Warkope nyong, Kamis, 25 September 2014
Malamku tak pernah lagi sama seperti malam sebelumnya.
Malamku tak seriuh malam malam sebelum ini. Malamku tak pernah lagi
menggairahkan seperti sebelumnya. Semenjak orang-orang yang kuanggap berarti di
hidupku satu persatu mendapatkan malam yang baru. Mungkin karena denganku,
malam menjadi tak begitu mengasyikkan. Malam ini aku sengaja berteman sepi. Aku
membelah angin tak ditemani siapapun. Tak seperti sebelumnya, selalu ada yang
membalas tawa dan gurauku ketika membelah angin senja. Dan ketika aku berteman
sepi, aku menemukan apa yang pernah aku lalui. Membuat embun mataku jatuh
menghias perlahan, basahi kedua pipiku. Berpapasan denganmu, yang kuharap
melempar senyum namun ternyata justru membuang muka. Mengacuhkanku. Semudah itu
mengabaikanku, mungkin aku memang tak berarti.
Berteman sunyi begitu menyiksaku. Tak bisakah aku kembali
pada malam-malam sebelumnya? Ketika tiap detik menitnya begitu berharga
untukku. Ketika canda tawa begitu mahalnya kini kurasa. Semuanya. Aku ingin
kembali pada malam-malam yang kulewati begitu saja dahulu. Dan ternyata malam
yang baru tidaklah sama seperti malam yang selalu kulewati denganmu.