Aku merasa tidak pernah berarti untuk siapapun. Dimana pun dan kapan pun. Bagaimana bisa aku merasa berarti? Disekelilingku tidak ada yang memperhatikanku, bahkan mereka mengacuhkanku secara tidak langsung. Aku tidak mengerti, pepatah '
Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya' itu benar-benar mempunyai makna atau tidak. Sungguh, aku tidak mengerti. Karena, seolah-olah itu tidak terjadi padaku. Aku yang dalam akta kelahiran sebagai anak kandung, dan sebagai darah daging dari kedua manusia terkasih itu, berbeda jauh dengan mereka. Aku tidak cerdas,gigih dan sabar seperti SuperDad. Dan aku tidak pandai memasak dan rajin seperti SuperMom. Mungkin aku anak paling bandel dan paling menyebalkan di seluruh dunia. Mereka seakan-akan membenci kehadiranku. Sebegitu tidak pentingnya diriku? Atau akta itu memang salah? Dan cerita-cerita yang kudengar itu hanyalah bualan belaka? Musnah .. Musnah sudah pikiranku tentang sebuah kata harmonis. Itu kata yang aku keramatkan. Menjadi sebuah kata yang istimewa dalam kamus hidupku. Tentu saja istimewa, selama ini belum pernah terjadi dalam cerita hidupku. Aku .. Tidak harus selalu bermimpi untuk mendapatkan kata itu kan? Kurasa tidak, aku akan mencapainya kelak. Kelak ketika aku sudah tidak menjadi anak perempuan dari kalian yang hanya menyusahkan dan membuat kalian pusing tujuh keliling untuk meladeni sikapku yang selalu kalian bandingkan dengan kakakku dan masa kalian dahulu. Tidakkah kalian sadar bila dunia kalian dahulu dan duniaku sekarang ini berbeda. Dunia yang sekarang ini semuanya serba mudah. Serba canggih. Dan apakah kalian tidak pernah merasakan bagaimana sedihnya bagaimana perihnya saat harusnya aku masih bisa merengek minta dibelikan ini itu oleh orang yang memang menjadi penanggung segala urusan dan masalah kebutuhanku? Iya aku mengerti kalian tidak pernah merasakannya. Karna kurasa hanya aku dan masih banyak anak-anak yang satu cerita denganku. Aku yang dulu seharusnya bisa bermain-main dan berlibur tanpa harus bersusah payah kebingungan memilih yang mana. Aku yang selalu saja gelisah dan tidak enak hati untuk meminta sesuatu yang aku inginkan. Aku yang selalu saja ingin bercerita dan bersenda gurau, bahkan yang paling sederhana duduk berkumpul dan minum teh bersama setelah mandi sore di teras rumah. Rumah? Rumah yang mana? Tentu saja rumah saat kita masih satu atap. Tidak seperti sekarang, aku mempunyai banyak rumah. Bukan kaya bukan harta melimpah. Tapi terpencar-pencar. Aku tau lah kalian pasti paham tanpa aku banyak berceloteh.
Dibandingkan. Itu kata kedua yang aku keramatkan. Tapi kali ini berbeda, bukan istimewa namun terkutuk. Aku benci dengan kata itu. Aku tak suka dibanding-bandingkan. Karena dibanding-bandingkan adalah satu penyebab aku terpisah dari seseorang yang melahirkanku. Aku bodoh memang. Selalu iri dan bergejolak emosi bila dibandingka dengan saudara perempuanku. Saudara perempuan yang dimata kalian selalu saja indah dan tidak pernah salah. Tidak seperti aku yang doyan kelayaban dan doyan menghamburkan uang kan? Aku juga tidak bisa menahan emosi yang berkecamuk di dalam hati dan jiwaku, ketika suasana hening tidak ada pembicaraan yang menarik dan aku mencoba mencari pembicaraan untuk mencairkan suasana, tetapi malah kalian memulai pembicaraan dengan menanyakan kabar saudara perempuanku. Apa tidak ada pertanyaan lain? Dihadapanmu ada aku. Ada banyak sekali kegiatanku yang masih bisa kau tanyakan. Kenapa malah itu itu saja yang kau tanyakan? selalu dan selalu. seperti ini lah hal hal yang membuatku lemah. Aku mudah terpuruk dan aku tidak pernah betah berada dalam satu lingkaran kalian. Aku lebih suka mencari kebahagiaan dan pelampiasan di luar. Di tempat tidak adanya perbandingan dan luka. Aku hanya ingin melupakan sejenak bahkan semua masalah yang aku hadapi. Aku ingin memuaskan emosiku. Dan ketika aku telah menemukannya, aku tidak rela untuk meninggalkannya. Karena aku berfikir aku tidak akan mendapatkan kesempatan dan kebahagiaan yang sama nantinya. Karena itu lah aku suka berlama-lama di luar rumah, bersenda gurau dengan teman-temanku, dan tenggelam dalam dunia remajaku. Aku tidak berbuat hal aneh, itu bila aku tidak down berat. Karena aku masih punya iman, aku masih punya akal fikiran, dan aku masih punya tanggungan untuk menjaga nama baik keluarga, Aku tau itu.
Esok, jika aku telah mampu membesarkan nama keluarga, membesarkan namaku sendiri juga, aku akan membesarkan anak-anakku dengan penuh kasih. Dan aku berjanji tidak akan memberikan luka dan ingatan pilu untuk mereka. Karena aku tahu, betapa perihnya jika itu terjadi. Aku tahu ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar