Sesungguhnya dalam hatiku aku meronta. Mengalami sakit yang teramat sakit. menuju stadium akhir pada sakitku ini. Aku mengerti fisikku sehat walafiat tanpa ada suatu penyakit yang bersarang. Dan aku mengerti, bahwa sakit yang kualami ini merupakan sakit yang biasa dirasakan anak senasib denganku pada umumnya. Mungkin aku terlihat lemah,cengeng dan sejenisnya. Tapi yah, begini lah aku. Tidak setegar batu karang yang terus dihempas ombak. Aku tidak sekokoh menara saat diterjang badai. Dan aku tak sekuat sang fajar dalam menjalanka tugasnya menerangi bumi setiap harinya. Aku adalah aku. Gadis yang beranjak remaja, yang butuh kasih sayang dan perhatian yang lebih. Apalagi untuk korban retaknya sebuah rumah tangga. Air mata yang kukeluarkan mungkin tak sebanyak keringat yang bercucuran di dahi Ayahku, sang pahlawan hidupku. Dan aku tak berhak untuk menyalahkan keadaan.
Aku hanya bisa menyalahkan diriku sendiri. Apakah memang ada yang salah dalam diriku atau diriku lah yang sebenarnya salah. Keberadaanku dimanapun aku menginjakkan kaki seolah selalu salah. Ketika aku merasa salah, tidak ada yang berusaha membenarkan. Justru ketika aku mengeluarkan segala gundahku dan kuceritakan apa yang menjadi deritaku, selalu saja posisiku berujung salah. Apa iya tidak ada yang mengerti perasaan dan keadaan? Apa tidak akan ada yang mampu mendalami apa yang aku rasa? Apa yang kami para korban broken home rasakan. Aku jenuh. Suasana menjemukan yang jauh dari kata harmonis sudah membuatku muak dan ingin keluar dari lingkaran kelam ini. Lingkaran kelam yang sudah lama terjadi dan aka selalu terjadi jika aku masih berada di dalamnya. Bukankah jalan satu-satunya adalah berlari menuju cahaya di tengah kegelapan? Seakan aku dalam belenggu derita yang tidak pernah ada usainya. Kesedihan yang tak berujung jua. Aku lelah ... Aku ingin berlari menggapai hal yang tidak pernah aku dapatkan. Iya, kebahagiaan. Kejadian langka yang jarang sekali aku rasakan. Bila aku sudah berhasil menggapainya, aku tak rela untuk meninggalkanya atau melepaskannya. Sekalipun aku tidak rela!!! Jika harus meninggalka seseorang, aku tidak pernah ingin meninggalkan Ayahku. Jiwa tegar yang selalu berusaha kuat di depanku dan saudara-saudaranya. Jiwa bersahaja dan jiwa bijaksana di depan semua teman-temanku sebagai murid-muridnya. Aku lebih rela Ayahku membagikan kasih sayangnya pada ratusan anak daripada harus membagikan kasih sayangnya yang seolah ia limpahkan semuanya pada anak-anaknya kini dan tak menyisakan sedikitpun untukku.
aku tidak ingin ada sedikit saja celah kebencian dalam diriku pada keluargaku. Aku ingin rasa sayang yang melimpah sehingga tidak ada ruang untuk benci itu berkembang. Namun mengapa sebaliknya? Aku semakin sentimental dan aku semakin tidak peduli dengan keluargaku. Menyebar pada teman-teman dan ketidakpedulianku lagi pada pelajaran dan sekolah. Yang aku inginkan hanya lari. lari dari semua terali besi yang mecekamku. AKu ingin kebebasan dalam kejenuhan ini. Hari-hari yang membuatku merasa aku tidak pernah berharga.Apa ini bentuk dari protes dan sakit hatiku? Apa ini salah satu pembalasan atas semua luka yang aku rasakan? Yang lebih menderita adalah Ayahku, ia saja tegar. Mengapa aku begitu lemah? Aku ingin menjawabnya, aku ingin semua tau dan semua paham.
Bayangkan saja, sejak kecil, banyak hal buruk yang terjadi di depan mata kepalaku sendiri. Hingga aku beranjak remaja dan melihat sekelilingku penuh keharmonisan dan kebahagiaan yang belum pernah aku dapatkan. Haruskah aku terus saja menelan iri dan keinginan merasakannya? Haruskah aku terus berpura-pura tersenyum dengan wajah bodoh ketika orang-orang dengan tanpa dosa bertanya aku ikut siapa, bulananku berapa, alasanku tidak ikut Ayah atau Ibu, lalu mereka dengan sok'nya menasehatiku? Apalagi yang menyalahkan aku, MUAK !!!! Aku ingin berlari meninggalka ini semua. Jika boleh, aku ingin pergi. Aku ingin pamit pada semua bila aku ingin kembali saja kepadaNya. Yang akan memberikanku keluarga yang utuh di rumahNya ..
Belajarlah dari apa yang pernah kau alami. Bertahanlah dari apa yang pernah membuatmu terjatuh ...
Selasa, 22 Oktober 2013
Minggu, 20 Oktober 2013
Checklist Berkemah
- NIAT
- Iuran uang
- Alat sholat
- Alat tulis
- Alat mandi
- Pasak 3 @25cm
- Senter
- Baju ganti+Acc
- Baju hangat
- Ponco Kelelawar (Diperlukan bila hujan)
- Sendal+Sepatu
- Baju hitam+Celana training
- Tikar/alas tidur
- Kaus kaki cadangan
- Obat pribadi
- Tali pramuka
- Slayer
- Alat masak : Nesting/rantang, spritus, kapas, korek, kompor
- Logistik : Mie instant, Roti, Snack, Air minum secukupnya
- Sleeping bed (Jika tidak ada, bawa sarung milik ayahmu)
- Gelas
- Lilin
Checklist LDK
- Baju olahraga
- Celana training
- Al-Qur'an
- Baju lapangan (Berwarna hitam)
- Seragam osis lengkap (Topi,dasi)
- Perlengkapan mandi
- Alat Sholat
- Obat-obatan pribadi
- Alat tulis
- Alas tidur (Tikar,karpet,dan sejenisnya)
- Dilarang membawa handphone
- Ijin keluar maksimal 2 anak
- Bila ingin keluar area, ijin ke panitia
- Dilarang membawa obalen (Obat lenjeh:Make up)
Contoh Puisi
Dibalik Hujan
Ketika rintik hujan terjun dari sang langit
Mentari menyembunyikan dirinya dibalik awan
Kelabu di langit yang kelam mulai terlihat
Menyeruakkan jerit petir yang menggelegar
Hingga angin tak henti-hentinya berkalang kabut
Rasanya hariku tak jauh berbeda
Seakan mentari tak ingin muncul walau hanya melewati celah
Aku rindu cahaya indah di hidupku
Untuk mengusir mendung yang bersarang di wajahku
Kepada siapa aku harus mengadu?
Hujan badai masih saja belum reda
Hingga aku mulai menemukan celah-celah harapan
Dibalik segala tangisku
Setelah kulewati badai yang menerpa
Dengan kukuh dan kegigihan raga ini
Dibalik hujan ..
Dibalik segala kesediha dan air mata ..
Dibalik sendu dan kelabu ..
Aku menemukan cahaya indah itu
Aku menemukan pelangi yang mempesona
Dan kutemukan kau di penghujung asaku
Ketika rintik hujan terjun dari sang langit
Mentari menyembunyikan dirinya dibalik awan
Kelabu di langit yang kelam mulai terlihat
Menyeruakkan jerit petir yang menggelegar
Hingga angin tak henti-hentinya berkalang kabut
Rasanya hariku tak jauh berbeda
Seakan mentari tak ingin muncul walau hanya melewati celah
Aku rindu cahaya indah di hidupku
Untuk mengusir mendung yang bersarang di wajahku
Kepada siapa aku harus mengadu?
Hujan badai masih saja belum reda
Hingga aku mulai menemukan celah-celah harapan
Dibalik segala tangisku
Setelah kulewati badai yang menerpa
Dengan kukuh dan kegigihan raga ini
Dibalik hujan ..
Dibalik segala kesediha dan air mata ..
Dibalik sendu dan kelabu ..
Aku menemukan cahaya indah itu
Aku menemukan pelangi yang mempesona
Dan kutemukan kau di penghujung asaku
Visi Misi Ketua OSIS
Visi : Menyalurkan bakti, menjadikan organisasi yang profesional,terbuka,terpercaya dan bertanggung jawab.
Misi : Menampung dan menyalurkan aspirasi para siswa, meninkatkan mutu kerja osis, menjalin hubungan yang harmonis antara seluruh warga sekolah, serta menjadikan OSIS sebagai organisasi yang dapat membentuk kader pemimpin yang berkarakter.
Misi : Menampung dan menyalurkan aspirasi para siswa, meninkatkan mutu kerja osis, menjalin hubungan yang harmonis antara seluruh warga sekolah, serta menjadikan OSIS sebagai organisasi yang dapat membentuk kader pemimpin yang berkarakter.
JADWAL PERTANDINGAN OSIS CUP
| JADWAL PERTANDINGAN OSIS CUP 2013 | ||||||
| FUTSAL CERIA | ||||||
| SMK NEGERI 1 BAWANG | ||||||
| Hari | No | Pertandingan | Waktu | |||
| Selasa | 1 | XII BB | VS | XII TKJ | Putri | 14.30 - 15.30 |
| 14 September 2013 | 2 | XII AP | VS | X TKJ | Putri | 15.30 - 16.15 |
| 3 | XI TKJ 1 | VS | XII BISMEN | Putra | 16.15 - 17.00 | |
| Kamis | 4 | XII RPL | VS | XII PM | Putri | 14.30 - 15.30 |
| 15 September 2013 | 5 | XII TKJ 1 | VS | XI TKJ 2 | Putra | 15.30 - 16.15 |
| 6 | XI Api | VS | XI TKJ 3 | Putra | 16.15 - 17.00 | |
| Sabtu | 7 | XI Api | VS | PN 1 | Putri | 14.30 - 15.30 |
| 16 September 2013 | 8 | PN 2 | VS | PN 4 | Putri | 15.30 - 16.15 |
| 9 | PN 5 | VS | PN 6 | Putra | 16.15 - 17.00 | |
| Selasa | 10 | XI RPL 1 | VS | PN 3 | Putra | 14.30 - 15.30 |
| 01 Oktober 2013 | 11 | JUARA 3 | Putri | 15.30 - 16.15 | ||
| 12 | JUARA 3 | Putra | 16.15 - 17.00 | |||
| Sabtu | 13 | PN 7 | VS | PN 8 | Putri | 09.30 - 10.15 |
| 05 Oktober 2013 | 14 | PN 9 | VS | PN 10 | Putra | 10.15 - 11.00 |
| 15 | 11.00 - 11.45 | |||||
| KETERANGAN: PN (PEMENANG DARI PERTANDINGAN NOMOR ) | ||||||
Lupa atau Melupa?
Senang bukan kepalang saat itu, di hari kamu menghampiriku menuntaskan amarah yang sekian tahun berlangsung. Aku kira semua akan berjalan seperti dahulu lagi, penuh canda, penuh tawa dan tentu saja keakraban yang terjalin seperti hari itu. Namun rupanya Tuhan memang tak pernah ingin didahului. Dugaanku salah. Kita hanya bersatu untuk hari istimewamu itu, hari-hari selanjutnya? Ya, sama dengan hari-hari sebelumnya. Sebelum hari bersejarah dalam hidupmu itu terjadi. Hari dimana umurmu bertambah untuk yang ke 17. Istimewa memang hari itu, seistimewa kelakuanmu yang kini sudah terbaca jelas. Beberapa tahun belakangan ini kita tak saling sapa, kini setelah satu hari penuh kita bersenang-senang, kamu kembali lagi seperti dulu? Kamu lupa atau sengaja untuk lupa? Atau begini saja, aku tarik kesimpulan kamu hanya ingin hari bahagiamu itu mendapatkan yang berbeda? Aku heran, mengapa kamu denga mudahnya datang dan pergi? Bahkan sekarang kita kembali lagi seperti sebelumnya. Pura-pura tidak saling mengenal. Awalnya memang aku kira setelah hari itu, kita sudah kembali dalam lingkaran persahabatan yang sempat tertunda. Selalu dan selalu aku yang menyapa lebih dahulu hingga aku sadar, ternyata kamu tidak mau menyapa sebelum disapa. Lama-lama aku muak kawan, kau memang berbungkus kawanku. Tapi ternyata di dasar hatimu, kau adalah lawanku. Apa kamu tidak pernah berfikir jernih? Tidak pernah memandang dirimu di depan kaca? Bahwa betapa kamu tidak punya malu setelah mengatakan "Tidak akan pernah memaafkanku" beberapa tahun yang lalu atas kesalahan yang aku perbuat, dan hari itu, kamu datang mengemis-ngemis maaf dariku. Aku bukannya membuka kebusukkanmu, tapi sabar ada batasnya. Aku manusia biasa, memiliki ego dan hawa amarah yang kapanpun bisa membara. Kamupun begitu kan? Tentu saja, aku masih ingat betul kata-kata pedasmu beberapa tahun yang lalu. Saat kamu dengan mudahnya membuka semua kebusukkanku dan dengan tanpa dosa bergabung dengan musuhku. Aku berusaha memaafkannya, tapi aku tidak bisa melupakannya sobat. Sekarang, beberapa bulan setelah hari pesta itu usai, aku hanya ingin bertanya bagaimana kabarmu? Kita sudah tidak bisa menjalin persahabatan sedekat dulu ya? Mungkin, karna kamu, sudah lupa atau melupa tentang perdamaian kita beberapa saat yang lalu. Dengan mudahnya.
Rabu, 09 Oktober 2013
Bertahan Dalam Pedih
Untuk kesekian kalinya, aku menulis apa yang pernah aku alami dan mungkin memang beralur menyedihkan. Tapi, mau bagaimana lagi? Difikiranku, ini lah yang terlintas dan aku ingin bercerita denga orang lain yang membaca tulisanku ini. Tak peduli apa yang akan dikomentarnya. Aku tak peduli, yang penting, ini blog'ku dan aku bebas menuliskan apapun disini.
Hari itu siang hari yang cukup terik. Seharian aku hanya berguling-guling dan berkutat dengan bantal dan gulingku. Aku bosan, suntuk ini sudah meledak-ledak di ubun-ubun. Hingga hp'ku bergetar, ternyata teman sepermainanku. Mengeluh padaku bahwa ia baru sembuh dari sakitnya dan mengeluhkan tugas yang menumpuk dan sama sekali belum ia sentuh. Aku iba. Bagaimana jika hal itu terjadi padaku? Pasti pusing tujuh keliling dan bukanya menjadi sembuh, tapi bakal sakit lagi dan lebih parah. Emm, aku sahabatnya, aku patut untuk membantunya. Dan saat itu, cowok yang memang sedang dekat dengan sahabatku mengantarkanku dan menawarkan diri untuk membantunya. Denga senang hati, toh tenaga menjadi bertambah satu. Pekerjaan akan lebih cepat selesai. Aku tau pasti tugasnya sudah mepet, jelas saja,orang yang risau dan acak adut seperti ini pasti sedang galau memikirkan harus memulai mengerjakan tugas dari mana. Sahabat catik di depanku ini memang terlihat lebih pucat, kasihan, dia harus minum obat yang banyak dan mencicil mengerjakan tugasnnya pelan-pelan. Tepat setelah adzan ashar aku sampai di rumahnya itu. Dan akmi bertiga tenggelam dalam tumpukan tugas. Ternyata pelajaran anak SMA lebih rumit. Harus mengerti nama-nama bakteri yang asing di lidah dan susah untuk dibaca. Hem, untuk apa mereka mempelajari bakteri, padahal bakteri tidak pernah mempelajari manusia. Ihihiii, garing yah ...
Tak terasa adzan isya berkumandang, aku tersentak tidak sadar terlarut dengan tugas mulia ini telah membuaiku tidak merasakan aliran waktu begitu cepat. Terbayang sudah Mamahku yang memang sedang sensi dan kurang akur denganku membawa pentungan siap memukul kepalaku keras-keras hingga mancur darah. Jadi ingat sewaktu sekolah dasar dulu, ia membuat tanda di kepalaku dengan sebuah gelas sampai terjadi kebocoran kepala yang sebenarnya tidak bisa disebut kepala saking seringnya bocor. Padahal anak perempuan, tapi usilnya minta ampun. Sudah beberapa kali kepalaku bocor dan meninggalkan bekas sampai sekarang (masih ada kalo mau liat, ga dijahit si). Huuus, kembali ke laptop, suara adzan isya seolah-olah sudah menarik-narikku secara paksa untuk pulang, tapi sayang sekali di luar hujan dan petir menggelegar seperti badai di tengah samudra. Dan karena aku dan sahabat cowokku bukan orang kaya yang bisa jalan dengan mobil tanpa harus keanginan dan keujana, dengan sangat terpaksa kami mengurungkan niat untuk pulang. Makin terbayang wajah Mamah yang merah padam karna anak gadisnya belum juga pulang.
Akhirnya, karna hujan tak kunjung reda, jam setengah 9 aku memutuskan untuk menerjang hujan deras demi keselamatan bisa masuk rumah. Tapi mungkin memang sudah dikutuk oleh Mamahku, sial, sepeda motor cowok di depanku ini macet dan ketika digas cukup keras, aku tersentak dan terpental jatuh ke bawah. Di tengah hujan deras aku terduduk di tengah jalan sambil memegangi pergelangan tanganku yang saat itu benar-benar terasa sakit. Kubiarkan badan ini terguyur hujan dan basah kuyup. Yang penting aku bisa memegangi erat pergelangan tangan kiriku dan menahannya dari rasa sakit. Cowok yang membuatku terpental jatuh ke aspal itu berlari hendak menolongku, bukannya mau ditolong, aku malah mengusirnya untuk tidak mendekat padaku, aku takut pergelangan tanganku lebih sakit bila digerakkan dan disentuh olehnya. Alhasil aku berjalan pulang ke rumah yang memang sudah dekat karna trauma dengan sepeda motornya. Sampai di depan pintu dengan baju yang basah-sebasah-basahnya dan handphone yang lowbat dan wafat sejenak, aku mengetuk pintu merintih pelan karna kedinginan dan kesakitan. Tak ada jawaban. Bolak-balik aku ke pintu belakang lalu ke pintu depan, mengetuk dan meminta pintu. Lagi-lagi sunyi. Cukup, aku lelah dan kedinginan. Aku duduk menggelosor di depan pintu depan. Masih dengan sepatu dan helm yang memang belum ku lepas karna aku kesulitan melepas dengan tangan satu. Bagaimana ini, aku tidak dibukakan pintu. Apa orang di dalam tidak dengar ya? Ah tidak mungkin, aku mengetuk cukup keras dan saat membuka gerbang mengeluarkan bunyi yang tidak bisa dibilang pelan. Heran. Pikiran parno mulai muncul satu persatu. Biasanya, saat hujan gerimis seperti ini, malam sudah mulai larut, di komplek yang memang bekas kuburan cina ini, serta tanah sebelah yang memang kebun tidak terawat, pasti ada ... Aaaaaak!!! Saat ini bukan saat yang tepat! Kenapa pikiran-pikiran parno bermunculan ya. Makin tidak dirasa, tangaku makin cenat-cenut dan badanku mulai menggigil. Ya Tuhaaan, besok aku ulangan tengah semester, dan aku belum belajar sedikit pun. Tega nian kalo memang aku tidak dibukakan pintu. Tak terasa aku terisak-isak. Menyadari mungkin memang aku yang salah, aku berniat menolong, malah aku yang kena sial. Apa caraku menolong orang salah? Entahlah, hanya Tuhan yang tahu jelas. Aku mencoba tertidur di tengah udara dingin dan terbuka di kramik yang basah dan dingin, tak luput baju yang basah kuyup, dan keadaan jatuh dari sepeda motor. Apes bener hari ini.
Sekitar pukul 01.00 dini hari, tiba-tiba pintu terbuka, sebenarnya sebelum pintu terbuka, sayup-sayup terdengar suara Mamah yang berkata "Apa anak ini belum pulang? Masyaalloh." lalu dengan kasar pintu terbuka dan aku terhempas ke belakang. Aku berdiri dan masuk kedalam rumah, sambil melepas sepatu aku mencoba menjelaskan bahwa aku pulang tidak melebihi batas maksimal yaitu jam 9. Aku pulang setengah 9 dan sudah mengetuk pintu belakang dan pintu depan berkali-kali, lalu aku juga menceritakan aku jatuh dan pergelangan tanganku sakit, bukannya ada rasa bersalah atau mencoba mengobati anaknya kesakitan kedinginan, ia malah berkata yang benar-benar menyayat-nyayat hatiku. Gimana kalo dalam keadaan seperti ini kamu malah disyukurin oleh ibumu sendiri? Pedih bukan? Mataku memanas dan aku langsung masuk kamar. Berganti pakaian hangat memakai selimut dan mengikatkan sapu tangan kencang-kencang ke pergelangan tanganku. Aku menangis dalam diam sejadi-jadinya. Paginya, mataku sembab dan tanganku semakin sakit. Badanku panas, tapi aku tetap ke sekolah untuk mengikuti uts. Dalam keadaan pedih, dimana sosok malaikat yang dikirimkan Tuhan yang katanya akan menjagaku dan mengobatiku dikala aku sakit? Kurasa malaikat itu tertutup awan kelabu.
It's real. Tanpa rekayasa :')
Hari itu siang hari yang cukup terik. Seharian aku hanya berguling-guling dan berkutat dengan bantal dan gulingku. Aku bosan, suntuk ini sudah meledak-ledak di ubun-ubun. Hingga hp'ku bergetar, ternyata teman sepermainanku. Mengeluh padaku bahwa ia baru sembuh dari sakitnya dan mengeluhkan tugas yang menumpuk dan sama sekali belum ia sentuh. Aku iba. Bagaimana jika hal itu terjadi padaku? Pasti pusing tujuh keliling dan bukanya menjadi sembuh, tapi bakal sakit lagi dan lebih parah. Emm, aku sahabatnya, aku patut untuk membantunya. Dan saat itu, cowok yang memang sedang dekat dengan sahabatku mengantarkanku dan menawarkan diri untuk membantunya. Denga senang hati, toh tenaga menjadi bertambah satu. Pekerjaan akan lebih cepat selesai. Aku tau pasti tugasnya sudah mepet, jelas saja,orang yang risau dan acak adut seperti ini pasti sedang galau memikirkan harus memulai mengerjakan tugas dari mana. Sahabat catik di depanku ini memang terlihat lebih pucat, kasihan, dia harus minum obat yang banyak dan mencicil mengerjakan tugasnnya pelan-pelan. Tepat setelah adzan ashar aku sampai di rumahnya itu. Dan akmi bertiga tenggelam dalam tumpukan tugas. Ternyata pelajaran anak SMA lebih rumit. Harus mengerti nama-nama bakteri yang asing di lidah dan susah untuk dibaca. Hem, untuk apa mereka mempelajari bakteri, padahal bakteri tidak pernah mempelajari manusia. Ihihiii, garing yah ...
Tak terasa adzan isya berkumandang, aku tersentak tidak sadar terlarut dengan tugas mulia ini telah membuaiku tidak merasakan aliran waktu begitu cepat. Terbayang sudah Mamahku yang memang sedang sensi dan kurang akur denganku membawa pentungan siap memukul kepalaku keras-keras hingga mancur darah. Jadi ingat sewaktu sekolah dasar dulu, ia membuat tanda di kepalaku dengan sebuah gelas sampai terjadi kebocoran kepala yang sebenarnya tidak bisa disebut kepala saking seringnya bocor. Padahal anak perempuan, tapi usilnya minta ampun. Sudah beberapa kali kepalaku bocor dan meninggalkan bekas sampai sekarang (masih ada kalo mau liat, ga dijahit si). Huuus, kembali ke laptop, suara adzan isya seolah-olah sudah menarik-narikku secara paksa untuk pulang, tapi sayang sekali di luar hujan dan petir menggelegar seperti badai di tengah samudra. Dan karena aku dan sahabat cowokku bukan orang kaya yang bisa jalan dengan mobil tanpa harus keanginan dan keujana, dengan sangat terpaksa kami mengurungkan niat untuk pulang. Makin terbayang wajah Mamah yang merah padam karna anak gadisnya belum juga pulang.
Akhirnya, karna hujan tak kunjung reda, jam setengah 9 aku memutuskan untuk menerjang hujan deras demi keselamatan bisa masuk rumah. Tapi mungkin memang sudah dikutuk oleh Mamahku, sial, sepeda motor cowok di depanku ini macet dan ketika digas cukup keras, aku tersentak dan terpental jatuh ke bawah. Di tengah hujan deras aku terduduk di tengah jalan sambil memegangi pergelangan tanganku yang saat itu benar-benar terasa sakit. Kubiarkan badan ini terguyur hujan dan basah kuyup. Yang penting aku bisa memegangi erat pergelangan tangan kiriku dan menahannya dari rasa sakit. Cowok yang membuatku terpental jatuh ke aspal itu berlari hendak menolongku, bukannya mau ditolong, aku malah mengusirnya untuk tidak mendekat padaku, aku takut pergelangan tanganku lebih sakit bila digerakkan dan disentuh olehnya. Alhasil aku berjalan pulang ke rumah yang memang sudah dekat karna trauma dengan sepeda motornya. Sampai di depan pintu dengan baju yang basah-sebasah-basahnya dan handphone yang lowbat dan wafat sejenak, aku mengetuk pintu merintih pelan karna kedinginan dan kesakitan. Tak ada jawaban. Bolak-balik aku ke pintu belakang lalu ke pintu depan, mengetuk dan meminta pintu. Lagi-lagi sunyi. Cukup, aku lelah dan kedinginan. Aku duduk menggelosor di depan pintu depan. Masih dengan sepatu dan helm yang memang belum ku lepas karna aku kesulitan melepas dengan tangan satu. Bagaimana ini, aku tidak dibukakan pintu. Apa orang di dalam tidak dengar ya? Ah tidak mungkin, aku mengetuk cukup keras dan saat membuka gerbang mengeluarkan bunyi yang tidak bisa dibilang pelan. Heran. Pikiran parno mulai muncul satu persatu. Biasanya, saat hujan gerimis seperti ini, malam sudah mulai larut, di komplek yang memang bekas kuburan cina ini, serta tanah sebelah yang memang kebun tidak terawat, pasti ada ... Aaaaaak!!! Saat ini bukan saat yang tepat! Kenapa pikiran-pikiran parno bermunculan ya. Makin tidak dirasa, tangaku makin cenat-cenut dan badanku mulai menggigil. Ya Tuhaaan, besok aku ulangan tengah semester, dan aku belum belajar sedikit pun. Tega nian kalo memang aku tidak dibukakan pintu. Tak terasa aku terisak-isak. Menyadari mungkin memang aku yang salah, aku berniat menolong, malah aku yang kena sial. Apa caraku menolong orang salah? Entahlah, hanya Tuhan yang tahu jelas. Aku mencoba tertidur di tengah udara dingin dan terbuka di kramik yang basah dan dingin, tak luput baju yang basah kuyup, dan keadaan jatuh dari sepeda motor. Apes bener hari ini.
Sekitar pukul 01.00 dini hari, tiba-tiba pintu terbuka, sebenarnya sebelum pintu terbuka, sayup-sayup terdengar suara Mamah yang berkata "Apa anak ini belum pulang? Masyaalloh." lalu dengan kasar pintu terbuka dan aku terhempas ke belakang. Aku berdiri dan masuk kedalam rumah, sambil melepas sepatu aku mencoba menjelaskan bahwa aku pulang tidak melebihi batas maksimal yaitu jam 9. Aku pulang setengah 9 dan sudah mengetuk pintu belakang dan pintu depan berkali-kali, lalu aku juga menceritakan aku jatuh dan pergelangan tanganku sakit, bukannya ada rasa bersalah atau mencoba mengobati anaknya kesakitan kedinginan, ia malah berkata yang benar-benar menyayat-nyayat hatiku. Gimana kalo dalam keadaan seperti ini kamu malah disyukurin oleh ibumu sendiri? Pedih bukan? Mataku memanas dan aku langsung masuk kamar. Berganti pakaian hangat memakai selimut dan mengikatkan sapu tangan kencang-kencang ke pergelangan tanganku. Aku menangis dalam diam sejadi-jadinya. Paginya, mataku sembab dan tanganku semakin sakit. Badanku panas, tapi aku tetap ke sekolah untuk mengikuti uts. Dalam keadaan pedih, dimana sosok malaikat yang dikirimkan Tuhan yang katanya akan menjagaku dan mengobatiku dikala aku sakit? Kurasa malaikat itu tertutup awan kelabu.
It's real. Tanpa rekayasa :')
Selasa, 08 Oktober 2013
Terbiasa
Aku sudah terbiasa menangis ketika malam datang. Ketika aku pulang dari aktivitasku diluar rumah, dan ketika keluargaku sudah berada di rumah. Aku sudah terbiasa menangisi kehidupanku. Aku juga terbiasa menahan sakit dalam dada ini. Aku terbiasa menangis hingga aku tertidur. Aku pun sudah terbiasa dengan air mata. Air mata yang menemenaiku ketika aku merasa sendiri. Ketika aku merasa terabaikan,teracuhkan dan tak berarti. Air mata dan isak tangislah yang menemaniku. Seharusnya aku menjadi sosok yang kuat, tapi kenapa aku menjadi lemah dan cengeng. Ya beginilah aku,terbiasa merasa lelah akan hidupku. Karna aku benar-benar sudah merasa lelah, untuk mempercayai kalimat 'Indah pada waktunya'. Kapan? Sudah sejak lama aku selalu diiringi isak tangis, kapan indah pada waktunya datang? Aku tak ingin menyalahkan keadaan. Aku juga tak ingin berdosa menyalahkan sesuatu Yang Esa. Aku tak mau melakukan hal hina itu. Aku punya iman. Tapi sampai kapan aku terbiasa dengan keadaan yang menyayat hati ini? Seiring keringnya air mata, aku sudah tak mampu menahan pedih yang kurasa tidak akan pernah ada habisnya. Tidak ada satupun yang dapat mengerti aku, yang dapat menemaniku dalam setiap tangisku. Kapan aku bisa tersenyum dalam tidurku? tanpa ada sisa-sisa air mata yang menggenang dan mengalir deras di pipiku? Aku tidak ingin terbiasa mengeluh, tapi aku hanya bisa mengeluh. Apa lagi yang bisa aku lakukan selain itu? Tidak ada yang bisa mengobati luka ini. Bahkan membantuku mengangkat sedikit saja beban hidup ini. Bahkan tidak ada satupun .. entahlah aku bahkan sudah tak tau harus bagaimana lagi .. aku sudah terbiasa mengalami jalan buntu dan lagi-lagi harus terbiasa dengan air mata.
Tuhan, dengan kebiasaanku menangis, apa Kau sedang menitipkan kebahagiaanku pada malaikat? Atau Kau sedang merencanakan hal yang hebat untukku Tuhan? Apa Indah pada waktunya akan segera datang kepadaku? Apakah aku akan menjadi hambaMu yang begitu kuat bila di surgaMu nanti? Apa aku ini istimewa Tuhan? Hingga Kau memberikan masalah dan cobaan begitu berat kujalani .. seperti itukah caraMu mendidikku menjadi sosok yang hebat? Kau Maha Adil .. Kau pasti akan memberikanku kebahagiaan seperti yang lainnya kan Tuhan? Aku mengerti, Kau tlah menyiapkan segalanya. Terimakasih Tuhan. Tapi aku mohon .. Kuatkanlah da berilah aku kekuatan serta kesabaran dengan keadaan yang seperti ini. Kuatkan imanku agar tidak mengambil jalan pintas untuk segera bertemu denganMu ...
Tuhan, dengan kebiasaanku menangis, apa Kau sedang menitipkan kebahagiaanku pada malaikat? Atau Kau sedang merencanakan hal yang hebat untukku Tuhan? Apa Indah pada waktunya akan segera datang kepadaku? Apakah aku akan menjadi hambaMu yang begitu kuat bila di surgaMu nanti? Apa aku ini istimewa Tuhan? Hingga Kau memberikan masalah dan cobaan begitu berat kujalani .. seperti itukah caraMu mendidikku menjadi sosok yang hebat? Kau Maha Adil .. Kau pasti akan memberikanku kebahagiaan seperti yang lainnya kan Tuhan? Aku mengerti, Kau tlah menyiapkan segalanya. Terimakasih Tuhan. Tapi aku mohon .. Kuatkanlah da berilah aku kekuatan serta kesabaran dengan keadaan yang seperti ini. Kuatkan imanku agar tidak mengambil jalan pintas untuk segera bertemu denganMu ...
Senin, 07 Oktober 2013
Listen To me
Katanya, dia baik. Dimatanya, dia sosok wanita terbaik untuk hidpunya kini. Jelas saja, wanita ini berbeda dengan yang dulu pernah bersamanya. Aku pun merasakannya. Wanita ini memang baik. Baik di awal dan hanya baik di muka. Sebuah pendahuluan yang berjalan mulus dan lancar tanpa halangan. Sukses baginya ..
Ya. Dimana-mana sosok tiri itu mempunyai karakter antagonis. Kuakui itu. Karna faktanya aku menjalaninya sendiri. Penuh dengan orang-orang asing yang muncul di hidupku. Dan menyingkirkan pemikiran yang sudah bersaang lama dalam memori otakku? Tidak mudah bung! Tidak seperti membalikkan telapak tangan. Semua butuh proses, dan tentu saja bukti! Faktanya aku hidup dengan muka dua. Baik di depan namun aku mengerti ia menusukku dari belakang. Aku korbannya. Hatiku korbannya. Dan kehidupanku korbannya. Aku juga merupakan sebuah bukti hidup. Cerita kelam dari seluk beluk keluargaku yang terpecah belah dan terpisah pisah seperti piring yang terhempas ke lantai dan tercerai-berai. Dia orang baru,orang asing dalam hidupku. Sebelumnya, aku tak pernah mengenalnya. Tapi dia hadir begitu saja dan lagsung menyanding status menjadi ibuku. Tidak,ibuku hanya satu dan takkan pernah ada yang bisa menggantikan kedudukannya dalam hidupku. Bagaimana bisa aku mempercayai bahwa dirinya itu ibu tiri yang baik? Pembukaannya memang begitu indah, dia seperti bidadari surga yang berbisik lembut dan memainkan dawainya. Membuaiku dan saudaraku. Membantu sosok adam ini yang sedang terpuruk dengan kisah cintanya yang lalu dan berawal dari nol lagi. Namun, Bangkai disembunyikan pasti baunya akan tercium juga. Segala keburukan yang selama ini dia himpit dengan rapih akhirnya terlihat setelah menempuh setengah dari perjalanan. Topeng ia pakai terbuka, mentolerir dan memperbudak Superheroku. Bisikan bidadari berubah menjadi auman singa. aku muak!!! Kebusukan itu terlihat jelas sekarang! Membuatku sering menyesali keadaan yang justru harusnya mengajarkanku untuk menjadi sosok yang kuat. Aku tahu sosok adam ini menderita, tapi lihatlah aku. Pahamilah aku. Aku lah yangpaling menderita disini. Buah hati yang terbuang dan terabaikan. Aku hanya secercah masa lalu kehidupan buruknya bukan? Dan kini kehidupan barunya mendesak untuk megabaikan apa yang dulu pernah menjadi bagian hidupnya. Padahal akulah yang leih dulu menjadi arti di hiduonya dibandingkan wanita busuk itu. Wanita yang seakan-akan membat keadaan dan apa yang kulakukan terlihat selalu salah. Bodohnya lagi, sosok adam itu selalu membela dan tidak pernah memperdulikanku. Sempurna. Aku hanya ingin diperdulikan, aku takut merasa sendiri. Aku selalu diburu-buru rasa sepi. Seolah-olah aku hanya sebatang kara di dunia ini. Tak ada yang menyayangi dan tak ada yang peduli. Aku hanya ingin menjadi sebuah arti dan ingin keberadaan yang sama denga anak-anak yang lain. Aku juga ingin merasakan betapa bahagianya disayangi, tidak menahan rasa sakit luka yang telah teroreh permanen dihatiku ini. Lelah aku lelah terus menangis tiap malam meratapi kehidupanku yang mungki beberapa tingkat lebih menyedihkan dibanding yang lainnya.Apa iya aku benar-benar tak berarti? Mungkin jika nafasku berhenti dan tak ada lagi detak jantung di tubuhku, barulah ia sadar arti dari puing-puing masa kekamnya dulu ...
Ya. Dimana-mana sosok tiri itu mempunyai karakter antagonis. Kuakui itu. Karna faktanya aku menjalaninya sendiri. Penuh dengan orang-orang asing yang muncul di hidupku. Dan menyingkirkan pemikiran yang sudah bersaang lama dalam memori otakku? Tidak mudah bung! Tidak seperti membalikkan telapak tangan. Semua butuh proses, dan tentu saja bukti! Faktanya aku hidup dengan muka dua. Baik di depan namun aku mengerti ia menusukku dari belakang. Aku korbannya. Hatiku korbannya. Dan kehidupanku korbannya. Aku juga merupakan sebuah bukti hidup. Cerita kelam dari seluk beluk keluargaku yang terpecah belah dan terpisah pisah seperti piring yang terhempas ke lantai dan tercerai-berai. Dia orang baru,orang asing dalam hidupku. Sebelumnya, aku tak pernah mengenalnya. Tapi dia hadir begitu saja dan lagsung menyanding status menjadi ibuku. Tidak,ibuku hanya satu dan takkan pernah ada yang bisa menggantikan kedudukannya dalam hidupku. Bagaimana bisa aku mempercayai bahwa dirinya itu ibu tiri yang baik? Pembukaannya memang begitu indah, dia seperti bidadari surga yang berbisik lembut dan memainkan dawainya. Membuaiku dan saudaraku. Membantu sosok adam ini yang sedang terpuruk dengan kisah cintanya yang lalu dan berawal dari nol lagi. Namun, Bangkai disembunyikan pasti baunya akan tercium juga. Segala keburukan yang selama ini dia himpit dengan rapih akhirnya terlihat setelah menempuh setengah dari perjalanan. Topeng ia pakai terbuka, mentolerir dan memperbudak Superheroku. Bisikan bidadari berubah menjadi auman singa. aku muak!!! Kebusukan itu terlihat jelas sekarang! Membuatku sering menyesali keadaan yang justru harusnya mengajarkanku untuk menjadi sosok yang kuat. Aku tahu sosok adam ini menderita, tapi lihatlah aku. Pahamilah aku. Aku lah yangpaling menderita disini. Buah hati yang terbuang dan terabaikan. Aku hanya secercah masa lalu kehidupan buruknya bukan? Dan kini kehidupan barunya mendesak untuk megabaikan apa yang dulu pernah menjadi bagian hidupnya. Padahal akulah yang leih dulu menjadi arti di hiduonya dibandingkan wanita busuk itu. Wanita yang seakan-akan membat keadaan dan apa yang kulakukan terlihat selalu salah. Bodohnya lagi, sosok adam itu selalu membela dan tidak pernah memperdulikanku. Sempurna. Aku hanya ingin diperdulikan, aku takut merasa sendiri. Aku selalu diburu-buru rasa sepi. Seolah-olah aku hanya sebatang kara di dunia ini. Tak ada yang menyayangi dan tak ada yang peduli. Aku hanya ingin menjadi sebuah arti dan ingin keberadaan yang sama denga anak-anak yang lain. Aku juga ingin merasakan betapa bahagianya disayangi, tidak menahan rasa sakit luka yang telah teroreh permanen dihatiku ini. Lelah aku lelah terus menangis tiap malam meratapi kehidupanku yang mungki beberapa tingkat lebih menyedihkan dibanding yang lainnya.Apa iya aku benar-benar tak berarti? Mungkin jika nafasku berhenti dan tak ada lagi detak jantung di tubuhku, barulah ia sadar arti dari puing-puing masa kekamnya dulu ...
Beginilah Aku
Bukankah melelahkan menanti seseorang mengungkapkan apa yang sudah jelas terbaca dari semua perilakunya padamu selama ini? Menggantungkan apa yang sudah jelas keberadaannya didalam jiwa. Menunggu semuanya menyatu menjadi satu tujuan. Melangkah bersama menggapai satu impian. Tapi kejelasan itu bukannya semakin dekat tercapai, namun semakin menjauh dan memudar ...
Aku memang wanita,aku membenci itu. karna aku hanya bisa menunggu dan tidak bisa mengatakannya terlebih dulu. Kapan kamu menyatakan perasaanmu? Aku menunggumu .. Selama ini dengan segala gelisah yang selalu memburuku. Takut jika hatiku berpindah ke lain hati, ataupun sebaliknya. Aku takut kau pergi begitu saja. Aku selalu takut aka hal itu. Segala yang telah menjadi saksi, tentang apa yang sebenarnya terjadi antara dua hati yang berbeda ini. Tak satu paham,namun satu rasa. Begitulah kita. Tanpa ada kejelasan, tanpa ada kepastian. Bukankah tidak ada yang salah bila suatu hari nanti rasa itu akan memudar dengan sendirinya? Jangan salahkan waktu. Karna waktu sebenarnya telah mendukung kita. Mendukung segala apa yang telah menjadi usaha. Maka dari itu, tak usah kau selalu mengatakan untuk menunggu waktu yang tepat. Kapanpun tepat, selama kau bisa memperhitungkan segalanya semua akan menjadi tepat.
Langganan:
Postingan (Atom)