Teman, sini
kupasangkan sayap untuk kenangan kita. Agar ia bisa terbang,menjauh dariku dan
dari fikiranku.Jujur saja, aku terlalu lelah untuk mengingat setiap kenangan
yang memang tak pernah bisa kulupakan. Tiga tahun, bukan waktu yang sekejap.
Untukku, bukan masalah bagaimana memperlakukan. Tapi perihal
menghargai. Aku menghargaimu, walau kau sudah benar-benar berada dalam lingkup
yang sangat dekat dengan kekerabatanku. Kamu, lebih dari sekedar seorang teman
untukku. Kamu, yang selalu kuperlakukan baik dan selalu menjadi nomor satu
ketika aku ditanya. “Sahabatmu?”. Apa aku terlalu buruk untukmu? Dan
perlakuanku padamu kurang menyenangkan selama ini hingga kamu dengan mudahnya
melepasku. Melepas kenangan kita yang dibilang cukup lama. Untuk waktu itu, aku
merasa singkat. Atau, apa karena kamu memiliki banyak teman yang lain? Seperti
kilas balik yang lalu, kau sering meninggalkanku dan melupakanku untuk
kebahagiaan yang baru kau temukan. Sering kali dan teramat sering. Ketika aku
cemburu dan merasa sepi, serta kehilangan. Aku mencari-cari, pada siapa aku
harus mengadu agar kamu mengerti. Social media. Satu-satunya media agar kamu
menyadarinya dan kamu tau kesepian yang melandaku. Kesedihan yang melanda aku
yang terlupakan. Namun betapa kecewanya aku, ketika kamu tak peduli satupun
dengan semua sindiran yang aku tulis. Aku harus bagaimana? Aku tidak ingin
menyakiti hatimu dengan menanyakan langsung padamu. Bagaimana aku harus
mengungkapkan bahwa aku tidak ingin dilupakan? Bukannya aku melarang dan
membatasimu berteman. Temanmu bukan hanya aku, aku bukan segalanya dan kamu
memang memiliki banyak yang perduli dengamu. Tapi tidak denganku, aku yang
tidak mudah cocok dengan seseorang. Dan mungkin aku yang tidak mencolok untuk
mereka-mereka yang memang tidak ingin berteman denganku.
Dan lagi. Betapa irinya aku, dan bertanya-tanyanya aku
ketika kamu hanya beberapa menit memasang foto bersamaku. Tapi bisa
berhari-hari memasang foto bersama teman yang lain di social media atau chat.
Apakah kamu malu berteman denganku? Pertanyaan itu yang kulontarkan padamu.
Begitu aku tidak tahan dengan segala gundah gulana dan hati yang meluap-luap
ingin mengungkapkannya padamu. Tapi dengan jawaban yang menggantung kamu
bertanya balik. “Kenapa?” dan aku tidak mendapat jawaban yang sebenarnya.
Sampai saat inipun, aku masih bertanya-tanya, apakah aku terlalu memalukan
untukmu?
Sikap baikku kau anggap menakutkan. Kecewa sedalam-dalamnya
kecewa mendengar kata itu. Sikap baik yang kulakukan padamu kau anggap
mengerikan, apa sikapku kau anggap tidak tulus dan mengharap balas budi? Aku
tidak pernah sedikitpun menyinggung hal-hal yang pernah kulakukan atau
kuberikan padamu. Aku bersikap baik pada orang yang kusayang. Wajarkah aku
memperlakukan baik pada orang yang memang berarti dalam hidupku? Betapa
sakitnya mendengar kata-katamu.
Tidak ingin melihat mukaku lagi. Sebegitu marahnya kamu? Apa
selama ini aku harus mengungkapkan seperti apa yang kamu ungkapkan? Aku selalu
memendam dan merasakan amarah sendiri. Menangis dan menahan semua kesakitan
agar hubungan kita tidak menjadi renggang. Satu-satunya jalan dan satu-satunya
tempat yang bisa kutumpahkan segala amarahku hanyalah social media. Siapa lagi?
Kamu pasti mengerti bahwa aku tidak mudah percaya dengan orang lain, orang lain
yang mungkin hanya ingin mengerti dan tidak peduli. Orangtua yang memang tidak
seperti orangtua lainnya. Aku harus bersikap bagaimana? Aku tidak mengerti. Apa
aku salah meluapkan perasaan dalam tulisan. Tulisanlah satu-satunya yang bisa
membuatku sedikit lega. Tapi, mengapa karena masalah itu kamu sampai-sampai
tidak ingin melihat wajahku lagi? Hinakah aku dihadapanmu? Apa permintaan
maafku dan air mataku tak ada artinya untukmu? Bahkan kamu tidak meneteskan
setetes air matapun dihadapanku. Ketika hanya kita berdua yang berbicara, aku
yang memohon mencoba memperbaiki hubungan kita. Aku yang sedang berusaha
menyambung tali yang hamper terputus. Memandangku pun kamu acuh tak acuh.
Susah ngomong sama orang pintar. Aku bukan orang pintar. Aku
tidak sepertimu yang pintar mencari teman. Aku tidak pintar berbicara. Aku
hanya mengatakan apa yang harus aku katakan. Pernahkah aku berkata yang tidak
sebenarnya padamu? Tidakkah kebalikannya? Aku yang selalu dibohongi dan aku
yang selalu dibodohi? Kepada kamu, aku selalu terbuka dan berbicara jujur.
Everything and anything. How about you?
Terus aja jelek-jelekin aku. Di depan pacarmu kamu bilang.
Jika aku pernah menjelek-jelekkan kamu di depan pacarmu atau orang lain, untuk
apa aku selalu menutup-nutupi apa yang kamu suruh dan apa yang sedang kamu
perbuat. Tanyakan saja pada pacarmuatau orang lain jika aku pernah
menjelek-jelekkanmu. Tanyakan saja pada orangnya. Dan jika boleh aku bertanya,
kamu bilang banyak, bisakah kamu sebutkan siapa saja dan apa saja yang aku
jelek-jelekkan?
Hey sayang, open your eyes! Open your heart! Jangan gunakan
egoism sendiri. Persahabatan itu perihal keegoisan, pengertian, dan kepedulian.
Kamu bilang aku egois. Girl, pernahkah kamu mengalah jika kita menyukai benda
yang sama? Pernahkah aku memaksakan kehendak jika kita berbeda pendapat? Jika
iya, kapan dan apa itu? Pengertian. Aku selalu mencoba mengerti, mengerti jika
tidak hanya aku teman baikmu. Dan tidak setiap waktu kamu harus bersamaku. aku
juga mencoba mengerti jika orang yang sedang aku musuhi , tiba-tiba terlihat
bersamamu. Aku mencoba mengerti pula bahwa seseorang yang pernah aku sayangi,
menjadi milikmu. Aku mencoba mengerti semua itu dan mungkin masih banyak lagi
hal yang aku sendiripun tidak sadar. Karna apa? Karna aku tulus. Kepedulian.
Sakitmu juga aku rasakan, begitu juga sedihmu, aku merasakan. Tidakkah ada
artinya saat kamu sakit, aku datang dan membantu mengerjakan tugasmu. Hujan pun
aku belakan untuk datang. Ingatkah saat aku pulang hujan mengguyur deras, dan
aku tidur diluar karna tidak dibukakan pintu oleh ibuku? Dan esoknya aku harus
mengikuti uts di sekolah. Apakah hal itu sudah terlupakan dalam memori
ingatanmu? Tidakkah disebut peduli saat aku memelukmu yang menangis karna patah
hati dalam hujan di depan rumahku? Dan tidakkah pantas disebut tak peduli saat
mantel kupakaikan padamu saat hujan dan aku tak memakainya? Mungkin memang itu
semua hanya hal sepele, tapi sudah mencerminkan kepribadianku sayang. Bagaimana
mungkin selama tiga tahun kau tidak bisa memahami kepribadianku? Bahkan aku
sudah benar-benar paham kepribadianmu.
Pernahkah kamu datang padaku? Pernahkah kamu mengajakku
jalan terlebih dahulu? Pernahkah kamu meminta bantuanku? Pernahkah kamu
mendatangiku ketika aku mendiamkanmu? Selalu dan selalu aku yang datang padamu.
Apa kamu tidak membutuhkanku? Apa aku terlalu tidak dibutuhkan untukmu? Aku.
Ingin menjadi arti untukmu. Kamu. Yang kuanggap sebagai sahabatku.
Tahun baru. Bukankah sudah dua kali perhitungan akhir tahun
kulewatkan bersamamu? Apa kamu ingat kata-katamu padaku? “Semoga tahun-tahun
berikutnya kita kaya gini terus ya…” apa kata-kata itu hanya sekelebat saja
dalam fikiranmu? Mengucap tanpa memiliki arti? Aku, masih percaya, bahwa siapa
saja yang bersama saat hitung mundur, mereka akan bersama selamanya. –FRIEND’s
(Thailand Movie)
Bukankah kita melewati banyak hal? Bertukar segalanya dan
berbagi segalanya? Kita sudah melewati hal-hal gila bersama kan? Senang,sedih,
tawa,tangis,amarah. Kita sudah merasakan semuanya bersama. Apa benar segini
saja cerita kita bersama? Entah seberapa lama kita seperti ini, sebesar apa
marah kamu padaku, dan sekukuh apa kamu tidak ingin melihat wajahku lagi,
setidaknya aku pernah mencoba memperbaiki dan membuang segala gengsiku. kamu
tetap sahabatku. Sampai kapanpun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar