Selasa, 22 Oktober 2013

Lingkaran Kelam, Aku ingin pergi!

Sesungguhnya dalam hatiku aku meronta. Mengalami sakit yang teramat sakit. menuju stadium akhir pada sakitku ini. Aku mengerti fisikku sehat walafiat tanpa ada suatu penyakit yang bersarang. Dan aku mengerti, bahwa sakit yang kualami ini merupakan sakit yang biasa dirasakan anak senasib denganku pada umumnya. Mungkin aku terlihat lemah,cengeng dan sejenisnya. Tapi yah, begini lah aku. Tidak setegar batu karang yang terus dihempas ombak. Aku tidak sekokoh menara saat diterjang badai. Dan aku tak sekuat sang fajar dalam menjalanka tugasnya menerangi bumi setiap harinya. Aku adalah aku. Gadis yang beranjak remaja, yang butuh kasih sayang dan perhatian yang lebih. Apalagi untuk korban retaknya sebuah rumah tangga. Air mata yang kukeluarkan mungkin tak sebanyak keringat yang bercucuran di dahi Ayahku, sang pahlawan hidupku. Dan aku tak berhak untuk menyalahkan keadaan.
Aku hanya bisa menyalahkan diriku sendiri. Apakah memang ada yang salah dalam diriku atau diriku lah yang sebenarnya salah. Keberadaanku dimanapun aku menginjakkan kaki seolah selalu salah. Ketika aku merasa salah, tidak ada yang berusaha membenarkan. Justru ketika aku mengeluarkan segala gundahku dan kuceritakan apa yang menjadi deritaku, selalu saja posisiku berujung salah. Apa iya tidak ada yang mengerti perasaan dan keadaan? Apa tidak akan ada yang mampu mendalami apa yang aku rasa? Apa yang kami para korban broken home rasakan. Aku jenuh. Suasana menjemukan yang jauh dari kata harmonis sudah membuatku muak dan ingin keluar dari lingkaran kelam ini. Lingkaran kelam yang sudah lama terjadi dan aka selalu terjadi jika aku masih berada di dalamnya. Bukankah jalan satu-satunya adalah berlari menuju cahaya di tengah kegelapan? Seakan aku dalam belenggu derita yang tidak pernah ada usainya. Kesedihan yang tak berujung jua. Aku lelah ... Aku ingin berlari menggapai hal yang tidak pernah aku dapatkan. Iya, kebahagiaan. Kejadian langka yang jarang sekali aku rasakan. Bila aku sudah berhasil menggapainya, aku tak rela untuk meninggalkanya atau melepaskannya. Sekalipun aku tidak rela!!! Jika harus meninggalka seseorang, aku tidak pernah ingin meninggalkan Ayahku. Jiwa tegar yang selalu berusaha kuat di depanku dan saudara-saudaranya. Jiwa bersahaja dan jiwa bijaksana di depan semua teman-temanku sebagai murid-muridnya. Aku lebih rela Ayahku membagikan kasih sayangnya pada ratusan anak daripada harus membagikan kasih sayangnya yang seolah ia limpahkan semuanya pada anak-anaknya kini dan tak menyisakan sedikitpun untukku.
aku tidak ingin ada sedikit saja celah kebencian dalam diriku pada keluargaku. Aku ingin rasa sayang yang melimpah sehingga tidak ada ruang untuk benci itu berkembang. Namun mengapa sebaliknya? Aku semakin sentimental dan aku semakin tidak peduli dengan keluargaku. Menyebar pada teman-teman dan ketidakpedulianku lagi pada pelajaran dan sekolah. Yang aku inginkan hanya lari. lari dari semua terali besi yang mecekamku. AKu ingin kebebasan dalam kejenuhan ini. Hari-hari yang membuatku merasa aku tidak pernah berharga.Apa ini bentuk dari protes dan sakit hatiku? Apa ini salah satu pembalasan atas semua luka yang aku rasakan? Yang lebih menderita adalah Ayahku, ia saja tegar. Mengapa aku begitu lemah? Aku ingin menjawabnya, aku ingin semua tau dan semua paham.
Bayangkan saja, sejak kecil, banyak hal buruk yang terjadi di depan mata kepalaku sendiri. Hingga aku beranjak remaja dan melihat sekelilingku penuh keharmonisan dan kebahagiaan yang belum pernah aku dapatkan. Haruskah aku terus saja menelan iri dan keinginan merasakannya? Haruskah aku terus berpura-pura tersenyum dengan wajah bodoh ketika orang-orang dengan tanpa dosa bertanya aku ikut siapa, bulananku berapa, alasanku tidak ikut Ayah atau Ibu, lalu mereka dengan sok'nya menasehatiku? Apalagi yang menyalahkan aku, MUAK !!!! Aku ingin berlari meninggalka ini semua. Jika boleh, aku ingin pergi. Aku ingin pamit pada semua bila aku ingin kembali saja kepadaNya. Yang akan memberikanku keluarga yang utuh di rumahNya ..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar