Menghadapi, tentu saja harus kuhadapi. Aku tidak akan terus lari dari masalah, semuanya ada di depan mata tak akan kemana-mana bahkan akan semakin dekat denganmu. Mau tidak mau, kuat tidak kuat aku harus menghadapinya. Lalu menikmatinya. Itu kuncinya. Biarkan semua berlalu, mengalir apa adanya. Ada saatnya aku harus senang, ada saatnya pula aku harus merasa hidupku lebih berat daripada yang lain. Lalu mensyukurinya, semua apa yang diberi Tuhan harus kita syukuri. Dan aku bersyukur Tuhan sayang lebih padaku, memberiku cobaan seperti ini agar aku menjadi pribadi yang kuat yang tegar lebih dini daripada yang lainnya. Saat yang lain masih bermanja-manja dengan kedua orangtua mereka, aku hanya bisa bermanja-manja dengan satu orangtua saja dan itu saat waktu rutin bertemu. tentu saja, karena mereka telah berpisah dan tidak satu tempat lagi. Apalagi jika mereka tidak menjalin tali silaturahmi yang baik, bahkan terkesan bermusuhan. Itu akan jauh menyakitkan daripada anak broken home yang orangtuanya tetap berkomunikasi,menjaga hubungan baik,dan mampu memahami perasaan anak mereka.
hey, kadang aku bertanya-tanya, mengapa dua orang yag tidak saling mencintai tapi menyatu dan mempunyai buah hati sekaligus dua. ya itu aku dan kakak perempuanku. aku sering sekali merasa iri bila jalan-jalan dan melihat satu keluarga yang terlihat akrab dan bahagia. bahkan tetanggaku yang sangat harmonis bila sore hari. mereka duduk minum teh di teras rumah sambil membicarakan entah apa yang kelihatannya sangat menarik. seringkali aku tak kuasa menahan air mataku lalu tumpah ruah sejadi-jadinya. aku menangis bila mengingat dahulu saat kami masih berkumpul bersama dalam satu rumah. walau sering ada perdebatan, tapi aku masih bisa bermanja-manja kepada merka berdua. tidak perlu merasa iri dan membendung air mata. Itu masih terasa ringan, mulai terasa sangat berat saat aku mulai beranjak dewasa dan mengerti apa itu perceraian. menghancurkan semua hal indah yang pernah aku miliki. berat rasanya memiliki orangtua baru, ketika ayah dan ibuku memutuska untuk menikah kembali. aku memiliki semua yang tiri, ayah tiri, ibu tiri, adik tiri, kakek tiri, nenek tiri. sakit rasanya. dan hal yang paling kurasa berat, saat orang atau kerabat dari ayah dan ibu bertanya padaku, "Sekarang kamu ikut siapa?". Simpati mungkin, atau hanya penasaran? Ya, tentu saja aku tidak tahu maksud terselubung mereka menanyakan hal itu. apalagi sampai ke hal pribadi seperti , "Berapa uang bulananmu dari Ayah?". Ya ampun!! apa maksudnya bertanya seperti itu. kalaupun tidak cukup, pasti mereka tidak akan membantu kan? enyahlah pertanyaan-pertanyaan seperti itu. menyakitkan!! asal tahu saja, psikis anak broken home itu sebenarnya lemah. mereka sering merasa kesepian,terkucilkan,bahkan tidak semangat hidup. mereka juga lebih sensitif dari anak-anak lain. mereka mudah sedih,mudah marah. aku akui kadang aku tidak bisa mengendalikan emosiku.
Lagu dari Last Child yang memang aku rasa diciptakan untukku, untuk kami, anak-anak Broken Home yang tidak pernah menginginkannya.
Malam ini hujan turun lagi
Bersama kenangan yang ungkit luka di hati
Luka yang harusnya dapat terobati
Yng ku harap tiada pernah terjadi
Bersama kenangan yang ungkit luka di hati
Luka yang harusnya dapat terobati
Yng ku harap tiada pernah terjadi
Ku ingat saat Ayah pergi, dan kami mulai kelaparan
Hal yang biasa buat aku, hidup di jalanan
Disaat ku belum mengerti, arti sebuah perceraian
Yang hancurkan semua hal indah, yang dulu pernah aku miliki
Hal yang biasa buat aku, hidup di jalanan
Disaat ku belum mengerti, arti sebuah perceraian
Yang hancurkan semua hal indah, yang dulu pernah aku miliki
Wajar bila saat ini, ku iri pada kalian
Yang hidup bahagia berkat suasana indah dalam rumah
Hal yang selalu aku bandingkan dengan hidupku yang kelam
Tiada harga diri agar hidupku terus bertahan
Yang hidup bahagia berkat suasana indah dalam rumah
Hal yang selalu aku bandingkan dengan hidupku yang kelam
Tiada harga diri agar hidupku terus bertahan
Mungkin sejenak dapat aku lupakan
Dengan minuman keras yang saat ini ku genggam
Atau menggoreskan kaca di lenganku
Apapun kan ku lakukan, ku ingin lupakan
Dengan minuman keras yang saat ini ku genggam
Atau menggoreskan kaca di lenganku
Apapun kan ku lakukan, ku ingin lupakan
Namun bila ku mulai sadar, dari sisa mabuk semalam
Perihnya luka ini semakin dalam ku rasakan
Disaat ku telah mengerti, betapa indah dicintai
Hal yang tak pernah ku dapatkan, sejak aku hidup di jalanan
Perihnya luka ini semakin dalam ku rasakan
Disaat ku telah mengerti, betapa indah dicintai
Hal yang tak pernah ku dapatkan, sejak aku hidup di jalanan
Wajar bila saat ini, ku iri pada kalian
Yang hidup bahagia berkat suasana indah dalam rumah
Hal yang selalu aku bandingkan dengan hidupku yang kelam
Tiada harga diri agar hidupku terus bertahan
Yang hidup bahagia berkat suasana indah dalam rumah
Hal yang selalu aku bandingkan dengan hidupku yang kelam
Tiada harga diri agar hidupku terus bertahan
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar