Kamis, 14 November 2013

"Teman"ku

"Teman"ku. Mengapa harus kugunakan tanda kutip pada kata dan judul lembaranku kali ini? Alasannya tentu akan kujelaskan. "Teman". Sebuah kata yang sering digunakan dalam kamus hidupku. Begitu juga yang lainnya. Dari aku lahir, kata teman pasti sudah digunakan. Entah siapa yang menemukan kata teman, akupun tidak tahu sampai saat ini. Dan mengapa kata teman bisa tercipta sebagai kata teman, aku pun tidak tahu karena kali ini aku bukan membahas usul piusul dari kata teman. Tanda kutip yang aku gunakan menggambarkan, teman dalam kali ini benar-benar teman atau hanya teman. Aku sudah menemukan keduanya. Dan akan kurceritakan ..
Teman, dari aku lahir aku sudah memiliki teman. Ari-ari yang turut serta lahir saat ibu dengan sekuat tenaga berusaha membuat aku bernafas di dunia itu adalah teman pertamaku. Bukankah benar begitu? Tentu saja. Beranjak umur dan beranjaknya tubuhku menjadi besar, Teman sangat berperan. Teman sepermainan,teman satu kelas, teman khayalan,teman mengaji, teman di rumah, teman les, daaaaaan masih banyak lagi. Apalagi sekarang, aku mempunyai banyak teman. Baik secara nyata ataupun tidak nyata. Kali ini masih dalam pembahasan secara fisik. Teman nyataku banyak yang secara fisik. Baik teman sekolah dari tk,sd,smp,dan smk (sekarang), teman seorganisasi,teman luar organisasi,temannya temanku,temannya mantanku,temannya pacarku,temannya kakakku,temannya saudaraku, mereka semua juga menjadi temanku. Tidak lain juga teman tidak nyataku. Teman dalam dunia maya, bukankah disebut teman tidak nyata? Kadang aku merasa teman di dunia maya lebih real daripada teman di dunia nyata. Setidaknya aku kenal nama mereka, tau mereka sekolah dimana, tau mereka berasal darimana. Yah walau hanya sebatas  itu lah. Mereka tetap temanku.
Dalam berteman aku sudah bertemu dengan sangat banyak orang, banyak karakter, banyak sifat, dan banyak rupa. Aku pernah berteman dengan anak baik-baik, dengan anak alim, dengan anak nakal, dengan anak metal, dengan anak konyol, dengan anak sadis, dengan anak yang mempunyai kenangan burukpun sudah. AKu mencoba tidak pernah memilih-milih dalam berteman, aku mencoba berteman dengan siapa saja. Yang menurutku nyaman dan kami nyambung. Pertengkaran dan perpisahan dalam berteman pun sudah biasa aku rasakan. Dan kini aku sadar sesadar-sadarnya, aku mengerti mana yang patut aku sebut sebagai benar-benar teman dan mana yang sebagai hanya teman. Aku mencoba memahami temanku. Karna aku selalu ingin dipahami oleh teman. Aku mencoba mengerti kekurangan temanku. Karna aku ingin pula dimengerti. Aku juga mencoba menerima kekurangan temanku. Karna aku tau aku banyak kekurangan.
Kuceritakan tentang semua teman-temanku. Sebut saja cewek cantik. Cewek ini memang cantik, dia teman saat dimana aku duduk di bangku smp. Kami memang berbeda sekolah. Dan kami akrab, bahkan sangat akrab. Aku kenal dia karena temanku. Tidak, bukan teman sekelas. Kami tidak sekelas. Pacar temanku adalah temannya cewek cantik. Alhasil aku jadi akrab dengan cewek cantik ini. Dia juga punya teman. Kami selalu bermain bersama. Dan ketika ini lah aku belajar memahami karakter masing-masing orang. Teman sekolahku, dia baik. Tapi dia egois dan suka bersenang-senang. Dan aku sadar jika aku terus bersama dia, aku akan selalu saja menghabiskan uangku untuk bersenang-senang dan semakin sering pula aku punya masalah di rumah. Namun begitu, dia setia kawan. Yah, jika bukan soal laki-laki, dia sangat setia kawan. Kemudian teman si cewek cantik, dia baik tapi suka memanfaatkan seseorang. Iya,aku paham hal ini karena aku telah dekat dan keseharianku bersama dia. Aku menuliskan apa yang pernah aku simpulkan setelah lama mengenalnya. Kemuadia si cewek cantik itu sendiri, dia cantik. Menurutnya pasti. Juga ibunya. Dia egois, datang hanya disaat butuh. Jika temannya sudah tidak ada gunanya, dia akan membuang dan meninggalkannya begitu saja. Habis manis sepah dibuang. Banyak yang menjadi korban. Aku salah satunya. Aku sadar kini, karena saat aku terbaring lemas di rumah sakit. Dia sama sekali tidak menengokku. Boro-boro menengok, menanyakan kabar atau sekedar kata "Kamu kenapa?"pun tidak terlontar dari mulutnya atau hanya ketikan bbm saja. Tidak ada sama sekali. Sakit. Aku kecewa, setidaknya aku selalu peduli padanya, tidak setega ini. Justru, teman yang baru saja aku kenal di smk, teman satu organisasiku, langsung datang dari ujung timur kota ke ujung barat kota cuma untuk menengokku. Baru menerima kabar, dia langsung datang. Dia lah yang benar-benar temanku. Dia paham aku dan aku paham dia.
Teman-temanku banyak yang berlawan jenis denganku. Ada yang cuek dan sekedar dekat, ada yang masih mengikuti alur dan belum menemukan jati dirinya, ada yang lupa teman jika punya gebetan/pacar baru, ada yang datang disaat butuh, ada yang datang disaat aku cemerlang, dan yang datang saat aku tenggelam? Jarang :)
Apa itu yang disebut teman? Seburuk-buruknya sifatku, aku belum pernah meninggalkan temanku saat dia terpuruk, setidaknya aku tidak menjauh. Teman ya, memahami dan mengerti kita ya? Aku tau itu sulit, tapi tidak ada salahnya kan mencoba? Toh kita sudah berusaha. Iya, sekarang aku paham. Mana yang hanya teman. Mana yang benar-benar teman :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar