Selasa, 30 September 2014

BAD DAY OR BAD LIFE?

Apakah aku salah Tuhan, jika aku menanyakan apa yang salah dengan hidupku? Atau menanyakan apa yang salah dengan diriku? Mengapa tak menjadi mudah dan lancer aku menghadapi hidupku? Mengapa selalu ada sandungan yang mempu membuatku jatuh? Dan jika aku jatuh, mengapa tak ada yang mengulurkan tangannya untuk sekedar menggenggam erat tangan lenganku atau memeluk pundakku? Mengapa selalu ada yang berhasil membuatku menumpahkan semua air mataku? Dan ketika tumpah air mataku, mengapa tak ada yang sekedar mengusapnya dari pipiku atau menghilangkannya dengan lengkungan senyum di bibirku? Apa yang salah dengan hidupku? Apa yang salah dengan aku? Apa yang salah dengan sekitarku?
Untuk menyadari apa aku masih termasuk kuat atau tidak kuat dalam menjalani hidupku yang ku rasa berat ini, bahkan aku tak mengerti. Menjawab sanggup atau tidaknya aku untuk menahan tangisku, aku pun tidak mampu menjawabnya. Aku sudah terlalu lelah… bahkan jika aku membuat kopi tanpa gula atau menyeduh brantawali dengan kopi tanpa gula, kurasa sudah tidak membuatku merasa pahit. Jika dibandingkan dengan hidupku yang kurasa sudah melebihi dari rasa pahit. Untuk alasan mengapa aku menuliskan seperti apa yang kutuliskan, mungkin memang ada yang lebih pahit dari ini. Tapi untukku, untuk kemampuanku, seperti ini lah yang sudah membuatku mampu menggambarkan apa itu pahit.
Sekali lagi, hal yang tidak suka aku ceritakan, namun harus bagaimana untuk membuatku tenang dan merasa tidak sendirian jika bukan “Social Media”. Apa yang maya, tetapi bagiku seperti nyata. Ketika orangtua ku bahkan sudah tak memperdulikanku. Lelah dalam kegiatan organisasi di sekolah, bukan dengan halus menawariku makan, tetapi membentak menuduh untuk kegiatan tidak baik di luar sekolah. Ketika sebelumnya tubuh dilanda lelah dan jatuh sakit, tidak ada satupun pertanyaan “Kenapa” ataupun menengokku ke kamar dan memegang dahiku yang panas, tapi justru malah mengabaikanku. Sebegitukah tidak berartinya aku? Sesepele itu kah sakitku? Aku tidak mempermasalahkan seberapa aku memeriksakan diri sendiri dan membeli obat dengan uang sendiri. Toh itu bukan aku sendiri yang menghasilkan uang. Tapi,sebegitu tidak inginnya uangmu berkurang untuk kesembuhan darah dagingmu? Padahal aku tidak pernah menuntut lebih seperti anak-anak lain pada umumnya. Yang meminta dibelikan ini itu, dan itu harus terturuti. Aku ingin seperti itu. Tapi, aku saja yang tidak menuntut seperti itu, sudah tidak diperdulikan dan diperlakukan seperti bukan anak. Apalagi jika aku menuntut seperti itu, dibuangkah aku? Aku mengerti, Tuhan yang punya rencana.
Teman tiga tahun, yang seharusnya menjadi keluarga, bahkan setengah hari pun aku tidak pernah merasa betah bersama dengan mereka. Bahkan sakit hingga tiga hari, ketika berangkat tidak ada yang menanyakan kenapa aku. Ah, begitu saja. Sakit sampai di rumah sakit pun tidak ada yang menjenguk, apalagi sakit tidak penting hanya tiga hari. Tidak ada artinya. Dan aku memang tak  pernah ada artinya untuk mereka. Jadi untuk apa aku membuang-buang air mataku untuk hal yang tidak pernah menganggapku ada. Bahkan guru yang kurasa lebih berpendidikan dan mampu menyelesaikan apa yang terjadi, memegang penuh atas seluruh anak, ikut saja membuatku merasa sakit. Mungkin mereka kira aku tidak punya hati. Sebegitu hinanya aku?

Hey God, it’s just bad day not bad life yeah? It’s true or not oh God? I’M TIRED!!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar