Kamis, 07 November 2013

Kamu, Paragraf Tanpa Jeda

Aku masih heran. Mengapa kamu selalu saja muncul dalam celah benakku. Bahkan disaat aku tidak mengharapkan hadirmu lagi. Hadirmu yang tak lagi seperti dulu, sebagai senja dengan jutaan kilau jingga menyapa lembut tiap pagiku. Kini hadirmu bagai gerimis di tengah mendung dan terus saja menjadi deras. Hadirmu kini hanya seperti manusia api, terus terus terus saja membuatku berada di titik puncak emosiku.
Kebagiaanku masihlah kamu,walaupun tulisanku bukan lagi tentang kamu. Namun dengan kalimat itu, aku bahkan sudah membohongi publik bahwa dengan kalimat yang akan kuselesaikan ini tetap saja tentang kamu. Kamu memang tak pernah berhenti untuk memenuhi otakku dan memporak-porandakan pikiranku. Selalu saja mampu membawaku terhanyut dalam buaian kenangan tentang kita. Satu bulan belum genap ya? Kita sudah harus berjalan masing-masing .. Iya, memang keputusanku. Tapi dengan ada responmu yang sangat jelas kau tak ingin mencegah aku, sudah sangat terlihat, dustamu yang mengatakan kau itu tulus, kau itu memperjuangkan, kau itu berkorban bukankah semua itu hanya bullshit? Sebenarnya aku percaya cinta. Dan aku percaya argumen cinta dan benci itu beda tipis. Tau mengapa? Karena benci itu adalah cinta yang tersakiti. Disini, siapa yang tersakiti? Kita sama sama tersakiti, kita itu adalah dua ketidaksempurnaan. Kau tidak bisa membimbingku, aku tidak bisa dibimbingmu. Mungkin caramu yang salah, atau aku yang tidak mau. Sebenarnya tidak ada yang benar-benar benar, dan tidak ada yang benar-benar salah. Semua pada pikiran kepala masing-masing. Seperti kita, seperti garis sejajar yang memang berhadapan tapi kita tak akan pernah bertemu. Seperti air dan minyak. Terlihat menyatu tetapi sebenarnya tidak menyatu. Mungkin memang sudah saatnya, paragraf tentangmu, paragraf tanpa jeda tentang segala apapun kamu, ku akhiri. Namun jika kamu paham dengan kalimat satu ini, ada toleransi.
Ada yang berlari untuk kabur, ada yang berlari untuk dikejar.
Terimakasih untukmu mempermudahkanku melepaskamu, terimakasih untuk segalanya, terimakash untuk cerita sngkat namun bermayoritas air mata di pelupuk mata, terimakasih telah menjadi sedikit saja cerita di lembar hidupku. Jaga dirimu baik-baik, kepada seseorang yang pernah aku panggil sayang, kepada seseorang yang pernah aku cintai, kepada seseirang yang pernah menjadi alasan jantungku berdebar lebih cepat, kepada seseorang yang membuatku memandang senja lebih indah, dan kepada seseorang yang tidak boleh aku rindukan lagi. Terimakasih :')

Tidak ada komentar:

Posting Komentar