Untuk dia, aku pernah menjadi lebih baik. Tapi karenanya
pula, aku menjadi lebih buruk.
Untuk dia, aku mengorbankan yang dulu teman-temanku setiap
hari menghujatku karena tidak mengikhlaskanku bersamanya. Tapi dia tak
menyadarinya.
Untuk dia, aku memendam segala Maluku pada teman-temanku. Tapi
dia tetap saja membuatku malu. Menyeretku pergi dari kumpulan teman-temanku,
mencampuri urusanku dan teman-temanku, berbicara kotor di media social dan
bertindak bodoh di depan teman-temanku.
Untuk dia, aku rela merelakan yang mencintaiku, yang
menyayangiku dan yang mengagumiku pergi jauh-jauh dan tidak menyukaiku lagi. Tapi
dia tak menghargai yang kurelakan.
Untuk dia, aku mengabaikan rasa lelahku bersamanya. Tapi dia
dengan mudah mengatakanku egois.
Untuk dia, aku melakukan semua hal itu sendiri setiap
harinya. Tapi dia dengan mudahnya menyimpulkan hal yang bodoh.
Untuk dia, aku mencoba bertahan diatas ketidak baikan sikap
teman-temannya. Tapi dia sekali lagi tak menyadari itu.
Untuk dia, aku tidak pedulikan bagaimana perilaku
keluarganya. Tapi dia mengabaikannya.
Apa yang kulakukan selama ini, dan tidak pernah kuungkapkan,
semata-mata untuk tetap menjaga hatinya. Tetapi ternyata salah, harusnya aku
mengungkapkan agar dia sadar dan tidak semudah itu menyimpulkan. Untuk apa
selama ini aku menjadi lebih buruk karenanya. Karena aku tau, percuma jika baik
dan buruk itu seimbang. Tuhan tak akan menerimanya. Kamu harus menjadi baik
atau menjadi buruk sekaligus. Itu pilihanku. Untuk apa selama ini aku mencoba
menutup mataku telingaku dan membekukan hatiku padahal setiap hari hujatan tak
pernah selesai dimanapun aku berada. Kenapa? Karena aku memilih bersamanya. Mudah
saja menghilangkan cacian itu, harusnya dari dulu aku tidak memilih bersamanya.
Tapi lihat, apa yang kupilih. Untuk apa selama ini aku memendam segala malu_ku
padahal dia tidak henti-hentinya bertindak hal yang memalukan tanpa dia sadari
keberadaan situasi dan kondisi yang terjadi. Untuk apa selama ini aku rela
menghilangkan,mengacuhkan pengagumku untuk dia seorang. Tidak melayani pengagum
dan tetap berpaku padanya. Tidak mudah mencari pengagum, itu butuh modal. Dengan
bagaimana aku bersikap, bagaimana aku berpakaian, bagaimana aku menghambur di
tempat yang oke, bagaimana aku harus mendekatkan diri pada hal yang menarik
perhatian. Tidak mudah boy! Untuk apa selama ini aku mengabaikan rasa lelahku. Ketika
aku naik gunung berangkat dengan hangat tapi memilih dingin untuk dia. Ketika aku
semalaman lebih tidak tidur dengan menumpuknya tugas organisasi dan pergi
menemuinya di luar kota ternyata hatiku dibuatnya hancur lebur berantakan
dengan mengendarai sendiri dan dalam keadaan tubuh meronta-ronta meminta istirahat
karna kegiatan sekolah semalaman suntuk. Tapi hal itu berlalu begitu saja
dimatanya. Untuk apa selama ini aku memendam semua itu dan tidak mengeluh atau
menceritakan padanya. Aku tak mau mimpinya pecah. Aku tak mau dia berkecil
hati. Tapi ternyata aku salah. Untuk apa selama ini aku memendam bagaimana
sikap teman-temannya diam-diam menyakiti dan mengiris-iris hatiku. Aku tak
ingin hubungannya dan temannya berantakan karena sakit hatiku yang tidak
penting. Untuk apa selama ini aku diam menahan perih hatiku ketika aku merasa
keluarga seutuhnya tidak menerimaku dengan baik. Apalagi jika dibandingkan
keluargaku yang friendly,easy going dan care dengannya. Apalagi jika
dibandingkan dengan keluarga mantan-mantanku yang sangat menghormatiku dan menghargaiku.
Sangaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaat bertolak belakang. Dan semua itu kulakukan hanya
untuk mendapatkan kesimpulan darinya bahwa aku hanya “Main-main” dengan
hatinya. Aku selalu saja heran, mengapa dia selalu bertindak tanpa pemikiran
yang panjang. Apa dia benar-benar
berpikiran dangkal? Kenapa logikanya tidak pernah jalan? Dan kenapa dia malah
bertanya padaku, “Semudah itu kamu mengambil keputusan?”. Ya Tuhaaaaannn!!!!!! Aku
mengambil keputusan dengan pemikiran yang matang. Karena aku sudah terlalu
lelah untuk hal-hal yang tadi. Aku sudah terlalu lelah merasa sakit. Aku tidak
mengerti mengapa Cinta memang tak melulu tentang bahagia, tapi ini tidak adil! Seolah-olah
hanya aku yang merasa sakit setiap hari karena hujatan orang, seolah-olah hanya
aku yang tidak diterima di keluarganya, seolah-olah hanya aku yang kehilangan
banyak teman, seolah-olah hanya aku yang
kehilangan pengagum. Kenapa hanya aku?! Dan kenapa dia hanya bisa menimbulkan
masalah?! Semudah itu menyimpulkan aku hanya “Main-main” setelah apa yang
kulakukan selama ini, harusnya impas bukan jika aku juga mudah menyimpulkan “Kita
berakhir” setelah apa yang dia katakana. THINK BOY!!!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar