Kamis, 14 November 2013

Mengerti

Aku mencoba mengerti jika senja tak lagi indah di mataku
Sejak dewi fortuna meluluh-lantahkan cinta yang terpupuk di keluargaku
Aku juga mengerti arti senyum tipis saat derasnya air mata
Sejak pecahan-pecahan cinta tak lagi bisa dipersatukan
Siapa lagi yang bisa mengalahkan ego?
Sang suryapun tak bisa mengalahkan ego langit malam
Aku mencoba mengerti bila pagiku tak seindah waktu lalu
Kelam,sendu,kelabu
Seakan tak ada lagi sepercik tetes embun yang menyegarkan
Tak ada lagi pancaran cahaya hangat dari sang mega
Aku juga mencoba mengerti tidurku akan sepi dan dingin
Tak ditemani cahaya sang rembulan
Dan tak dinyanyikan rayuan sang bintang
Aku mengerti akan terlalu sering aku menangis dalam sepi
Tenggelam dalam kesendirian yang menusuk pilu
Hatiku memang perih bak disayat sembilu
Namun apa dayaku diujung lelahku?
Aku mencoba mengerti ..


Maaf kalo berantakan bahasanya :p

"Teman"ku

"Teman"ku. Mengapa harus kugunakan tanda kutip pada kata dan judul lembaranku kali ini? Alasannya tentu akan kujelaskan. "Teman". Sebuah kata yang sering digunakan dalam kamus hidupku. Begitu juga yang lainnya. Dari aku lahir, kata teman pasti sudah digunakan. Entah siapa yang menemukan kata teman, akupun tidak tahu sampai saat ini. Dan mengapa kata teman bisa tercipta sebagai kata teman, aku pun tidak tahu karena kali ini aku bukan membahas usul piusul dari kata teman. Tanda kutip yang aku gunakan menggambarkan, teman dalam kali ini benar-benar teman atau hanya teman. Aku sudah menemukan keduanya. Dan akan kurceritakan ..
Teman, dari aku lahir aku sudah memiliki teman. Ari-ari yang turut serta lahir saat ibu dengan sekuat tenaga berusaha membuat aku bernafas di dunia itu adalah teman pertamaku. Bukankah benar begitu? Tentu saja. Beranjak umur dan beranjaknya tubuhku menjadi besar, Teman sangat berperan. Teman sepermainan,teman satu kelas, teman khayalan,teman mengaji, teman di rumah, teman les, daaaaaan masih banyak lagi. Apalagi sekarang, aku mempunyai banyak teman. Baik secara nyata ataupun tidak nyata. Kali ini masih dalam pembahasan secara fisik. Teman nyataku banyak yang secara fisik. Baik teman sekolah dari tk,sd,smp,dan smk (sekarang), teman seorganisasi,teman luar organisasi,temannya temanku,temannya mantanku,temannya pacarku,temannya kakakku,temannya saudaraku, mereka semua juga menjadi temanku. Tidak lain juga teman tidak nyataku. Teman dalam dunia maya, bukankah disebut teman tidak nyata? Kadang aku merasa teman di dunia maya lebih real daripada teman di dunia nyata. Setidaknya aku kenal nama mereka, tau mereka sekolah dimana, tau mereka berasal darimana. Yah walau hanya sebatas  itu lah. Mereka tetap temanku.
Dalam berteman aku sudah bertemu dengan sangat banyak orang, banyak karakter, banyak sifat, dan banyak rupa. Aku pernah berteman dengan anak baik-baik, dengan anak alim, dengan anak nakal, dengan anak metal, dengan anak konyol, dengan anak sadis, dengan anak yang mempunyai kenangan burukpun sudah. AKu mencoba tidak pernah memilih-milih dalam berteman, aku mencoba berteman dengan siapa saja. Yang menurutku nyaman dan kami nyambung. Pertengkaran dan perpisahan dalam berteman pun sudah biasa aku rasakan. Dan kini aku sadar sesadar-sadarnya, aku mengerti mana yang patut aku sebut sebagai benar-benar teman dan mana yang sebagai hanya teman. Aku mencoba memahami temanku. Karna aku selalu ingin dipahami oleh teman. Aku mencoba mengerti kekurangan temanku. Karna aku ingin pula dimengerti. Aku juga mencoba menerima kekurangan temanku. Karna aku tau aku banyak kekurangan.
Kuceritakan tentang semua teman-temanku. Sebut saja cewek cantik. Cewek ini memang cantik, dia teman saat dimana aku duduk di bangku smp. Kami memang berbeda sekolah. Dan kami akrab, bahkan sangat akrab. Aku kenal dia karena temanku. Tidak, bukan teman sekelas. Kami tidak sekelas. Pacar temanku adalah temannya cewek cantik. Alhasil aku jadi akrab dengan cewek cantik ini. Dia juga punya teman. Kami selalu bermain bersama. Dan ketika ini lah aku belajar memahami karakter masing-masing orang. Teman sekolahku, dia baik. Tapi dia egois dan suka bersenang-senang. Dan aku sadar jika aku terus bersama dia, aku akan selalu saja menghabiskan uangku untuk bersenang-senang dan semakin sering pula aku punya masalah di rumah. Namun begitu, dia setia kawan. Yah, jika bukan soal laki-laki, dia sangat setia kawan. Kemudian teman si cewek cantik, dia baik tapi suka memanfaatkan seseorang. Iya,aku paham hal ini karena aku telah dekat dan keseharianku bersama dia. Aku menuliskan apa yang pernah aku simpulkan setelah lama mengenalnya. Kemuadia si cewek cantik itu sendiri, dia cantik. Menurutnya pasti. Juga ibunya. Dia egois, datang hanya disaat butuh. Jika temannya sudah tidak ada gunanya, dia akan membuang dan meninggalkannya begitu saja. Habis manis sepah dibuang. Banyak yang menjadi korban. Aku salah satunya. Aku sadar kini, karena saat aku terbaring lemas di rumah sakit. Dia sama sekali tidak menengokku. Boro-boro menengok, menanyakan kabar atau sekedar kata "Kamu kenapa?"pun tidak terlontar dari mulutnya atau hanya ketikan bbm saja. Tidak ada sama sekali. Sakit. Aku kecewa, setidaknya aku selalu peduli padanya, tidak setega ini. Justru, teman yang baru saja aku kenal di smk, teman satu organisasiku, langsung datang dari ujung timur kota ke ujung barat kota cuma untuk menengokku. Baru menerima kabar, dia langsung datang. Dia lah yang benar-benar temanku. Dia paham aku dan aku paham dia.
Teman-temanku banyak yang berlawan jenis denganku. Ada yang cuek dan sekedar dekat, ada yang masih mengikuti alur dan belum menemukan jati dirinya, ada yang lupa teman jika punya gebetan/pacar baru, ada yang datang disaat butuh, ada yang datang disaat aku cemerlang, dan yang datang saat aku tenggelam? Jarang :)
Apa itu yang disebut teman? Seburuk-buruknya sifatku, aku belum pernah meninggalkan temanku saat dia terpuruk, setidaknya aku tidak menjauh. Teman ya, memahami dan mengerti kita ya? Aku tau itu sulit, tapi tidak ada salahnya kan mencoba? Toh kita sudah berusaha. Iya, sekarang aku paham. Mana yang hanya teman. Mana yang benar-benar teman :)

Kamis, 07 November 2013

Sepuluh hal yang semestinya kauketahui

Sepuluh hal yang semestinya kauketahui

Yang pertama, bahwa memang ada sedikit keterkejutan tentang kebersamaan kalian. Tapi bukankah yang sepatutnya dipersatukan memang tak akan bisa dipisahkan?
Yang kedua, bahwa memang ada tetesan air mata setelahnya. Namun, kerelaannya sedang dalam usaha.
Yang ketiga, bahwa aku memang masih berharap, meski wujudnya sekecil batu kerikil.
Yang keempat, bahwa aku memang masih sering teringat, kemudian merindukan.
Yang kelima, bahwa aku masih menyimpan kenangan tentang kita; kenangan yang hanya aku yang mengetahuinya, kenangan yang hanya aku yang mengenangnya, kenangan yang… ah sudahlah.
Yang keenam, bahwa aku masih menyimpan namamu dengan baik, di ruang paling lapang dalam benak, untuk secara serta-merta kupindahkan ke dalam kolom pencarian.
Yang ketujuh, bahwa aku pernah bertanya-tanya perihal perasaanmu akhir-akhir ini. Tapi akhirnya aku menyadari satu hal, bahwa kamu memang benar-benar sedang berbahagia.
Yang kedelapan, bahwa aku turut tersenyum bahagia, melihat bahagiamu dengannya. Meski tidak sebegitu lama.
Yang kesembilan, bahwa aku pernah begitu sering berpikir untuk berpindah tujuan dan yang kesepuluh bahwa aku sebenarnya tak pernah ingin.

by.estipilami

Kamu, Paragraf Tanpa Jeda

Aku masih heran. Mengapa kamu selalu saja muncul dalam celah benakku. Bahkan disaat aku tidak mengharapkan hadirmu lagi. Hadirmu yang tak lagi seperti dulu, sebagai senja dengan jutaan kilau jingga menyapa lembut tiap pagiku. Kini hadirmu bagai gerimis di tengah mendung dan terus saja menjadi deras. Hadirmu kini hanya seperti manusia api, terus terus terus saja membuatku berada di titik puncak emosiku.
Kebagiaanku masihlah kamu,walaupun tulisanku bukan lagi tentang kamu. Namun dengan kalimat itu, aku bahkan sudah membohongi publik bahwa dengan kalimat yang akan kuselesaikan ini tetap saja tentang kamu. Kamu memang tak pernah berhenti untuk memenuhi otakku dan memporak-porandakan pikiranku. Selalu saja mampu membawaku terhanyut dalam buaian kenangan tentang kita. Satu bulan belum genap ya? Kita sudah harus berjalan masing-masing .. Iya, memang keputusanku. Tapi dengan ada responmu yang sangat jelas kau tak ingin mencegah aku, sudah sangat terlihat, dustamu yang mengatakan kau itu tulus, kau itu memperjuangkan, kau itu berkorban bukankah semua itu hanya bullshit? Sebenarnya aku percaya cinta. Dan aku percaya argumen cinta dan benci itu beda tipis. Tau mengapa? Karena benci itu adalah cinta yang tersakiti. Disini, siapa yang tersakiti? Kita sama sama tersakiti, kita itu adalah dua ketidaksempurnaan. Kau tidak bisa membimbingku, aku tidak bisa dibimbingmu. Mungkin caramu yang salah, atau aku yang tidak mau. Sebenarnya tidak ada yang benar-benar benar, dan tidak ada yang benar-benar salah. Semua pada pikiran kepala masing-masing. Seperti kita, seperti garis sejajar yang memang berhadapan tapi kita tak akan pernah bertemu. Seperti air dan minyak. Terlihat menyatu tetapi sebenarnya tidak menyatu. Mungkin memang sudah saatnya, paragraf tentangmu, paragraf tanpa jeda tentang segala apapun kamu, ku akhiri. Namun jika kamu paham dengan kalimat satu ini, ada toleransi.
Ada yang berlari untuk kabur, ada yang berlari untuk dikejar.
Terimakasih untukmu mempermudahkanku melepaskamu, terimakasih untuk segalanya, terimakash untuk cerita sngkat namun bermayoritas air mata di pelupuk mata, terimakasih telah menjadi sedikit saja cerita di lembar hidupku. Jaga dirimu baik-baik, kepada seseorang yang pernah aku panggil sayang, kepada seseorang yang pernah aku cintai, kepada seseirang yang pernah menjadi alasan jantungku berdebar lebih cepat, kepada seseorang yang membuatku memandang senja lebih indah, dan kepada seseorang yang tidak boleh aku rindukan lagi. Terimakasih :')

Selasa, 05 November 2013

Sejenak Saja

Sejenak saja sayang
Ku ingin rebahkan kepalaku di bahumu
Ku ingin rasakan hangat pelukmu
Dan ku ingin mendengar bisikan tawamu
Dimana engkau pujaan hati
Ketika habis dayaku
Mengarungi perjalanan hidup
Jangan pergi, pemilik hati
Kubernaung ketika lelahku berada diujung
Sejenak saja
Habiskan waktumu dengan ragaku
Genggam erat tanganku
Jangan kau lepaskan
Hingga aku tergolek lemas
Lunglai dan tersengal-sengal nafasku
Di ujung dayaku
Membawa beban hari-hariku

Kuharap Bukan Itu

Cinta karna terbiasa. Mungkin itu yang kini akan kutuliskan lewat huruf yang aku rangkai dalam lembaran ini. Ini tepat apa yang sedang aku alami. Semua terjadi berdasarkan dengan aku dan seseorang yang menemaniku;kamu. Tentu saja, siapa lagi jika bukan kamu? Tak ada lagi kata dia.
Siapa yang menyangka? Yang tak menarik, yang tak rupawan ternyata bisa memenangkan hati yang jelas sekeras batu. Tiada yang menyangka. Apalagi jika bukan cinta yang tiba-tiba saja mengetuk dan masuk begitu saja memenuhi ruang hati. Hingga tiada celah yang lain untuk masuk. Tapi kurasa, hal ini terjadi karena memang sehari-hariku penuh dengan kamu,kamu dan kamu. Hanya ada kamu. Kamu yang memenuhi hari-hariku. Kamu yang ada saat hari-hariku terasa berat. Kamu juga yang terus ada disampingku ketika aku terpuruk. Hingga, benih-benih cinta tak terasa mulai bergejolak. Namun aku heran, mengapa begitu cepat semua berlalu? Yang awalnya aku dengan gigih tidak ingin mengubah status apa yang sudah terjalin diantara kita hingga pada akhirnya justru mengumpankan diri untuk segera kau berhasil pancing. Bodoh memang. Tetapi begitulah kenyataannya. Aku benar-benar jatuh hati. Sekarang, denga apa yang kita jalin. Dan sekarang, setelah kuketahui aku lah yang kedua kalinya menjadi kekasih hatimu. Mulai ada yang berbeda. Dengan segala tekanan dan cemooh dari sana-sini yang membuat kupingku sudah cukup tebal. Tetapi apa daya, hatiku tak cukup tebal untuk menerima. Dengan godaan sana sini yang tak mudah aku jalani. Dengan melihat kebelakang, bahwa masa laluku cukup cemerlang walau tak berakhir membahagiakan. Aku mulai putus asa. Aku mulai lelah untuk memperjuangkanya. Pikiranku mulai bertanya-tanya, apakah ini hanya cinta sesaat? Dan hey, hampir saja aku berkata 'ya' dengan mantap. Sempat aku berfikir untuk pergi darimu. Menganggap semua ini tidak pernah terjadi dan meneruskan masa sendiriku yag hampir genap satu tahun. Tapi nuraniku berteriak. menjerit tidak menginginkan hal keji itu. Sudah terlalu sering aku mempermainkan hati seseorang. Apa dengan mendiamkamu beberapa hari sudah menjelaskan bahwa sebenarnya aku ingin pergi? Mungkin kau paham. Aku terlalu kejam. Maafkan aku, kuharap bukan itu. Kuharap ini bukan cinta sesaat. Bantu aku memperjuangkannya ..

Jika Aku ..

Jika aku terlahir kembali
Kuharap tiada tangisanku dalam sepi yang selalu merenggut tawaku
Jika aku terlahir kembali
Aku tidak ingin ada perpecahan di keluargaku
Jika aku terlahir kembali
Biarkan aku merasakan kasih sayang seperti anak-anak yang lain
Dan jika aku terlahir kembali
Jangan biarkan aku memandang iri mereka yang duduk manis bersama keluarga mereka

Tuhan ..
Bila waktu bisa berputar kembali
Inginku hanya kembali pada masa kecilku
Ketika aku masih menganggap semua baik-baik saja
Tanpa terjadi apa-apa diantara kami
Tuhan ..
Bila masa itu bisa kembali lagi
Apakah harus aku menangis dalam diamku?
Terlalu banyak air mata yang aku keluarkan untuk keluargaku
Terlalu sering juga aku mengeluh dengan keadaan ini
Jika aku bisa kembali ..