Senin, 22 Juli 2013

Beratnya Hidup

Kali ini aku mendapat satu hal yang berharga. Ini terjadi saat aku dalam perjalanan ke luar kota. Aku sendiri dan dengan modal nekat membawa uang secukupnya bahkan bisa dibilang kurang. Dalam bis, anganku menerawang ... Memikirkan bagaimana nanti aku disana, tanpa orangtua, tanpa modal hidup, tanpa apa-apa. Hanya tubuh dan sepasang baju, handphone,serta uang yang berada dalam saku celana jeansku. Disebelahku duduk seorang laki-laki, lebih tua dari umurku, mungkin seumuran dengan kakakku yang sekarang kuliah dan hampir wisuda. Kuperhatikan dengan seksama, dia menawan. kulitnya putih untuk seukuran laki-laki jaman sekarang, lebih putih dari aku. hidungnya mancung,memakai kemeja yang lengannya disisingkan sampai siku. membawa tas punggung yang sepertinya cukup berat, serta memakai headphone. ia terlihat asyik memandang keluar jendela bis. memandang lalu lalang jalan yang hari itu cukup padat. padahal sudah sore, tapi lalu lalang kendaraan masih saja padat. sampai di halte, bis berhenti untuk menurunkan beberapa penumpang. ku lihat dari arah pintu bis, ada dua sosok anak kecil membawa gitar kecil masuk ke dalam bis yang aku tumpangi. tanpa basa-basi mereka membawakan satu buah lagu, entah apa itu judulnya. kedua anak itu berpakaian dekil,rambutnya pirang karena panas matahari yang menyengat setiap hari. dan ternyata suara anak itu serak-serak basah. khas pengamen pada umumnya. Ya Tuhaan ... mereka sedang apa, ini bukan hari libur dan mereka sekarang disini, mengamen. setelah bernyanyi cukup, aku memberian selembar uang dua ribuan. anak itu tersenyum dan berkata "Terimakasih mbak cantik". Aku membalasnya hanya dengan tersenyum. Rasanya aku iba, bagaimana jika nasibku seperti mereka. setiap hari harus menerjang arus kehidupan yang begitu berat. dengan banyak dinamika kehidupan. aku yang baru ditimpa masalah sedikit saja sudah mengeluh, tapi mereka sepertinya dengan ikhlas menjalani hidup yang sudah digariskan oleh Tuhan. Saat itu aku memandang ke arah jendela, tidak sengaja laki-laki disebelahku menoleh, alhasil mata kami saling beradu pandang. dia tersenyum. manis sekali. aku balas tersenyum. Tiba-tiba dia berkata, "Kasihan ya mereka, masih bocah sudah bekerja mencari sesuap nasi.". Ah aku terkejut mendengar itu, ternyata kami satu fikiran. "Iya ...". Jawabku singkat aku bingung harus menjawab apa. "Mbak tahu? Orangtua mereka bisa saja cukup mampu untuk membiayai mereka, tapi mereka memilih keluar rumah, biasanya karena masalah keluarga atau ketidakpedulian keluarga mereka.". DEG!!! aku kaget bukan main dengan perkataan laki-laki yang mirip malaikat ini. Seakan-akan dia menyindirku. padahal aku tahu, pasti dia samasekali tidak kenal dan tidak mengerti kenapa sekarang aku berada disini. "Emmm,eh oohh iya mas. Bisa jadi.". Aku tergagap karena tidak sanggup menjawab. "Iya,begitulah kehidupan. Sangat berat."
Aku jadi berfikir, mengapa banyak anak yang keluar dari rumah hanya karena mereka merasa kesepian? Bukannya diluar mereka akan jauh lebih kesepian? Ditambah lagi harus mencari nafkah sendiri,putus sekolah,dan lontang-lantung di jalanan. Astaghfirullaaah ... Hampir saja aku berubah menjadi anak seperti itu. Terimakasih dua pengamen cilik, terimakasih laki-laki bertampang malaikat, berkat kalian kini aku sadar. Aku harus mensyukuri apapun yang Tuhan berikan, entah itu kesepian,kebahagiaan,keberuntungan ataupun kemalangan. Aku tidak ingin berhenti menggapai impianku ... Aku tidak ingin seperti bocah kecil itu, melawa arus dengan yang seharusnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar