Senin, 08 September 2014

Lelah Selelah-lelahnya

Bagaimana jika aku mengatakan ini diujung rasa lelahku? Hati ini, hati yang dari awal mengenalmu sudah dirundung dengan masalah. Dengan yang tidak terima bahwa mantan kekasihnya dengan aku. Dengan yang dulunya teman hingga menjadi musuh karena membela mantan kekasihmu. Bahkan dengan hujatan-hujatan dan cacian yang aku terima dari awal hingga kini. Berjalan selama kurang atau lebihnya 98 hari tertanggal 31Mei2014 awal aku bertemu denganmu. Dan selama 98hari itu terus saja aku di uji oleh Tuhan. Lewat orang-orang disekitarmu. Yang tidak henti-hentinya menyiksa batinku. Kamu mungkin tidak merasakan seberat apa yang kurasakan. Tapi sungguh, aku lelah. Telinga,mata dan hatiku sudah ingin menyerah rasanya setiap hari dihujat dengan ada saja yang menyakiti hati. Atau mungkin memang Tuhan yang tidak ingin kita bersatu? Aku selalu saja berfikir, mungkin kamu tidak bisa terpisahkan dengan ‘dia’. Karna kulihat, orang-orang di sekitarmu begitu tidak ikhlas jika kamu dengan ‘dia’ tidak bersama. Haruskah aku yang mengalah? Haruskah kamu kembali dengannya? Dia juga tak henti-hentinya merusuhi hubungan kita yang sudah berat. Hey, hatiku bukan batu. Aku seorang perasa. Pedih jika sewaktu-waktu aku harus merasakan sendirian. Aku harus bercerita pada siapa ketika kau saja mengalihkan pembicaraan ketika aku membicarakannya. Hatiku…lelah. Apalagi ketika kamu, seolah menunjukkan ketidak tertarikanmu seperti awal. Tak ada tulisan tentangku, drama queen yang selalu saja kau buat ketika ada masalah, nothing special in special moment, meniru apa yang ada dalam mantan kekasihku, menangis etika ada masalah denganku,mengganti foto ketika aku menggantinya, seperti kau tidak ingin kalah saing dengan aku. Apalagi ketika keluargamu yang bersikap bertolak belakang dengan keluargaku. Aku rasa ini menjadi hal yang membuatku mempertimbangkan kembali apa yang harus aku putuskan. Kalau memang ini hanya cinta sesaat, yang kudapatkan hanya diawalan saja. Memudarlah dengan seiringnya waktu. Dan tak usah kembali lagi. Karna kamu berhasil membuatku masuk ke lingkaranmu dan mantan kekasihmu itu. Membuatku tersiksa dan semakin tersiksa. Kebahagiaan dan kesakitan yang kau beri tidak seimbang, malah justru lebih terkesan banyak kesakitan yang secara tidak langsung kau berikan. Aku sudah mengkorbankan beberapa teman untuk kamu. Ketika kamu membatasiku bergaul dengan teman yang lebih dulu aku kenal, maaf, aku tidak akan mau dan aku akan terus menentang. Karna kurasa, pengorbananku untuk seseorang sepertimu, tidak perlu lebih jauh lagi. Dan aku lelah. Selelah-lelahnya… Tak sulit mendapatkanmu. Karna sejak lama kaupun mengincarku. Tak perlu lama-lama tak perlu banyak tenaga ini terasa mudah…-Tulus

Tidak ada komentar:

Posting Komentar