Apakah aku salah Tuhan, jika aku menanyakan apa yang salah
dengan hidupku? Atau menanyakan apa yang salah dengan diriku? Mengapa tak
menjadi mudah dan lancer aku menghadapi hidupku? Mengapa selalu ada sandungan
yang mempu membuatku jatuh? Dan jika aku jatuh, mengapa tak ada yang
mengulurkan tangannya untuk sekedar menggenggam erat tangan lenganku atau
memeluk pundakku? Mengapa selalu ada yang berhasil membuatku menumpahkan semua
air mataku? Dan ketika tumpah air mataku, mengapa tak ada yang sekedar mengusapnya
dari pipiku atau menghilangkannya dengan lengkungan senyum di bibirku? Apa yang
salah dengan hidupku? Apa yang salah dengan aku? Apa yang salah dengan
sekitarku?
Untuk menyadari apa aku masih termasuk kuat atau tidak kuat
dalam menjalani hidupku yang ku rasa berat ini, bahkan aku tak mengerti.
Menjawab sanggup atau tidaknya aku untuk menahan tangisku, aku pun tidak mampu
menjawabnya. Aku sudah terlalu lelah… bahkan jika aku membuat kopi tanpa gula
atau menyeduh brantawali dengan kopi tanpa gula, kurasa sudah tidak membuatku
merasa pahit. Jika dibandingkan dengan hidupku yang kurasa sudah melebihi dari
rasa pahit. Untuk alasan mengapa aku menuliskan seperti apa yang kutuliskan,
mungkin memang ada yang lebih pahit dari ini. Tapi untukku, untuk kemampuanku,
seperti ini lah yang sudah membuatku mampu menggambarkan apa itu pahit.
Sekali lagi, hal yang tidak suka aku ceritakan, namun harus
bagaimana untuk membuatku tenang dan merasa tidak sendirian jika bukan “Social
Media”. Apa yang maya, tetapi bagiku seperti nyata. Ketika orangtua ku bahkan
sudah tak memperdulikanku. Lelah dalam kegiatan organisasi di sekolah, bukan
dengan halus menawariku makan, tetapi membentak menuduh untuk kegiatan tidak
baik di luar sekolah. Ketika sebelumnya tubuh dilanda lelah dan jatuh sakit,
tidak ada satupun pertanyaan “Kenapa” ataupun menengokku ke kamar dan memegang
dahiku yang panas, tapi justru malah mengabaikanku. Sebegitukah tidak
berartinya aku? Sesepele itu kah sakitku? Aku tidak mempermasalahkan seberapa
aku memeriksakan diri sendiri dan membeli obat dengan uang sendiri. Toh itu
bukan aku sendiri yang menghasilkan uang. Tapi,sebegitu tidak inginnya uangmu
berkurang untuk kesembuhan darah dagingmu? Padahal aku tidak pernah menuntut
lebih seperti anak-anak lain pada umumnya. Yang meminta dibelikan ini itu, dan
itu harus terturuti. Aku ingin seperti itu. Tapi, aku saja yang tidak menuntut
seperti itu, sudah tidak diperdulikan dan diperlakukan seperti bukan anak.
Apalagi jika aku menuntut seperti itu, dibuangkah aku? Aku mengerti, Tuhan yang
punya rencana.
Teman tiga tahun, yang seharusnya menjadi keluarga, bahkan
setengah hari pun aku tidak pernah merasa betah bersama dengan mereka. Bahkan
sakit hingga tiga hari, ketika berangkat tidak ada yang menanyakan kenapa aku.
Ah, begitu saja. Sakit sampai di rumah sakit pun tidak ada yang menjenguk,
apalagi sakit tidak penting hanya tiga hari. Tidak ada artinya. Dan aku memang
tak pernah ada artinya untuk mereka.
Jadi untuk apa aku membuang-buang air mataku untuk hal yang tidak pernah
menganggapku ada. Bahkan guru yang kurasa lebih berpendidikan dan mampu
menyelesaikan apa yang terjadi, memegang penuh atas seluruh anak, ikut saja
membuatku merasa sakit. Mungkin mereka kira aku tidak punya hati. Sebegitu
hinanya aku?
Hey God, it’s just bad day not bad life yeah? It’s true or
not oh God? I’M TIRED!!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar