Selasa, 29 April 2014

MEANING OF FRIEND (Read it, oh My FRIEND)

Teman, sini kupasangkan sayap untuk kenangan kita. Agar ia bisa terbang,menjauh dariku dan dari fikiranku.Jujur saja, aku terlalu lelah untuk mengingat setiap kenangan yang memang tak pernah bisa kulupakan. Tiga tahun, bukan waktu yang sekejap.
Untukku, bukan masalah bagaimana memperlakukan. Tapi perihal menghargai. Aku menghargaimu, walau kau sudah benar-benar berada dalam lingkup yang sangat dekat dengan kekerabatanku. Kamu, lebih dari sekedar seorang teman untukku. Kamu, yang selalu kuperlakukan baik dan selalu menjadi nomor satu ketika aku ditanya. “Sahabatmu?”. Apa aku terlalu buruk untukmu? Dan perlakuanku padamu kurang menyenangkan selama ini hingga kamu dengan mudahnya melepasku. Melepas kenangan kita yang dibilang cukup lama. Untuk waktu itu, aku merasa singkat. Atau, apa karena kamu memiliki banyak teman yang lain? Seperti kilas balik yang lalu, kau sering meninggalkanku dan melupakanku untuk kebahagiaan yang baru kau temukan. Sering kali dan teramat sering. Ketika aku cemburu dan merasa sepi, serta kehilangan. Aku mencari-cari, pada siapa aku harus mengadu agar kamu mengerti. Social media. Satu-satunya media agar kamu menyadarinya dan kamu tau kesepian yang melandaku. Kesedihan yang melanda aku yang terlupakan. Namun betapa kecewanya aku, ketika kamu tak peduli satupun dengan semua sindiran yang aku tulis. Aku harus bagaimana? Aku tidak ingin menyakiti hatimu dengan menanyakan langsung padamu. Bagaimana aku harus mengungkapkan bahwa aku tidak ingin dilupakan? Bukannya aku melarang dan membatasimu berteman. Temanmu bukan hanya aku, aku bukan segalanya dan kamu memang memiliki banyak yang perduli dengamu. Tapi tidak denganku, aku yang tidak mudah cocok dengan seseorang. Dan mungkin aku yang tidak mencolok untuk mereka-mereka yang memang tidak ingin berteman denganku.
Dan lagi. Betapa irinya aku, dan bertanya-tanyanya aku ketika kamu hanya beberapa menit memasang foto bersamaku. Tapi bisa berhari-hari memasang foto bersama teman yang lain di social media atau chat. Apakah kamu malu berteman denganku? Pertanyaan itu yang kulontarkan padamu. Begitu aku tidak tahan dengan segala gundah gulana dan hati yang meluap-luap ingin mengungkapkannya padamu. Tapi dengan jawaban yang menggantung kamu bertanya balik. “Kenapa?” dan aku tidak mendapat jawaban yang sebenarnya. Sampai saat inipun, aku masih bertanya-tanya, apakah aku terlalu memalukan untukmu?
Sikap baikku kau anggap menakutkan. Kecewa sedalam-dalamnya kecewa mendengar kata itu. Sikap baik yang kulakukan padamu kau anggap mengerikan, apa sikapku kau anggap tidak tulus dan mengharap balas budi? Aku tidak pernah sedikitpun menyinggung hal-hal yang pernah kulakukan atau kuberikan padamu. Aku bersikap baik pada orang yang kusayang. Wajarkah aku memperlakukan baik pada orang yang memang berarti dalam hidupku? Betapa sakitnya mendengar kata-katamu.
Tidak ingin melihat mukaku lagi. Sebegitu marahnya kamu? Apa selama ini aku harus mengungkapkan seperti apa yang kamu ungkapkan? Aku selalu memendam dan merasakan amarah sendiri. Menangis dan menahan semua kesakitan agar hubungan kita tidak menjadi renggang. Satu-satunya jalan dan satu-satunya tempat yang bisa kutumpahkan segala amarahku hanyalah social media. Siapa lagi? Kamu pasti mengerti bahwa aku tidak mudah percaya dengan orang lain, orang lain yang mungkin hanya ingin mengerti dan tidak peduli. Orangtua yang memang tidak seperti orangtua lainnya. Aku harus bersikap bagaimana? Aku tidak mengerti. Apa aku salah meluapkan perasaan dalam tulisan. Tulisanlah satu-satunya yang bisa membuatku sedikit lega. Tapi, mengapa karena masalah itu kamu sampai-sampai tidak ingin melihat wajahku lagi? Hinakah aku dihadapanmu? Apa permintaan maafku dan air mataku tak ada artinya untukmu? Bahkan kamu tidak meneteskan setetes air matapun dihadapanku. Ketika hanya kita berdua yang berbicara, aku yang memohon mencoba memperbaiki hubungan kita. Aku yang sedang berusaha menyambung tali yang hamper terputus. Memandangku pun kamu acuh tak acuh.
Susah ngomong sama orang pintar. Aku bukan orang pintar. Aku tidak sepertimu yang pintar mencari teman. Aku tidak pintar berbicara. Aku hanya mengatakan apa yang harus aku katakan. Pernahkah aku berkata yang tidak sebenarnya padamu? Tidakkah kebalikannya? Aku yang selalu dibohongi dan aku yang selalu dibodohi? Kepada kamu, aku selalu terbuka dan berbicara jujur. Everything and anything. How about you?
Terus aja jelek-jelekin aku. Di depan pacarmu kamu bilang. Jika aku pernah menjelek-jelekkan kamu di depan pacarmu atau orang lain, untuk apa aku selalu menutup-nutupi apa yang kamu suruh dan apa yang sedang kamu perbuat. Tanyakan saja pada pacarmuatau orang lain jika aku pernah menjelek-jelekkanmu. Tanyakan saja pada orangnya. Dan jika boleh aku bertanya, kamu bilang banyak, bisakah kamu sebutkan siapa saja dan apa saja yang aku jelek-jelekkan?
Hey sayang, open your eyes! Open your heart! Jangan gunakan egoism sendiri. Persahabatan itu perihal keegoisan, pengertian, dan kepedulian. Kamu bilang aku egois. Girl, pernahkah kamu mengalah jika kita menyukai benda yang sama? Pernahkah aku memaksakan kehendak jika kita berbeda pendapat? Jika iya, kapan dan apa itu? Pengertian. Aku selalu mencoba mengerti, mengerti jika tidak hanya aku teman baikmu. Dan tidak setiap waktu kamu harus bersamaku. aku juga mencoba mengerti jika orang yang sedang aku musuhi , tiba-tiba terlihat bersamamu. Aku mencoba mengerti pula bahwa seseorang yang pernah aku sayangi, menjadi milikmu. Aku mencoba mengerti semua itu dan mungkin masih banyak lagi hal yang aku sendiripun tidak sadar. Karna apa? Karna aku tulus. Kepedulian. Sakitmu juga aku rasakan, begitu juga sedihmu, aku merasakan. Tidakkah ada artinya saat kamu sakit, aku datang dan membantu mengerjakan tugasmu. Hujan pun aku belakan untuk datang. Ingatkah saat aku pulang hujan mengguyur deras, dan aku tidur diluar karna tidak dibukakan pintu oleh ibuku? Dan esoknya aku harus mengikuti uts di sekolah. Apakah hal itu sudah terlupakan dalam memori ingatanmu? Tidakkah disebut peduli saat aku memelukmu yang menangis karna patah hati dalam hujan di depan rumahku? Dan tidakkah pantas disebut tak peduli saat mantel kupakaikan padamu saat hujan dan aku tak memakainya? Mungkin memang itu semua hanya hal sepele, tapi sudah mencerminkan kepribadianku sayang. Bagaimana mungkin selama tiga tahun kau tidak bisa memahami kepribadianku? Bahkan aku sudah benar-benar paham kepribadianmu.
Pernahkah kamu datang padaku? Pernahkah kamu mengajakku jalan terlebih dahulu? Pernahkah kamu meminta bantuanku? Pernahkah kamu mendatangiku ketika aku mendiamkanmu? Selalu dan selalu aku yang datang padamu. Apa kamu tidak membutuhkanku? Apa aku terlalu tidak dibutuhkan untukmu? Aku. Ingin menjadi arti untukmu. Kamu. Yang kuanggap sebagai sahabatku.
Tahun baru. Bukankah sudah dua kali perhitungan akhir tahun kulewatkan bersamamu? Apa kamu ingat kata-katamu padaku? “Semoga tahun-tahun berikutnya kita kaya gini terus ya…” apa kata-kata itu hanya sekelebat saja dalam fikiranmu? Mengucap tanpa memiliki arti? Aku, masih percaya, bahwa siapa saja yang bersama saat hitung mundur, mereka akan bersama selamanya. –FRIEND’s (Thailand Movie)

Bukankah kita melewati banyak hal? Bertukar segalanya dan berbagi segalanya? Kita sudah melewati hal-hal gila bersama kan? Senang,sedih, tawa,tangis,amarah. Kita sudah merasakan semuanya bersama. Apa benar segini saja cerita kita bersama? Entah seberapa lama kita seperti ini, sebesar apa marah kamu padaku, dan sekukuh apa kamu tidak ingin melihat wajahku lagi, setidaknya aku pernah mencoba memperbaiki dan membuang segala gengsiku. kamu tetap sahabatku. Sampai kapanpun.

Sabtu, 19 April 2014

Cahaya Terangku

Jika rindu menciptakan luka
Maka jangan pernah ia merasakannya
Satu-satunya cahaya terang di tengah kegelapanku
Yg berpijar di sekeliling petang
Ia, sebuah jawaban dari segala resahku
Namun ia juga sebuah alasan dibalik tangisku malam ini
Aku tak ingin merasakan luka

Tapi justru luka yang sering aku rasa

Bintangku ...

Kamu, pernah menjadi bagian hidupku. Dan kamu, pernah menjadi sangat berarti dalam hari-hariku. Hingga kita selalu terpisah, tetapi pada akhirnya kita kembali lagi. Seperti ada benang tak terlihat yang selalu mengikat kita. Hujan yang membawaku ke dalam segala kenangan tentang kita, tentang rasa kehilangan yang sempat tertinggal dan tentang sepi yang pernah singgah. Ada saat kita tertawa bersama, saling memberi arti kasih dan berbagi kasih.Ada pula saat problema menghempas kita, saat badai berlalu dan kita sama-sama mencoba menerobos walau dengan jalan yang berbeda dan akhir yang berbeda pula. Namun aku heran, mengapa dengan jalan dan akhir yang berbeda, selalu saja kita sempat bertemu di tempat yang sama dan bergandengan tangan mencoba mencari satu jalan dan satu tujuan. Namun aku memang tak pernah mengerti rencana Tuhan, selalu saja ada cara untuk memisahkan kembali jiwa raga kita. Mungkin kau pernah bernafas beriringan denganku, tetapi kita memang tak harus terus bersama. Penghalang tinggi nan kokoh selalu saja ada dalam perjalanan cinta kita. Yang pada akhirnya sama; kita takkan pernah menyatu seperti dulu ..

Bintangku …

Wani apa Ora - Cerita Pendek Bahasa Jawa Banyumasan

Wani apa Ora ???

Nyong sering banget diolokna kecing marang bocahan. Amarga nyong nangis mingseb-mingseb nek weruh gambar setan. Tapi wis kaya kue udune direwangi ngilangaken rasa wedi, malah diweden-wedeni  bae. Malahan bocah-bocah pada seneng banget nek weruh nyong nyiwek ngasi mingseb-mingseb. Tapi wes mesti udu kanca wadon sing seneng ngledeki nyong ngasi nangis. Bocah-bocah lanang sing getol banget nggole ngledek. Ngasi rasane sedina bae ora ngledek rasane getir ndean. Jere mae nyong lair pas dina esih awan. Mulane nyong kue dadi kecing, apa maning pas cilik sering diweden-wedeni marang mbekayu lan kangmase nyong. Yawis, dadine siki nyong kayakiye. Kecinge eram. Jane ya nyong pengin kaya bocah biasa, nek lewat dalan peteng ora mlayu kebancang-bancang. Ora njerit nek weruh wong-wongan sawah pas sandingkala. Terus ora ketar-ketir nek lampune mati padahal lagi bareng-bareng karo kanca-kanca. Tapi rasane urung teyeng nggole ngendalekna rasa wedi , amarga imane nyong urung kuat ndean.
Kaya kiye sebele dadi Bantara, kudu wajib melo kegiatan diklat sing wes genah ana kegiatan ‘Jurit Wengi’. Malah kudune dadi setan sing meden-medeni adek kelas. Nyong wes bisa mbayangna keprige sikape nyong sing gapen meden-medeni tapi malah keweden dewek seurunge.
“Eni, ko dadi pocongan bae apa dadi kuntilanak? Ko manggone nang mburi wit pelem ya. Anteng bae, nek pengin improvisasi kaya suara memedi ye orapapa. Palahane jos gandos!!”, jere Indro sing pancen dadi pratama nang bantara sekolahe nyong. Neng ati nyong jerit seseru-serune , Masyaalloooh kepriye iki suara medi ye kaya ngapa, nyong kon improvisasi kaya ngapa. Nang mburi wit pelem? Nek malah memedine metu temenan nyong bakal ngompol kiye. Masa selama kurang lewih 3 jam nyong ngadeg dewekan nang mburi wit pelem pas tengah wengi. Nunggoni adek kelas liwat ye gemeter dewek malah. Duh gusti Allooooohhh ...
“Heh!! Eni!! Wani apa ora? Masa bantara ora wani? Le gemiyen koe kepriwe nggole melo jurit malam?”,takone Indro.
“Emmm eh anu ... nyong lagi lara pas lagi Jurit malam. Dadine ora ngerti.”,jawabe nyong ndap-ndep kaya ketek ditulup.
“Le pas pelantikan Bantara?”
“Ih ko ka kepo temen si ya ndrooo...”,jawabe nyong nggo ngalehna pitakonane Indro.
“Lhoooo bebas. Ko mesti ora melo ye? Bocah ka kecinge ndeles. Diweruhi medi temenan leh ndais.”
“Ko ka jahat temen ya ndrooo. Malah ndongakna kaya kue? Pas pelantikan nyong kan lagi mudik nang kampung, dadi ora bisa mangkat. Nyong juga wis ijin ka.”,jelase nyong marang Indro. Pancen si alesane sekenane pikirane nyong. Jane ye anu ora wani mangkat, gelem-gelem semaput ndisit nembe diundang jenenge kon maju rute. Kebukak kabeh iki kedoke nyong. Gara-gara Indro.
“Terus kepriwe koe? Garep melo apa ndekem bae neng umah?”
“emmm anu kae ... anu laah.”
“Anu apa En? Nek ko wani, medi kue bakal ngadoh. Malah ngrewangi ko ben wani. Tapi nek ko wedi, medi kue malah dadi seneng banget lan malah meden-medeni ko. Iki bisa dadi ajang latiane ko lho. Dadi ko ngerti kemampuane ko. Seurunge kiye ko ora tau nyoba kan? Kepriwe bisa ngerti ko wani apa ora? Ayo dong lawan rasa wedine ko.”,Indro ngomong sedawan-dawan.
Jebule ana bocah lanang kelase nyong sing krungu nyong bakal mangkat meden-medeni. Kambi pada lewat nang ngarepe nyong, pada ngguyu ngakak ngasi kepingkel-pingkel kaya anu lucu banget krungu nyong arep meden-medeni. “Eni ka kon meden-medeni. Nyong pasang sepuluh ewu nek Eni bali ora ndadak semaput!”. Nyong sing krungu kaya kue rasane mangkel banget, pengin tok keplak ndase kue bocah ngasi ngajaki batire taruhan nyong. Kurang gawean pancen ka.
“Nyong pasang sepuluh ewu juga nek Eni baline ora diculik wewe gombel. Hahaha”,seuwise pada ngomong sekepenak gundule dewek, bocah lanang telu kue ndelengna nyong kabeh. Nyong langsung ngerti, iki bocah-bocah mesti ngenteni jawaban tekan nyong. Gengsine nyong tukul gara-gara nggo taruhan batir sekelase nyong, iki udu masalah wani ora wani maning. Tapi iki masalah harga dirine nyong.
“I..ii..iii..iyaaa... nyong melo ndro. Nyong pan jajal.”,jawabe nyong kegagap-gagap.
“Naah kaya kue li. Kudu mangkat lho. Tok enteni. Nek ora, ko dipecat dadi bantara.”
“Ndro, kabari dewek ya nek Eni semaput apa digondol wewe gombel. Hahaha”
Wengine, nyong ora bisa turu mikirna ngesuk nasibe nyong gapen dadi apa. Sukur-sukur nek nyong bisa ngadeg nang mburi wit pelem selama 10 menit. Nek urung ana 5 menit wis semaput si kepriwe ya. Tapi bisa ora bisa kudu bisa. Ibarate pejuang jaman gemiyen ye “Mati seurunge perang!!!” utawa “Menang utawa mati!!!”. Nah nyong kudu bisa menang. Isin dong kambi pejuang gemiyen. Masa mung kaya kiye nyong wis mati , eh kalah disit. Bismillah , ngesuk isuk-isuk nyong gapen njaluk jampi-jampi marang simbah ben ora diganggu demit wit pelem. Siki turu ben ngesuk seger. Kan eman-eman banget wis melo bantara 2 tahun, ibarate gari pensiune jabatan bantara malah wis dipecat. Oh nooooooooo!!! Eman-emane nganggo banget, ora eman-eman saja. Berarti nyong kudu perang nglawan rasa wedine nyong.
Isuk-isuke nyong kelalen njaluk jampi-jampi marang simbah. Asale nyong tangi kawanen gara-garane mbengine ora bisa turu kepikiran wedine nyong. Nyong kepuntal-puntal maring sekolah karo rupa sing ora seger. Jam pertama ulangan nanging nyong mlebu telat, ulangan wis nang tengah-tengah. Ora ana wektu tambahan nggo nyong. Wis untung nyong esih bisa melo ulangan. Nek ora nyong bakale ulangan dewek nang ruang guru.
Sorene nyong ora bali disik marang umah, nyong nggolet properti nggo dadi medi mengko wengi, nggolet peralatan sing kurang nggo persami. Ngasi wengi nyong sibuk ngurusi out bond adek kelas ngasi wengine api unggun seneng-seneng. Nah pas tengah wengine nyong wis mulai dag dig dug atine ora genah-genah. Kringete gemrobyos neng kabeh awak. Kringet anyes pada mili lan rupane nyong dadi pucet njlecet. Sing sadar perubahan rupane nyong ya mukur Indro. Kayane kae nggatekna banget nyong sida melo apa ora.
“Ko orapapa mbok En? Sida melo ora?”,takone Indro.
“Iya sida. Nyong orapapa. Ngene kostum’e nyong mangkat disik ya.”,nyong jawab kambi ngelonyor lunga mumpung ana batire si Retno gapen maring panggonan sing wis disepakati. Nyong wis gutul wit pelem, Retno lunga maring tengah sawah ninggalaken nyong dewekan. Kambi ngenteni adek-adek kelas sing ora lewat-lewat. Nyong njegong nang ngisor wit pelem.
“Assalamu’alaikum mbah ... bismillaahirrahman nirrahim. Kulo mboten ajeng ngganggu. Numpang mbaah .. numpang.”,kambi gemeteran nyong njegong kambi ngeling-eling omongane Indro begen wani. Kambi nyanyi neng jero ati, ora krasa wis ana sorot lilin kang adohan kambi suara gemrisik.

“Kue mesti adek kelas.”,omonge nyong nang jero ati. Nyong siap-siap meden-medeni, nyong ngadeg lan nirokake suara kuntilanak. Asale kostum sing tok enggo kuwi daster putih dawa lan rambute nyong dirembyang semrawut ora genah. Raine nyong uga dipupuri putihe eram kaya badut. Wis nirokke suara kuntilanak semirip-miripe, nyong berhasil. Adek kelas mlayu kebancang-bancang kambi jerit-jerit kaya kucing kejepit. Nyong dadi ngguyu ndeleng tingkahe menungsa sing tok weden-wedeni kue.tapi nek dipikir-pikir, kue kaya sikape nyong nek lagi diweden-wedeni batir-batir kelas. Jebule pancen kepenak ya ngledeki,meden-medeni wong. Nyong siki ngerti senenge batir-batir weruh nyong kaya kue. Tapi sing gawe nyong kaget seuwise kegiatan persami, jebule nyong wani ngadeg dewekan nang mburi wit pelem sing jere-jerene angker. Untung bae nyong ngerti wit pelem kue angker seuwise dadi medi, nek urung, mesti nyong malih dadi medi amarga pucet njlecet kambi mampu pesing gara-gara ngompol neng katok. Alhamdulillah... jebule rasa wedi kue bakal ilang nek dewek bisa nglawan rasa wedi kue. Nek urung dijajal, aja ngomong ora bisa. Seorane dewek wis tau njajal. Siki batir-batir pada sebel amarga nyong ora keweden maning nek dituduhna gambar setan apa diweden-wedeni rupa setan. Syukur ya!!

Ini hati, Bukan Yang Lain

Aku berbicara perihal hati. tentang apa yang selalu merasakan berbagai rasa. apapun rasa yang diciptakan olehmu, olehnya dan oleh mereka. semua dirasakan kali ini. tentang bagaimana aku mengungkapkan yang sudah tidak dapat lagi aku simpan.untuk menangis, kurasa aku sudah tak sanggup. karna mungkin untukmu, air mataku sudah menjadi hal biasa yang tiada artinya.

Hati. Bukan sesuatuyang bisa disamakan dengan apa yang sepele. Hati. bisa merasakan. bukan patung yang hanya diam dalam keadaan apapun. panas hujan hanya terdiam. bukan, hati bisa merasakan.

Ini hati, bukan dufan. Kalau kamu ingin bermain-main, jangan dengan hatiku.
Ini hati, bukan permen karet. Yang habis manis sepah dibuang.
Ini hati, bukan payung. Yang digunakan disaat butuh saja.
Ini hati, bukan daging. Tidak untuk disayat-sayat, perih.
Ini hati, bukan terminal. Jangan buat singgah begitu saja.
Ini hati, bukan ftv. Kalau mau drama, jangan dengan hatiku.
Ini hati, bukan balon. Jangan diambang-ambangin terus.
Ini hati, bukan bayangan. Yang ada tapi tidak pernah dianggap dan diperdulikan.

Kalau memang kamu tak mengerti tentang hati, apakah hatimu terbuat dari batu? setiap manusia memiliki hati nurani, sejahat apapun manusia pasti ada sisi baiknya. Kamu .. pasti mengerti.

Senin, 14 April 2014

apology monthsary

Gnight dear,to our half-year relationship. maybe some really heavy this time for us. each with selfish and maybe I'm the wrong position more now. honey, if this relationship is no longer interesting for you as I do, guide me to the happy early days yet. where I do not pay attention to others. and remain glued to the liver. yes, you are. my apology came along with my gratitude for the past six months. thank you for the sweet video and I'm sorry. for whatever happens. or for someone who comes. <3


selamat malam ke setengah tahun hubungan kita sayang. mungkin beberapa waktu ini sungguh berat untuk kita. masing-masing dengan egoisnya dan mungkin aku yang lebih banyak menempati posisi salah kini. honey, jika memang hubungan ini tak lagi menarik untukmu seperti yang aku rasakan, tuntun aku ke masa awal bahagia dulu. dimana aku tak memperhatikan yang lain. dan tetap terpaku pada satu hati. ya,kamu. permintaan maafku ini datang bersamaan dengan terima kasihku untuk enam bulan yang telah lalu. terima kasih untuk video manis dan aku minta maaf. untuk apapun yang terjadi. atau untuk sosok yg datang. <3