Setiap harinya aku digembleng dan dituntut berlatih berlatih dan terus berlatih. Sampai ketika bulan ramadhanpun masih tetap saja berlatih, namun bedanya kapasitas latihan dikurangi. Kadang aku merasa jenuh dan mengalami kecapaian yang luar biasa dan aku ingin berhenti saja. Tiap hari tidak ada hentinya instruktur memarahi dan meneriakkiku. Mungkin bukan semata-mata kesalahanku,tapi ya memang itu lah tugas instruktur. Hari demi hari mulai terjajaki, hari H sudah semakin dekat. Perasaan gelisah memburu setiap malam dalam tidurku. Entah dengan anak yang lain. Tapi aku benar-benar khawatir dengan kekompakan yang masih belum dapat kami raih. Gerakan yang masih belum sering benar bahkan lebih sering salah. Sampai-sampai aku merasa muak saat salah satu dari pasukanku, pasukan 45 dengan belagu dan sok pemimpin itu teriak-teriak di depan barisan kami seperti kebakaran jenggot. Ia marah-marah, masih sangat kuingat kata-kata yang penuh dengan percaya diri namun menyakitkan itu.
"Selama ini saya diam!!! Saya malu dengan kalian. Saya marah tapi saya diam. Seolah-olah kalian tidak menghargai danki yang berada di depan ini. Kalian bersenda gurau seenaknya. Belajarlah menghargai orang lain. Kalia tidak tau siapa saya!!! saya memimpin 900 orang dan saya bisa mengendalikannya. Kalian tidak tau siapa saya!!!". Dan dengan polosnya tanpa berdosa aku yang memang sedang bersenda gurau berkata dengan keras,
"Le siapa sih?". Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaak bego memang. Sedang ada yang naik darah emosi tingkat dewa, aku tanpa rasa berdosa menganggap itu candaan saja. Tapi aku memang tidak suka dengan kata-katanya. 'Kalian tidak tau siapa saya'. Ih! Sombong!!! Dan itu membuat teman-temanku ilfeel. Mungkin karena itu lah chemistry kami belum menyatu bahkan sudah dekat hari H. sampai geladi bersihpun tidak lancar. Kesalahan fatal disana sini. Dan membuat instruktur semakin geram saja. Aku yang paling kecil ini sudah tebal hati tebal telinga karena sudah biasa diteriaki dan dihina. Aku memang tidak tinggi-tinggi amat. Tapi toh aku juga bagian dari kalian. Aku yang biasanya tidak pernah kuat lari satu putaran penuh, berkat latihan disini aku kuat lari tiga putaran penuh tanpa henti. Aku yang biasanya mengeluh dan mengeluh, disini aku belajar diam dan menerima. Iya harus menerima, hukuman push-up'pun harus dijalani dengan ikhlas. Dan tentu saja yang terutama aku belajar RELA ,IKHLAS, dan BERKORBAN. Aku harus merelakan mengikhlaskan dan mengorbankan rambutku yang cukup panjang dipangkas habis karena sudah aturannya. Begitu juga kulitku yang cukup kuning langsat menjadi sawo matang, serta ku korbankan waktu belajarku di sekolah. Ups, untuk yang satu ini ada untungnya juga untukku. Aku bisa menghindar dari pelajaran dan kelasku yang lebih mirip neraka. Penghuninya sudah rese abis mirip setan-setan penghuni neraka. Jadi aku bahagia untuk pengorbanan yang satu ini.
Tahun ini tahun yang buruk untuk instruktur. Itu bisa jadi. Karena bertemu dan melatih kami yang terkenal ndableg. Ndableg itu malas. Ya jelas saja, sampai hari karantina, masih saja ada salah satu yang datang terlambat. Bagaimana tidak menjadi tahun malas? Katanya sih baru tahun ini saja. Bisa jadi sih, sampai karantina baru pernah ada latihan tambahan. Padahal harusnya untuk beristirahat dan hanya pengukuhan. Aku tau kenapa masih saja latihan, seperti kekhawatiranku, instruktur pasti merasakan lebih dariku. Mereka pasti masih belum percaya pada kami yang diberi tugas berat di pundak kami.
Tapi pada hari H, berkat rasa tanggung jawab pada hati kami masing-masing, berkat doa yang tidak henti-hentinya dibisikkan, tidak disangka-sangka penaikan dan penurunan bendera lancaaaaaaaar selancar jalan tol. Mulus seperti diberi pelumas. Bahkan pada malam resepsi kami diberi nilai 100, sempurna oleh yang tertinggi kami. Magis!!! Ajaib dan tidak bisa dipercaya. Terimakasih Alloh Tuhanku, memberkahi kami. Pasukan Pengibar Bendera Tahun 2013 :)
Terimakasih juga instruktur kami, yang saat ini aku rindukan teriakkan-teriakkannya. Aku sadar, kami sadar segalak-galaknya kalian,itu untuk kebaikan kami. Terimakasih teman-teman satu perjuanganku, ini muara kita. Ini tujuan kita, aku percaya alam pun berbahagia seperti kita. Aku percaya kelak kita akan bertemu kembali dengan kesuksesan dan kebanggan pada sinar mata kita masing-masing. See you next time :)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar