Bila memang ada yang
membuatku pergi, aku akan pergi, bukan karena kesalahan yang kau perbuat.
Tiada gading yang tak retak, tak ada hal yang tidak ada
kesalahan. Seperti itu lah kamu, pun aku. Manusiawi jika kesalahn tak pernah
luput mengejar kita. Kesalahan yang kau perbuat memang tak pernah lepas dari
amarahku. Namun sadarkah kau jika aku bertahan dengan kesalahan yang kau
perbuat? Karna aku tersadar, bahwa aku pun tak kunjung benar dan ada kalanya
berbuat salah. Kesalahanmu pun aku selalu saja menjadi alas an goncangan
hubungan kita. Ini perihal bagaimana kita menyikapi dan bertahan. Karna yang
gagal bertahan, ia lah yang tidak benar-benar memperjuangkan. Bukannya sok
bijak atau terlihat dewasa, aku hanya mengutarakan apa yang aku jalani dan aku pikirkan. Karna aku
pernah merasakan dan melihat, dua orang yang memang tidak cocok satu sama lain
namun tetap berjalan beriringan hingga semuanya tidak berjalan lancer dan tidak
berjalan satu tujuan. Ya, tak usah jauh-jauh, aku merasakannya sendiri dalam lingkup
kehidupanku. Aku ingin bertanya, sayang, kita cocok dan kita satu tujuan kan?
Kamu memilihku, dan aku menerimamu. Itu artinya kita cocok dan selama hubungan
ini berjalan, tak ada pendapat yang terlalu jauh dengan perbedaan. Kita satu
tujuan. Kita sama-sama ingin membahagiakan. Kita sama-sama mengucap ‘sayang’.
Semoga itu kebenaran. Karna sesungguhnya aku menyayangimu dan akan
memberitahumu jika kau salah. Bukan malah menggunakan kesalahanmu sebagai alas
an untuk pergi. Karna kesalahanmu adalah kesalahan terbesarku sebagai kegagalan
membimbingmu.
Untuk kali ini, semakin meluasnya kamu dengan social,
curigaku semakin bertambah dan mengeluarkan banyak pertanyaan. Namun aku selalu
meyakinkan diri, ah semoga saja rindumu jauh lebih banyak dibanding dengan curiga
yang muncul di otakku. Fatamorgana yang tak pernah habisnya, membayangkan aku
yang tersakiti karna ulahmu nanti. Tapi untuk menakuti hal yang belum pasti
terjadi, itu bodoh. Namun berjaga-jaga untuk hati. Bimbang memang. Apalagi
dengan sikap yang ternyata friendly whatever people. Tau kah kau curiga tetap
sama saja menghantuiku setiap waktu? Dalam pikiranku, kamu yang selalu saja
datang dan tak henti hentinya singgah dalam pikiranku. Tentu saja bersama
curiga. Bukankah cemburu, adalah tanda ketika kehilangan menjadi hal yang
menakutkan. Dengan air mata yang hampir jatuh di pelupuk matamu, sudah
meyakinkanku bahwa kau memang khilaf dari kesalahanmu. Kesalahan yang tak sadar
membuatku sepi. Memang, hal terberat adalah orang lain. Orang lain yang juga memiliki
peran dalam penghancur hubungan. Aku hanya takut, orang lain lebih terlihat
menarik di matamu dibandingkan aku. Aku hanya takut, orang lain lebih bisa
membuatmu tersenyum dibandingkan aku. Aku hanya takut, posisiku tergantikan
oleh orang lain. Segala rasa takut ketika ku lihat kau tersenyum lebih riang
dengan orang lain dibandingkan denganku. Bukan, aku bukan ingin serakah. Aku
juga bahagia jika kamu tersenyum selain denganku. Tapi, inikah termasuk rasa
cemburu? Mengertilah cemburuku karna kusayang kau lebih dari siapapun. Dan
mengertilah kau milikku dan hanya milikku saat ini dan selama apa yang aku
bisa. –Sekar Aninda 17yo
Nb : Panggilan sayang untuk orang special, jika yang lain
melakukan hal sama, tidak special lagi bukan? Jadi,bukan untuk ditiru.
Mengertilah :) ;)