Senin, 13 Oktober 2014

THINK BOY!!!!

Untuk dia, aku pernah menjadi lebih baik. Tapi karenanya pula, aku menjadi lebih buruk.
Untuk dia, aku mengorbankan yang dulu teman-temanku setiap hari menghujatku karena tidak mengikhlaskanku bersamanya. Tapi dia tak menyadarinya.
Untuk dia, aku memendam segala Maluku pada teman-temanku. Tapi dia tetap saja membuatku malu. Menyeretku pergi dari kumpulan teman-temanku, mencampuri urusanku dan teman-temanku, berbicara kotor di media social dan bertindak bodoh di depan teman-temanku.
Untuk dia, aku rela merelakan yang mencintaiku, yang menyayangiku dan yang mengagumiku pergi jauh-jauh dan tidak menyukaiku lagi. Tapi dia tak menghargai yang kurelakan.
Untuk dia, aku mengabaikan rasa lelahku bersamanya. Tapi dia dengan mudah mengatakanku egois.
Untuk dia, aku melakukan semua hal itu sendiri setiap harinya. Tapi dia dengan mudahnya menyimpulkan hal yang bodoh.
Untuk dia, aku mencoba bertahan diatas ketidak baikan sikap teman-temannya. Tapi dia sekali lagi tak menyadari itu.
Untuk dia, aku tidak pedulikan bagaimana perilaku keluarganya. Tapi dia mengabaikannya.

Apa yang kulakukan selama ini, dan tidak pernah kuungkapkan, semata-mata untuk tetap menjaga hatinya. Tetapi ternyata salah, harusnya aku mengungkapkan agar dia sadar dan tidak semudah itu menyimpulkan. Untuk apa selama ini aku menjadi lebih buruk karenanya. Karena aku tau, percuma jika baik dan buruk itu seimbang. Tuhan tak akan menerimanya. Kamu harus menjadi baik atau menjadi buruk sekaligus. Itu pilihanku. Untuk apa selama ini aku mencoba menutup mataku telingaku dan membekukan hatiku padahal setiap hari hujatan tak pernah selesai dimanapun aku berada. Kenapa? Karena aku memilih bersamanya. Mudah saja menghilangkan cacian itu, harusnya dari dulu aku tidak memilih bersamanya. Tapi lihat, apa yang kupilih. Untuk apa selama ini aku memendam segala malu_ku padahal dia tidak henti-hentinya bertindak hal yang memalukan tanpa dia sadari keberadaan situasi dan kondisi yang terjadi. Untuk apa selama ini aku rela menghilangkan,mengacuhkan pengagumku untuk dia seorang. Tidak melayani pengagum dan tetap berpaku padanya. Tidak mudah mencari pengagum, itu butuh modal. Dengan bagaimana aku bersikap, bagaimana aku berpakaian, bagaimana aku menghambur di tempat yang oke, bagaimana aku harus mendekatkan diri pada hal yang menarik perhatian. Tidak mudah boy! Untuk apa selama ini aku mengabaikan rasa lelahku. Ketika aku naik gunung berangkat dengan hangat tapi memilih dingin untuk dia. Ketika aku semalaman lebih tidak tidur dengan menumpuknya tugas organisasi dan pergi menemuinya di luar kota ternyata hatiku dibuatnya hancur lebur berantakan dengan mengendarai sendiri dan dalam keadaan tubuh meronta-ronta meminta istirahat karna kegiatan sekolah semalaman suntuk. Tapi hal itu berlalu begitu saja dimatanya. Untuk apa selama ini aku memendam semua itu dan tidak mengeluh atau menceritakan padanya. Aku tak mau mimpinya pecah. Aku tak mau dia berkecil hati. Tapi ternyata aku salah. Untuk apa selama ini aku memendam bagaimana sikap teman-temannya diam-diam menyakiti dan mengiris-iris hatiku. Aku tak ingin hubungannya dan temannya berantakan karena sakit hatiku yang tidak penting. Untuk apa selama ini aku diam menahan perih hatiku ketika aku merasa keluarga seutuhnya tidak menerimaku dengan baik. Apalagi jika dibandingkan keluargaku yang friendly,easy going dan care dengannya. Apalagi jika dibandingkan dengan keluarga mantan-mantanku yang sangat menghormatiku dan menghargaiku. Sangaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaat bertolak belakang. Dan semua itu kulakukan hanya untuk mendapatkan kesimpulan darinya bahwa aku hanya “Main-main” dengan hatinya. Aku selalu saja heran, mengapa dia selalu bertindak tanpa pemikiran yang panjang. Apa  dia benar-benar berpikiran dangkal? Kenapa logikanya tidak pernah jalan? Dan kenapa dia malah bertanya padaku, “Semudah itu kamu mengambil keputusan?”. Ya Tuhaaaaannn!!!!!! Aku mengambil keputusan dengan pemikiran yang matang. Karena aku sudah terlalu lelah untuk hal-hal yang tadi. Aku sudah terlalu lelah merasa sakit. Aku tidak mengerti mengapa Cinta memang tak melulu tentang bahagia, tapi ini tidak adil! Seolah-olah hanya aku yang merasa sakit setiap hari karena hujatan orang, seolah-olah hanya aku yang tidak diterima di keluarganya, seolah-olah hanya aku yang kehilangan banyak teman, seolah-olah hanya aku  yang kehilangan pengagum. Kenapa hanya aku?! Dan kenapa dia hanya bisa menimbulkan masalah?! Semudah itu menyimpulkan aku hanya “Main-main” setelah apa yang kulakukan selama ini, harusnya impas bukan jika aku juga mudah menyimpulkan “Kita berakhir” setelah apa yang dia katakana. THINK BOY!!!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar