Belajarlah dari apa yang pernah kau alami. Bertahanlah dari apa yang pernah membuatmu terjatuh ...
Senin, 27 Oktober 2014
I know but keep silent
Permainanmu tidak rapi bung. 'Teman curhat'mu yang katanya jail itu, sudah terbaca dan terdeteksi olehku. Aku sudah membaca chatnya. Tp hari berikutnha, chatnya sudah menghilang dr bbmmu. Padahal chat yg lainnya dgn hari yg sama bahkan lebih lama dr itu, masih tetap sama. Hey bung,permainanmu kurang rapi. Terbaca jelas jika km chating dgn dia lg tp kemudian di end chat karenamungkin takut ketahuan aku. Jika memang hanya chat biasa, pasti tidak akan ada yang disembunyikan. Seperti aku, tak ada chat yang aku hilangkan. Karena memang aku tak ingin ada hal yang membuat kita berjarak lagi. Nyatanya, malah kamu sebaliknya. Jika memang hanya ingin main-main. Ayo kita mulai. Tp aku cukup sebagai penonton saja. Hatiku sudah lelah. Dan skrg aku menerima saja dan menonton saja. Permainan apa yang akan kau mainkan. Thanks a lot 😊
Minggu, 26 Oktober 2014
Thanks Dear
Terima kasih sayang. Aku jadi lebih mengerti tentang menghargai sesuatu. Dan terima kasih. Berkat kamu aku jadi semakin yakin dengan feeling yang aku miliki. Ketika akhir-akhir ini aku sudah berprasangka buruk dan dari sekian lama aku mencurigai hubungan apa yang dulu pernah terjalin olehmu dan olehnya. Terjawab sudah. Ternyata suara hatiku tak salah. Kulihat sendiri. Dengan begitu banyak tanda-tanda yg ada. Edit foto dengan modus ledekan, status yang katanya teman curhat, bbm ringan tetapi nyaman :) retweet setiap tweetnya dan juga like di setiap foto instagram. Aku tak marah. Aku tak mempermasalahkannya. Sayang,sungguh aku tak apa. Aku yang salah. Tak pernah melarangmu berhubungan dengan orang lain. Aku tak membatasi kamu dengan yang lain. Tapi sayang, anjing tidak akan pernah datang dan singgah jika pintu tidak terbuka. Dan terimakasih sayang, aku belajar menghargai orang lain,aku belajar memendam amarah dan tangisku,dan aku belajar untuk tidak terlalu mempercayai orang lain hari ini. Terimakasih sayang. Dirimu memang pelangi dengan sejuta rasa yang kau beri untukku. Terimakasih...atas segala luka yang mendecit. Aku menyayangimu...
Jumat, 24 Oktober 2014
no title
Itu hati? Kukira lahan yg habis kena gusur. Berantakan. Gersang. Sepi.
Iya. Hatiku sudah mirip lahan yg digusur. Berantakan setelah pertengkaran yg semarak terjadi diantara kota berdua. Gersang hatiku. Sudah melebihi panas gurun sahara. Setiap melihat likers instagram wanita-wanita canfik pasto tercantum dia. Gatel. Ganjen. Atau mungkin aku yg sudah tidak menarik. Mungkin memang aku tidak menarik lg di matanya, tp sadarlah. Aku masih menarikdi mata lelaki lain. Sepi. Aku memang memiliki kekasih. Tp hatiku sepibagai sebatang kara dalam sunyi. Tak ada lagi perhatian yg tercurah. Aku terabaikan. Tak ada lagi pujian atau pujaan. Tak ada lagi hal yg mencerminkan bangga memilikiku. Tak apa lah. Untuk saat ini biarkan aku menangisi sendiri kesedihanku. Kesunyianku. Kelabu takkan selalu merundungiku.
Iya. Hatiku sudah mirip lahan yg digusur. Berantakan setelah pertengkaran yg semarak terjadi diantara kota berdua. Gersang hatiku. Sudah melebihi panas gurun sahara. Setiap melihat likers instagram wanita-wanita canfik pasto tercantum dia. Gatel. Ganjen. Atau mungkin aku yg sudah tidak menarik. Mungkin memang aku tidak menarik lg di matanya, tp sadarlah. Aku masih menarikdi mata lelaki lain. Sepi. Aku memang memiliki kekasih. Tp hatiku sepibagai sebatang kara dalam sunyi. Tak ada lagi perhatian yg tercurah. Aku terabaikan. Tak ada lagi pujian atau pujaan. Tak ada lagi hal yg mencerminkan bangga memilikiku. Tak apa lah. Untuk saat ini biarkan aku menangisi sendiri kesedihanku. Kesunyianku. Kelabu takkan selalu merundungiku.
Kamis, 16 Oktober 2014
It's Not My Day
Hari ini
mungkin memang bukan hariku. Mungkin memang hari ini sedang tidak berpihak
padaku. Kurasa Tuhan marah padaku. Mungkin Dia geram melihatku melakukan
hal-hal yang kurang baik beberapa hari ini. Hingga Tuhan murka padaku dan
menuliskan cerita buruk padaku hari ini.
Kurasa aku
memang pantas mendapatkannya.
Memang aku
yang terlalu malas. Hingga mamahku juga merasa jengkel karena pekerjaan rumah
tangga yang terbengkalai tak kukerjakan. Syukurlah semua sudah kubereskan
hingga bisa mengurangi kejengkelannya padaku.
Memang aku
yang terlalu bodoh. Hingga aku tak bisa lepas dari hp ketika ulangan
berlangsung. Dan pengawas meminta hpku yang sedang kugunakan browsing. Aku pantas
mendapatkannya, karena aku terlalu sibuk menangisi hal bodoh semalaman suntuk. Harusnya
aku belajar mempersiapkan ulangan. Dan aku tinggal menyiapkan mental untuk
mengahadapi wali kelas,guru maple,om dan ayahku yang akan mengomeliku
habis-habisan. Mental dan stock air mataku harus lebih kali ini.
Memang aku
yang terlalu tolol dan terbelakang dalam segala perhitungan. Hingga aku tak
bisa mengerjakan satu soalpun ulangan fisika yang berjumlah sepuluh nomor. Memang
aku sangat tolol. Dan aku pantas menerimanya.
Memang aku
yang terlalu pemarah. Hingga kekasihku sendiripun mungkin sudah muak dengan
kelakukanku. Percumah pula aku mencoba memperbaiki jika hatiku pun masih
menggebu-gebu untuk menghakimi. Menjauh dan meninggalkanku mungkin memang
pantas dia lakukan untukku.
Memang aku yang
terlalu tidak dalam jiwaku hari ini. Terlalu tidak focus dan terlalu lemah atas
kejadian yang terjadi. Hingga mengendarai motor dalam keadaan pulangpun hampir
saja mobil mencium sepeda motorku. Sebenarnya aku mengakui itu hal yang pantas
untukku. Tapi sayang sekali tubuhku masih utuh hingga sampai ke rumah.
Memang aku
yang terlalu sial hari ini. Hingga hampir selesai menulis keluhanku dalam blog
lewat handphone tiba-tiba terpencet tombol kembali dan menghilanglah semua
tulisanku sampai aku harus mengulangi menulis dari awal. Kata yang sudah
kurangkai tidak tersusun dengan baik dibandingkan dengan tulisan sebelumnya.
Badday pasti
berlalu. Hari buruk pasti akan kulewati. Dunia berputar. Ada kalanya aku
dibawah dan ada kalanya aku diatas. Tak apa mong. Tak apa jika saat ini aku
harus duduk sendirian dibawah hujan. Hanya berbicara dengan kucing peliharaanku
seperti orang bodoh. Satu-satunya yang masih mau mendengarkanku, satu-satunya
yang tak marah padaku, satu-satunya yang bisa kubagi dengan segala tangisku. Jadi
aku tak perlu merasa sakit hati karena kucingku tak akan bisa mengatakan aku
akan datang padanya disaat aku sedih. Aku pantas menerima semua kejadian hari
ini. Aku pantas untuk menangis sendiri. Aku pantas tidak ada yang menemui dan
menemaniku. Apalagi menyerahkan bahu dan pundaknya untuk kusandarkan kepalaku. Aku
pantas jika memang aku merasakan sakit sendirian. Dan aku pantas menyemangati
diriku sendiri. Karena memang aku tak memiliki siapa-siapa yang peduli padaku lagi.
Aku mungkin memang terabaikan dan tak ada artinya. Aku pantas menerima semua
ini.
Senin, 13 Oktober 2014
THINK BOY!!!!
Untuk dia, aku pernah menjadi lebih baik. Tapi karenanya
pula, aku menjadi lebih buruk.
Untuk dia, aku mengorbankan yang dulu teman-temanku setiap
hari menghujatku karena tidak mengikhlaskanku bersamanya. Tapi dia tak
menyadarinya.
Untuk dia, aku memendam segala Maluku pada teman-temanku. Tapi
dia tetap saja membuatku malu. Menyeretku pergi dari kumpulan teman-temanku,
mencampuri urusanku dan teman-temanku, berbicara kotor di media social dan
bertindak bodoh di depan teman-temanku.
Untuk dia, aku rela merelakan yang mencintaiku, yang
menyayangiku dan yang mengagumiku pergi jauh-jauh dan tidak menyukaiku lagi. Tapi
dia tak menghargai yang kurelakan.
Untuk dia, aku mengabaikan rasa lelahku bersamanya. Tapi dia
dengan mudah mengatakanku egois.
Untuk dia, aku melakukan semua hal itu sendiri setiap
harinya. Tapi dia dengan mudahnya menyimpulkan hal yang bodoh.
Untuk dia, aku mencoba bertahan diatas ketidak baikan sikap
teman-temannya. Tapi dia sekali lagi tak menyadari itu.
Untuk dia, aku tidak pedulikan bagaimana perilaku
keluarganya. Tapi dia mengabaikannya.
Apa yang kulakukan selama ini, dan tidak pernah kuungkapkan,
semata-mata untuk tetap menjaga hatinya. Tetapi ternyata salah, harusnya aku
mengungkapkan agar dia sadar dan tidak semudah itu menyimpulkan. Untuk apa
selama ini aku menjadi lebih buruk karenanya. Karena aku tau, percuma jika baik
dan buruk itu seimbang. Tuhan tak akan menerimanya. Kamu harus menjadi baik
atau menjadi buruk sekaligus. Itu pilihanku. Untuk apa selama ini aku mencoba
menutup mataku telingaku dan membekukan hatiku padahal setiap hari hujatan tak
pernah selesai dimanapun aku berada. Kenapa? Karena aku memilih bersamanya. Mudah
saja menghilangkan cacian itu, harusnya dari dulu aku tidak memilih bersamanya.
Tapi lihat, apa yang kupilih. Untuk apa selama ini aku memendam segala malu_ku
padahal dia tidak henti-hentinya bertindak hal yang memalukan tanpa dia sadari
keberadaan situasi dan kondisi yang terjadi. Untuk apa selama ini aku rela
menghilangkan,mengacuhkan pengagumku untuk dia seorang. Tidak melayani pengagum
dan tetap berpaku padanya. Tidak mudah mencari pengagum, itu butuh modal. Dengan
bagaimana aku bersikap, bagaimana aku berpakaian, bagaimana aku menghambur di
tempat yang oke, bagaimana aku harus mendekatkan diri pada hal yang menarik
perhatian. Tidak mudah boy! Untuk apa selama ini aku mengabaikan rasa lelahku. Ketika
aku naik gunung berangkat dengan hangat tapi memilih dingin untuk dia. Ketika aku
semalaman lebih tidak tidur dengan menumpuknya tugas organisasi dan pergi
menemuinya di luar kota ternyata hatiku dibuatnya hancur lebur berantakan
dengan mengendarai sendiri dan dalam keadaan tubuh meronta-ronta meminta istirahat
karna kegiatan sekolah semalaman suntuk. Tapi hal itu berlalu begitu saja
dimatanya. Untuk apa selama ini aku memendam semua itu dan tidak mengeluh atau
menceritakan padanya. Aku tak mau mimpinya pecah. Aku tak mau dia berkecil
hati. Tapi ternyata aku salah. Untuk apa selama ini aku memendam bagaimana
sikap teman-temannya diam-diam menyakiti dan mengiris-iris hatiku. Aku tak
ingin hubungannya dan temannya berantakan karena sakit hatiku yang tidak
penting. Untuk apa selama ini aku diam menahan perih hatiku ketika aku merasa
keluarga seutuhnya tidak menerimaku dengan baik. Apalagi jika dibandingkan
keluargaku yang friendly,easy going dan care dengannya. Apalagi jika
dibandingkan dengan keluarga mantan-mantanku yang sangat menghormatiku dan menghargaiku.
Sangaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaat bertolak belakang. Dan semua itu kulakukan hanya
untuk mendapatkan kesimpulan darinya bahwa aku hanya “Main-main” dengan
hatinya. Aku selalu saja heran, mengapa dia selalu bertindak tanpa pemikiran
yang panjang. Apa dia benar-benar
berpikiran dangkal? Kenapa logikanya tidak pernah jalan? Dan kenapa dia malah
bertanya padaku, “Semudah itu kamu mengambil keputusan?”. Ya Tuhaaaaannn!!!!!! Aku
mengambil keputusan dengan pemikiran yang matang. Karena aku sudah terlalu
lelah untuk hal-hal yang tadi. Aku sudah terlalu lelah merasa sakit. Aku tidak
mengerti mengapa Cinta memang tak melulu tentang bahagia, tapi ini tidak adil! Seolah-olah
hanya aku yang merasa sakit setiap hari karena hujatan orang, seolah-olah hanya
aku yang tidak diterima di keluarganya, seolah-olah hanya aku yang kehilangan
banyak teman, seolah-olah hanya aku yang
kehilangan pengagum. Kenapa hanya aku?! Dan kenapa dia hanya bisa menimbulkan
masalah?! Semudah itu menyimpulkan aku hanya “Main-main” setelah apa yang
kulakukan selama ini, harusnya impas bukan jika aku juga mudah menyimpulkan “Kita
berakhir” setelah apa yang dia katakana. THINK BOY!!!!!
Langganan:
Postingan (Atom)