Cinta karna terbiasa. Mungkin itu yang kini akan kutuliskan lewat huruf yang aku rangkai dalam lembaran ini. Ini tepat apa yang sedang aku alami. Semua terjadi berdasarkan dengan aku dan seseorang yang menemaniku;kamu. Tentu saja, siapa lagi jika bukan kamu? Tak ada lagi kata dia.
Siapa yang menyangka? Yang tak menarik, yang tak rupawan ternyata bisa memenangkan hati yang jelas sekeras batu. Tiada yang menyangka. Apalagi jika bukan cinta yang tiba-tiba saja mengetuk dan masuk begitu saja memenuhi ruang hati. Hingga tiada celah yang lain untuk masuk. Tapi kurasa, hal ini terjadi karena memang sehari-hariku penuh dengan kamu,kamu dan kamu. Hanya ada kamu. Kamu yang memenuhi hari-hariku. Kamu yang ada saat hari-hariku terasa berat. Kamu juga yang terus ada disampingku ketika aku terpuruk. Hingga, benih-benih cinta tak terasa mulai bergejolak. Namun aku heran, mengapa begitu cepat semua berlalu? Yang awalnya aku dengan gigih tidak ingin mengubah status apa yang sudah terjalin diantara kita hingga pada akhirnya justru mengumpankan diri untuk segera kau berhasil pancing. Bodoh memang. Tetapi begitulah kenyataannya. Aku benar-benar jatuh hati. Sekarang, denga apa yang kita jalin. Dan sekarang, setelah kuketahui aku lah yang kedua kalinya menjadi kekasih hatimu. Mulai ada yang berbeda. Dengan segala tekanan dan cemooh dari sana-sini yang membuat kupingku sudah cukup tebal. Tetapi apa daya, hatiku tak cukup tebal untuk menerima. Dengan godaan sana sini yang tak mudah aku jalani. Dengan melihat kebelakang, bahwa masa laluku cukup cemerlang walau tak berakhir membahagiakan. Aku mulai putus asa. Aku mulai lelah untuk memperjuangkanya. Pikiranku mulai bertanya-tanya, apakah ini hanya cinta sesaat? Dan hey, hampir saja aku berkata 'ya' dengan mantap. Sempat aku berfikir untuk pergi darimu. Menganggap semua ini tidak pernah terjadi dan meneruskan masa sendiriku yag hampir genap satu tahun. Tapi nuraniku berteriak. menjerit tidak menginginkan hal keji itu. Sudah terlalu sering aku mempermainkan hati seseorang. Apa dengan mendiamkamu beberapa hari sudah menjelaskan bahwa sebenarnya aku ingin pergi? Mungkin kau paham. Aku terlalu kejam. Maafkan aku, kuharap bukan itu. Kuharap ini bukan cinta sesaat. Bantu aku memperjuangkannya ..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar