Kamis, 14 Agustus 2014

Sembuhku,Pedulimu

Tepat tengah malam. Ketika yang lainnya tertidur pulas, aku merintih kesakitan dalam kamarku. Yang sejak pagi memang tak kuasa untuk bangun dari tempat tidur. Sejak siang, aku meminta Ayahku untuk pulang mengantarku ke dokter. Aku hanya bisa mengotak atik hpku meminta pertolongan pada Ayahku yang sedang bekerja hari itu. Yang ada hanya pembantuku, tapi aku tak cukup kuat bangun dan memanggil orang yang biasa kupanggil ‘Yu’ itu. Yu sedang berada di belakang, dia memang jarang ke rumah bagian depan. Wajar saja aku hanya bisa di dalam kamar. Sampai sore, aku semakin lemas dan semakin tidak memiliki tenaga. Akhirnya yu yang sadar aku tidak keluar kamar dari pagi, menengok ke kamarku. Melihat aku yang tergolek lemas di tempat tidur, dia menanyakan apa aku baik-baik saja. Aku menceritakan betapa lemasnya aku. Yu keluar dari kamarku dan kembali membawa makanan minuman serta minyak kayu putih. Aku dipijitnya biar agak mendingan katanya. Ayah dan Ibu tiriku pulang sewaktu maghrib. Aku terbangun ketika mereka datang. Saat aku diajak ke dokter aku justru menangis, aku merasa menyedihkan. Merintih dari siang meminta Ayahku pulang, tapi ia malah pulang saat fajar sudah tenggelam dan aku sudah semakin parah. Kemudian ditariklah tanganku oleh ibu tiri itu, dipaksa ke dokter. Aku bersikeras tetap tidur di ranjangku, aku tak ingin bangun. Aku berfikir, biar saja aku mati membusuk ditempat tidur. Peduli apa mereka. Kemudian ibu tiri itu keluar dari kamarku, sudah kuyakini dia hanya basa basi. Ayahku hanya mengelus-elus kepalaku, berkata dengan lembut menyuruhku ke dokter. Aku hanya terisak. Sampai tengah malam aku mencoba membawa penyakitku tidur, tetapi gagal. Semakin lemas dan semakin menyakitkanku. Aku mencoba bangkit walau harus merangkak rangkak. Aku menangis di dekat pintu, ternyata Ayahku belum tidur. Ia masih di depan laptopnya, dan mendengar tangisanku di malam yang sunyi itu. Tergopoh-gopoh mendatangiku yang berada di lantai dan bersandar di tembok sedang menangis memegangi kepala dan perut. Akhirnya tengah malam itu juga Ayahku membawaku ke UGD rumah sakit swasta terdekat. Hanya berdua, di mobil aku tetap menangis. Saat sampai di rumah sakit, aku menghapus air mataku dan diperiksa oleh dokter setempat. Akhirnya diputuskan aku untuk opname malam itu juga. Aku setuju, aku tidak ingin di rumah. Karena di rumah aku diabaikan dan tidak terurus. Lalu, infuse dipasangkan di pergelangan tangan kiriku. Itu pertama kalinya aku dirawat. Aku dirawat di kamar kelas dua, aku tidak peduli. Yang penting aku tidak berada di rumah. Beberapa jam aku mencoba tidur, namun tidak bisa. Ayahku bangun ketika subuh berkumandang, dia pamit untuk mengambil baju dan keperluanku yang dibutuhkan. Aku sendirian sampai pagi. Ketika matahari sudah mulai muncul Ayahku kembali membawa keperluanku, tapi ia pamit untuk ke kantor, kembali bekerja, dia berkata kakakku yang akan menemaniku di rumah sakit. Aku sendirian. Sampai waktunya sarapan, sahabatku datang. Seorang diri, membolos pelajaran membolos sekolah untuk menengokku yang sendirian. Aku terharu bukan main, sampai segitunya. Jarak rumahnya dengan rumah sakit tempat aku dirawat jauh, satu jam perjalanan untuk mencapainya. Dia menemaniku sampai kakak perempuanku satu satunya datang. Ternyata, di rawat di rumah sakit itu tidak enak. Selama aku dirawat, aku hanya nonton film di laptop yang dibawa kakakku. Kakakku bertanya-tanya, kenapa Ayahku memilih kamar kelas dua. Karena biasanya, kakakku yang sering keluar masuk rumah sakit, selalu dipilihkan kamar kelas satu. Aku hanya berfikiran, mungkin keuangan Ayahku sedang tidak baik, atau karena penyakitku yang tidak begitu memprihatinkan dan tidak terlalu parah. Itu tidak menjadikan hatiku sedih atau merasa pilih kasih. Aku selalu ingin mencoba memahami Ayahku, tapi tidak pernah berhasil. Ia orang yang sulit ditebak dan tertutup. Bahkan pada anak kandungnya, walau begitu ia Ayah terhebat yang pernah aku miliki.
Dulu aku berfikir, kenapa harus menjenguk orang sakit? Kan malah menganggu, padahal kan orang sakit butuh istirahat. Ternyata itu salah. Aku merasakannya sendiri. Ternyata jika ada orang yang menjenguk, entah mengapa tubuh seakan mendapatkan energy untuk sembuh. Ketika ada yang datang ke kamar perawatan, rasanya bahagia bukan main. Aku jadi mengerti siapa yang peduli denganku. Dan aku bahagia, mereka menganggapku ada artinya dalam hidup mereka. Teman-teman sekelasku datang, namun Cuma anak laki-laki. Tidak ada anak perempuan yang datang menjengukku. Aku tidak berharap, karena aku tau letak rumah sakit tempat aku di rawat itu tidak dekat dengan kota. Jadi wajarlah jika yang menjenguk sedikit.
Dan hal yang paling menyenangkan ketika aku sakit adalah, sahabatku yang memarahiku karena aku tidak memberitahu bahwa aku dirawat. Ketika sedang berbenah setelah tiga hari dirawat, saat sedang menunggu Ayah mengurus administrasi dan infusku yang belum dilepas, sahabatku datang. Memelukku dan menanyakan sakit apakah aku. Datang membawa boneka tokoh yang paling aku suka. Doraemon. Menyuapiku dan berfoto bersama. Sayang foto itu sudah tidak ada. Itu hal yang paling berkesan ketika aku dirawat di rumah sakit.
Penyakitku memang tak terlalu parah, hanya gangguan lambung karena banyak pikiran. Itu yang dikatakan dokter. Tapi aku bersyukur bahkan sangat bersyukur ketika aku sakit, karna aku bisa tau siapa yang tulus ada disampingku. Dan siapa yang hanya berpura-pura. Aku tau betapa Ayahku tidak terlalu mengkhawatirkanku. Aku tau betapa tidak pedulinya Ibu tiriku. Aku tau betapa tulusnya kakakku merawat dan menemaniku. Aku tau betapa sahabatku menganggapku berarti. Aku tau betapa teman-teman sekelasku ternyata peduli denganku walaupun hanya laki-lakinya. Dan aku tau, betapa kesehatan begitu mahal harganya. Dan aku tau bahwa sebenarnya walau seberapa menyedihkan keadaanku, masih saja ada yang tidak peduli denganku. Berarti aku harus memperbaiki diriku lagi. Agar orang-orang yang ada disekelilingku menganggap aku berarti dan peduli denganku.


                                                keadaanku sewaktu di rumah sakit. sederhana
                                                          tangan pertama kali di infus
                                                    infus sudah dilepas. boleh pulang. \(^^)/
                                                         Boneka Doraemon terindah <3

Kembalilah

Memang ada saatnya, ketika yang ada akan menghilang. Dan ada saatnya juga, yang menghilang akan kembali.
Tuhan, bagaimana caranya … agar yang hilang dari sampingku kembali lagi? Aku harus berbuat apa? Jika memang kesalahanku terlalu sulit untuk dimaafkan, bukalah lapang-lapang hati mereka yang sulit memaafkanku. Jika memang mereka terlalu membenciku, bukalah mata hati mereka agar mereka melihat juga sisi baikku. Jika memang aku terlalu banyak kekurangan, curahkan dan limpahkan keikhlasan pada mereka agar bisa menerimaku. Begitu pula aku Tuhan. Tambahkanlah curhakan dan limpahkan segala maaf dan bukalah hatiku. Untuk memperbaiki diri agar mereka tak lagi menghilang dariku.
Kumohon Tuhan, jika memang untuk mengembalikan mereka ke sampingku hanya dengan aku yang tersiksa, siksalah aku. Aku ingin mereka kembali. Tak mudah menghilangkan apa yang pernah menjadi bagian di hidupku. Jika memang untuk membuat mereka kembali hanya dengan aku yang tersakiti, sakitilah aku. Separah apapun. Jika memang bisa membuat kembalinya mereka. Aku rela. Akan kujalani. Jika memang untuk menjadikan kembalinya mereka hanya dengan aku yang menangis, kuraslah air mataku. Hingga habis pun aku jalani.

Kumohon Tuhan, beri aku sakit beri aku celaka atau beri apapun jika memang membuat mereka kembali. Apa hanya dengan keadaanku yang menyedihkan yang akan membuat mereka kembali? Aku ingin mereka ada. Walaupun itu di hari terakhir aku hidup. Bawa mereka kembali. Menyayangiku seperti dulu. Dan ketika aku,masih berarti untuk mereka.

Tetap Menetap

Pernah tak hiraukan rasamu. Mengapa kamu selalu saja hadi dalam setiap cerita yang ku kira bisa membuatku tak ingat lagi denganmu? Ku kira aku sudah benar-benar melupakanmu. Karna usaha yang selama ini kucoba, bertahun-tahun sudah. Tetap saja hadir walau hanya sekelebat. Apa rasa ini sudah mendarah daging? Walau aku bersama yang lain, pun kamu. Sudah bersama yang lain. Kenangan selalu muncul satu persatu dalam hari hariku. Ada rasa yang tak rela, ketika orang lain mencoba menghapus segala tentang kita. Begitukah rasa yang aku rasakan? Terlalu dalam? Apa kamu yang terlalu lama aku kenal? Tetapi sebelum kamu, mereka bahkan sudah dengan mudah kulupakan. Tapi tidak seperti itukah kamu? Mengingkari kata hati memang tak mudah, aku sadar diri siapa aku. Aku sudah memiliki cinta yang baru. Tetapi, hanya sesaatkah? Terasa begitu melelahkan. Ketika hatiku masih tertambat padamu. Terjebak dalam kisah cinta yang lalu, menyakitkan. Perasaan yang sama namun keadaan yang berbeda dan tak bisa seperti dulu. Ingatlah, ikatan yang menyatukan kita memang tak terlihat dan tak nyata, tapi perlu kamu ketahui, sepertinya Tuhan berkehendak kita bersama. Jangan menentang, aku pun akan terus merasakan rasa yang akupun tak ingin menghapusnya. Kamu,seperti selalu ada dalam desah nafasku,tiap hari tiap waktu, selama bertahun-tahun, begitu sulit menghilangkannya.