencoba tidur, namun tidak bisa. Ayahku
bangun ketika subuh berkumandang, dia pamit untuk mengambil baju dan
keperluanku yang dibutuhkan. Aku sendirian sampai pagi. Ketika matahari sudah
mulai muncul Ayahku kembali membawa keperluanku, tapi ia pamit untuk ke kantor,
kembali bekerja, dia berkata kakakku yang akan menemaniku di rumah sakit. Aku
sendirian. Sampai waktunya sarapan, sahabatku datang. Seorang diri, membolos
pelajaran membolos sekolah untuk menengokku yang sendirian. Aku terharu bukan
main, sampai segitunya. Jarak rumahnya dengan rumah sakit tempat aku dirawat
jauh, satu jam perjalanan untuk mencapainya. Dia menemaniku sampai kakak
perempuanku satu satunya datang. Ternyata, di rawat di rumah sakit itu tidak
enak. Selama aku dirawat, aku hanya nonton film di laptop yang dibawa kakakku.
Kakakku bertanya-tanya, kenapa Ayahku memilih kamar kelas dua. Karena biasanya,
kakakku yang sering keluar masuk rumah sakit, selalu dipilihkan kamar kelas
satu. Aku hanya berfikiran, mungkin keuangan Ayahku sedang tidak baik, atau
karena penyakitku yang tidak begitu memprihatinkan dan tidak terlalu parah. Itu
tidak menjadikan hatiku sedih atau merasa pilih kasih. Aku selalu ingin mencoba
memahami Ayahku, tapi tidak pernah berhasil. Ia orang yang sulit ditebak dan
tertutup. Bahkan pada anak kandungnya, walau begitu ia Ayah terhebat yang
pernah aku miliki.
Dulu aku berfikir, kenapa harus menjenguk orang sakit? Kan
malah menganggu, padahal kan orang sakit butuh istirahat. Ternyata itu salah.
Aku merasakannya sendiri. Ternyata jika ada orang yang menjenguk, entah mengapa
tubuh seakan mendapatkan energy untuk sembuh. Ketika ada yang datang ke kamar
perawatan, rasanya bahagia bukan main. Aku jadi mengerti siapa yang peduli
denganku. Dan aku bahagia, mereka menganggapku ada artinya dalam hidup mereka.
Teman-teman sekelasku datang, namun Cuma anak laki-laki. Tidak ada anak
perempuan yang datang menjengukku. Aku tidak berharap, karena aku tau letak
rumah sakit tempat aku di rawat itu tidak dekat dengan kota. Jadi wajarlah jika
yang menjenguk sedikit.
Dan hal yang paling
menyenangkan ketika aku sakit adalah, sahabatku yang memarahiku karena aku
tidak memberitahu bahwa aku dirawat. Ketika sedang berbenah setelah tiga hari
dirawat, saat sedang menunggu Ayah mengurus administrasi dan infusku yang belum
dilepas, sahabatku datang. Memelukku dan menanyakan sakit apakah aku. Datang
membawa boneka tokoh yang paling aku suka. Doraemon. Menyuapiku dan berfoto
bersama. Sayang foto itu sudah tidak ada. Itu hal yang paling berkesan ketika
aku dirawat di rumah sakit.
Penyakitku memang tak terlalu parah, hanya gangguan lambung
karena banyak pikiran. Itu yang dikatakan dokter. Tapi aku bersyukur bahkan
sangat bersyukur ketika aku sakit, karna aku bisa tau siapa yang tulus ada
disampingku. Dan siapa yang hanya berpura-pura. Aku tau betapa Ayahku tidak
terlalu mengkhawatirkanku. Aku tau betapa tidak pedulinya Ibu tiriku. Aku tau
betapa tulusnya kakakku merawat dan menemaniku. Aku tau betapa sahabatku
menganggapku berarti. Aku tau betapa teman-teman sekelasku ternyata peduli
denganku walaupun hanya laki-lakinya. Dan aku tau, betapa kesehatan begitu
mahal harganya. Dan aku tau bahwa sebenarnya walau seberapa menyedihkan
keadaanku, masih saja ada yang tidak peduli denganku. Berarti aku harus memperbaiki
diriku lagi. Agar orang-orang yang ada disekelilingku menganggap aku berarti
dan peduli denganku.
tangan pertama kali di infus
infus sudah dilepas. boleh pulang. \(^^)/
Boneka Doraemon terindah <3



