Rabu, 09 Oktober 2013

Bertahan Dalam Pedih

Untuk kesekian kalinya, aku menulis apa yang pernah aku alami dan mungkin memang beralur menyedihkan. Tapi, mau bagaimana lagi? Difikiranku, ini lah yang terlintas dan aku ingin bercerita denga orang lain yang membaca tulisanku ini. Tak peduli apa yang akan dikomentarnya. Aku tak peduli, yang penting, ini blog'ku dan aku bebas menuliskan apapun disini.
Hari itu siang hari yang cukup terik. Seharian aku hanya berguling-guling dan berkutat dengan bantal dan gulingku. Aku bosan, suntuk ini sudah meledak-ledak di ubun-ubun. Hingga hp'ku bergetar, ternyata teman sepermainanku. Mengeluh padaku bahwa ia baru sembuh dari sakitnya dan mengeluhkan tugas yang menumpuk dan sama sekali belum ia sentuh. Aku iba. Bagaimana jika hal itu terjadi padaku? Pasti pusing tujuh keliling dan bukanya menjadi sembuh, tapi bakal sakit lagi dan lebih parah. Emm, aku sahabatnya, aku patut untuk membantunya. Dan saat itu, cowok yang memang sedang dekat dengan sahabatku mengantarkanku dan menawarkan diri untuk membantunya. Denga senang hati, toh tenaga menjadi bertambah satu. Pekerjaan akan lebih cepat selesai. Aku tau pasti tugasnya sudah mepet, jelas saja,orang yang risau dan acak adut seperti ini pasti sedang galau memikirkan harus memulai mengerjakan tugas dari mana. Sahabat catik di depanku ini memang terlihat lebih pucat, kasihan, dia harus minum obat yang banyak dan mencicil mengerjakan tugasnnya pelan-pelan. Tepat setelah adzan ashar aku sampai di rumahnya itu. Dan akmi bertiga tenggelam dalam tumpukan tugas. Ternyata pelajaran anak SMA lebih rumit. Harus mengerti nama-nama bakteri yang asing di lidah dan susah untuk dibaca. Hem, untuk apa mereka mempelajari bakteri, padahal bakteri tidak pernah mempelajari manusia. Ihihiii, garing yah ...
Tak terasa adzan isya berkumandang, aku tersentak tidak sadar terlarut dengan tugas mulia ini telah membuaiku tidak merasakan aliran waktu begitu cepat. Terbayang sudah Mamahku yang memang sedang sensi dan kurang akur denganku membawa pentungan siap memukul kepalaku keras-keras hingga mancur darah. Jadi ingat sewaktu sekolah dasar dulu, ia membuat tanda di kepalaku dengan sebuah gelas sampai terjadi kebocoran kepala yang sebenarnya tidak bisa disebut kepala saking seringnya bocor. Padahal anak perempuan, tapi usilnya minta ampun. Sudah beberapa kali kepalaku bocor dan meninggalkan bekas sampai sekarang (masih ada kalo mau liat, ga dijahit si). Huuus, kembali ke laptop, suara adzan isya seolah-olah sudah menarik-narikku secara paksa untuk pulang, tapi sayang sekali di luar hujan dan petir menggelegar seperti badai di tengah samudra. Dan karena aku dan sahabat cowokku bukan orang kaya yang bisa jalan dengan mobil tanpa harus keanginan dan keujana, dengan sangat terpaksa kami mengurungkan niat untuk pulang. Makin terbayang wajah Mamah yang merah padam karna anak gadisnya belum juga pulang.
Akhirnya, karna hujan tak kunjung reda, jam setengah 9 aku memutuskan untuk menerjang hujan deras demi keselamatan bisa masuk rumah. Tapi mungkin memang sudah dikutuk oleh Mamahku, sial, sepeda motor cowok di depanku ini macet dan ketika digas cukup keras, aku tersentak dan terpental jatuh ke bawah. Di tengah hujan deras aku terduduk di tengah jalan sambil memegangi pergelangan tanganku yang saat itu benar-benar terasa sakit. Kubiarkan badan ini terguyur hujan dan basah kuyup. Yang penting aku bisa memegangi erat pergelangan tangan kiriku dan menahannya dari rasa sakit. Cowok yang membuatku terpental jatuh ke aspal itu berlari hendak menolongku, bukannya mau ditolong, aku malah mengusirnya untuk tidak mendekat padaku, aku takut pergelangan tanganku lebih sakit bila digerakkan dan disentuh olehnya. Alhasil aku berjalan pulang ke rumah yang memang sudah dekat karna trauma dengan sepeda motornya. Sampai di depan pintu dengan baju yang basah-sebasah-basahnya dan handphone yang lowbat dan wafat sejenak, aku mengetuk pintu merintih pelan karna kedinginan dan kesakitan. Tak ada jawaban. Bolak-balik aku ke pintu belakang lalu ke pintu depan, mengetuk dan meminta pintu. Lagi-lagi sunyi. Cukup, aku lelah dan kedinginan. Aku duduk menggelosor di depan pintu depan. Masih dengan sepatu dan helm yang memang belum ku lepas karna aku kesulitan melepas dengan tangan satu. Bagaimana ini, aku tidak dibukakan pintu. Apa orang di dalam tidak dengar ya? Ah tidak mungkin, aku mengetuk cukup keras dan saat membuka gerbang mengeluarkan bunyi yang tidak bisa dibilang pelan. Heran. Pikiran parno mulai muncul satu persatu. Biasanya, saat hujan gerimis seperti ini, malam sudah mulai larut, di komplek yang memang bekas kuburan cina ini, serta tanah sebelah yang memang kebun tidak terawat, pasti ada ... Aaaaaak!!! Saat ini bukan saat yang tepat! Kenapa pikiran-pikiran parno bermunculan ya. Makin tidak dirasa, tangaku makin cenat-cenut dan badanku mulai menggigil. Ya Tuhaaan, besok aku ulangan tengah semester, dan aku belum belajar sedikit pun. Tega nian kalo memang aku tidak dibukakan pintu. Tak terasa aku terisak-isak. Menyadari mungkin memang aku yang salah, aku berniat menolong, malah aku yang kena sial. Apa caraku menolong orang salah? Entahlah, hanya Tuhan yang tahu jelas. Aku mencoba tertidur di tengah udara dingin dan terbuka di kramik yang basah dan dingin, tak luput baju yang basah kuyup, dan keadaan jatuh dari sepeda motor. Apes bener hari ini.
Sekitar pukul 01.00 dini hari, tiba-tiba pintu terbuka, sebenarnya sebelum pintu terbuka, sayup-sayup terdengar suara Mamah yang berkata "Apa anak ini belum pulang? Masyaalloh." lalu dengan kasar pintu terbuka dan aku terhempas ke belakang. Aku berdiri dan masuk kedalam rumah, sambil melepas sepatu aku mencoba menjelaskan bahwa aku pulang tidak melebihi batas maksimal yaitu jam 9. Aku pulang setengah 9 dan sudah mengetuk pintu belakang dan pintu depan berkali-kali, lalu aku juga menceritakan aku jatuh dan pergelangan tanganku sakit, bukannya ada rasa bersalah atau mencoba mengobati anaknya kesakitan kedinginan, ia malah berkata yang benar-benar menyayat-nyayat hatiku. Gimana kalo dalam keadaan seperti ini kamu malah disyukurin oleh ibumu sendiri? Pedih bukan? Mataku memanas dan aku langsung masuk kamar. Berganti pakaian hangat memakai selimut dan mengikatkan sapu tangan kencang-kencang ke pergelangan tanganku. Aku menangis dalam diam sejadi-jadinya. Paginya, mataku sembab dan tanganku semakin sakit. Badanku panas, tapi aku tetap ke sekolah untuk mengikuti uts. Dalam keadaan pedih, dimana sosok malaikat yang dikirimkan Tuhan yang katanya akan menjagaku dan mengobatiku dikala aku sakit? Kurasa malaikat itu tertutup awan kelabu.
It's real. Tanpa rekayasa :')

Tidak ada komentar:

Posting Komentar