Alhamdulillah ya .. ternyata Allah benar-benar mendengar doaku. Bukti dari kebesaranNya. Iya, aku tau. Allah memang tidak pernah tidur, dia selalu mendengarku, memperhatikanku. Inikah jawaban semuanya Tuhan? Terimakasih :)
***
Satu tahun lebih, aku dan keempat temanku putus komunikasi, tak saling sapa, bahkan sudah saling melupakan. Hadir kalian memang sudah tak lagi muncul setiap waktu seperti dulu di hadapanku, tapi satu yang kalian tahu, kalian sering kali datang memenuhi otakku. Mendesak segala kenangan yang pernah kita buat. Semua hal yang pernah kita lalui. Tentu saja, BERSAMA. Kata itu, kata itu lah yang tak pernah kita gunakan lagi. Kita tak pernah bersama lagi kawan ... Satu tahun berlalu begitu kelam, tanpa ada warna dari hadir kalian. Menyesalkah aku? Sangat!!! Aku sangat menyesal menyia-nyiakan waktu dan lebih memilih memenuhi gengsiku yang tinggi, sampai-sampai gunung Himalaya minder dibuatnya. Aku memang egois, sebagian besar mungkin ini salahku. Aku yang bodoh, aku yang terlalu egois dan terlalu ingin menang sendiri. Ku akui itu, tapi kawan, ingatlah selalu kebaikanku saat kalian membenciku. Segalanya, entah kebaikan kecil atau besar. Begitulah caraku menghapus sepi dan menghindari membenci kalian, aku berpikir tentang kebaikan-kebaikan kalian dan menghapus segala keburukan serta kekurangan kalian. Aku tidak ingin rasa benci bersarang didalam jiwaku.
Ulang tahun, peristiwa itu lah yang menyatukan kita berlima kembali. Kita yang mencari kebahagiaan, kita yang memahami isi hati kita masing-masing. Melewati setengah jalan dari persahabatan kita yang mulai pudar. Kawan, kawanku tersayang. Kalian lah yang pernah membuatku bersinar , kalian lah yang pernah mengisi hari-hariku dan menuliskan banyak kisah kebersamaan. Selalu ... selalu aku menangis sendu bila kuingat, kita putus hubungan dan saling berjalan masing-masing. Tapi aku bersyukur , kekosonga itu telah terisi kembali kini. Kita memulai lagi dengan awal kertas putih kosong yang bersih tanpa noda. Cerita kita yang meredup kini akan bersinar kembali seperti dahulu. Lusa, aku bahagia, dalam hari istimewa kawanku yang kukira tak akan pernah kembali kedalam kehidupanku justru membuat kita berkumpul kembali. Satu lagi kebesaran Tuhan. Bukti Tuhan menyayangiku,ketika aku merasa tak ada lagi yang peduli denganku. Disaat Ayah dan Mamahku bahkan Nenek kesayanganku perlahan-lahan ingin menghilang dariku dan memandangku berbeda dari biasanya. Di kupingku seperti terdengar "Pergi kamu. Aku tidak suka denganmu." dari pandangan mereka padaku. Pandangan dingin dan terkesan membenci. Apa aku begitu buruk dihadapan mereka? Apa segala yang kuperbuat selalu salah? Apakah aku tidak berarti sama sekali dan hanya merepotkan? Hanya seorang anak yang tidak ada artinya lagi dan menyusahkan? Jika iya, aku benar-benar akan pergi dari semuanya. Untuk kebahagiaan Ayah dan Mamahku. Bila memang aku sudah tidak berarti dan tidak dipedulikan kembali. Mamah ... Bukankah aku yang terlebih dahulu ada di kehidupanmu dari pada Pria itu dan anakmu yang sudah menyita kasih sayangmu dariku? Apa begitu salah aku dimatamu? Tak pernah membuatmu bahagia? Ayah ... Mengapa kau lebih sayang dengan dua orang anakmu dari Ibu yang memang baik tapi cuek itu? Apa dimatamu aku hanya menyusahkan dan merepotkanmu? Aku sepertinya hanya beban bagi kedua orang tuaku. Aku tidak ingin membenci mereka, aku sayang mereka dan aku ingin berbakti. Bila memang aku harus berbakti dengan cara menghilang dari kehidupan kalian, aku rela ...
Kawanku, apa aku juga tidak dianggap di luang lingkup kelas? Bukan keluarga kelas lagi dan bukan salah satu kawan dari kalian lagi? Begitu menyebalkankah aku? Tidak apa-apa, aku yang akan menjauh ...
***
Tuhan , begitu banyak masalah yang saat ini kuhadapi. Aku membutuhkan seseorang yang bisa kubagi dengan segala ceritaku. Menopang tangisku dengan pundaknya dan haya terdiam membelai rambutku. Tak perlu banyak berkata dan memandangku dengan penuh sayang. Aku membutuhkan seseorang yang dapat membuat nafasku lebih berarti , aku butuh perhatian dan aku butuh kasih sayang. Tapi aku tahu, saat ini Kau masih menyimpannya untukku. Sampai tujuh bulan berlalu kuhadapi sendiri. Masihkah Kau terus menyimpannya? Aku membutuhkannya untuk hari-hariku yang berat Tuhan ... Aku hanya bisa melimpahkan semua perasaanku dalam setiap kata setiap baris setiap paragraf yang aku tulis tanpa ada perhitungan,perencanaan,dan pemiliha kata yang baik. Semua mengalir begitu saja dengan jari-jariku dan setiap bulir air mata yang jatuh. Semua mengalir dan semua kutulis dengan penuh minat. Sampai-sampai, laptop yang sedang menjadi kambing hitamku ini ingin aku telan bulat-bulat. Tapi aku tidak boleh patah semangat kan Tuhan? Kau akan memperlihatkan sayangMu padaku satu persatu kan Tuhan? Aku tahu, berkumpulnya Yaris adalah salah satu bentuk sayangMu padaku. Terimakasih Tuhan. Aku tahu, kau akan memberi Happy Ending padaku. Tuhan, aku juga tahu Kau mendengar segala desah tangisku, Kau mendengar setiap kata yang kuucap. Aku tahu Kau maha Besar :')

Tidak ada komentar:
Posting Komentar