Tulus setulus-tulusnya tulisan ini aku ketik. Setelah aku benar-benar tidak tahan dengan keadaan yg sekarang menimpaku ini. Keadaan dimana aku sudah letih dalam meniti hari-hariku yg terseret-seret. Dengan sekuat tenaga dan sisa sisa kekuatanku, aku berusaha menahan apa yg ingin aku ungkapkan padanya. Pada seorang laki-laki yg kupuja dan kukagumi sepanjang masa ...
Dari dalam hatiku yg paling dalam, semua akan kucurahkan dalam tulisan ini. Tulisan yg bisa dibaca dan dialami siapapun di dunia ini. Dan kuharap tulisanku sampai pada mata jenis adam yg tak pernah henti-hentinya aku pikirkan. Dia. Dia yg menjadi tumpuan dalam hidupku. Menjadi pedoman dalam aku berperilaku. Aku mencontohnya, menghormatinya dan sangat menyayanginya. Walau mungkin sayangku tak sebesar sayangnya padaku. Bukan lebih, bahkan mungkin hanya sedikit yg diberika padaku. Karna aku tahu, sayangnya harus dibagi-bagi. Pada dunianya yg selalu menyita waktunya, pada wanita yg dikasihinya, dan pada dua orang dibawah umurku yg tentu saja sangat disayanginya sehingga semuanya tercurah pada mereka tanpa ada sisa untukku. Rasanya .. Aku lebih dulu masuk dalam kehidupannya dibandingkan mereka. Apa aku terlalu tidak berarti atau terlalu menyebalkan dimatanya? Apa aku tidak pernah membuatnya senang? Atau bahkan dimatanya, aku adalah orang asing. Entahlah .. Hanya dia yg bisa menjawabnya. Aku hanya bisa mengira-ngira, menebak-nebak dan menelan semua pertanyaan yg tak pernah berani aku lontarkan karna takut menyayat hatinya.
Sekarang ini aku sedang heran. Bagaimana mungkin, aku yg menjadi bagian dari hidupnya lebih dahulu dibanding dgn mereka, namun justru aku lah yg lebih terabaikan. Pedih memang. Dia tak henti-hentinya memberiku luka, yg cukup dalam dan selalu membekas. Memberiku banyak cerita dan tentu saja banyak sekali tetesan air mata yg aku keluarkan. Seolah tidak pernah ada habisnya, air mataku selalu saja tak sanggup tertahan jika melihatnya lebih mengutamakan dunianya yg baru. Aku mungkin adalah salah satu bagian dari masa lalunya. Kertas usang terpecik noda-noda yg diremas-remas lalu dibuangnya ke tempat sampah hingga ia tidak akan sudi mengingat-ngingatnya. Aku tahu, itu pasti menyakitkan. Tapi, apakah ada yg lebih menyakitkan dibandingkan dgn terabaikannya kamu di lingkup yg seharusnya bisa memberimu tawa walau itu hanya sedikit? Apakah ada yg lebih perih dari melihat pemandangan yg tidak pernah kamu rasakan dulu saat seumuranmu sedang dimanja-manjanya dan disayang-sayangnya? Apakah ada yg lebih menyayat hati memendam apa yg harusnya bisa kau bagi dgn yg terkasih? Apakah ada? Pilu rasanya .. Harusnya aku bisa mendapatkan lebih banyak waktu, perhatian dan kasih sayang di usiaku kini. Tapi tidak untukku ..
Tidak untuk manusia istimewa dan pilihan Tuhan sepertiku. Tuhan Maha Baik, Maha Penyayang. Ia punya cara tersendiri untuk membuat hambaNya menahan segala gejolak emosi. Membuat hambaNya paham arti bersyukur. Dan aku mengerti, akan kujalani semuanya sesuai dgn skenario Tuhan. Aku akan menjalaninya dgn ikhlas walau nafasku terengah-engah dan tersendat ditengah jalan. Tapi aku tau Tuhan tidak pernah tidur. Dan aku tau Tuhan mengirimkanku penguat di tengah jalan nanti.
Superheroku ... Dari hatiku yg paling dalam, aku hanya ingin menyampaikan padamu. Berharap angin menyampaikannya, burung mengabarkannya dan tulisan ini menyadarkannya. Aku kesepian. Aku tersiksa. Aku letih. Aku terabaikan. Aku terpuruk. Aku terbuang. Aku merasa tidak berarti. Aku bertahan untuk kuat. Aku berusaha mempercayai keajaiban. Aku menelan semua luka. Aku memendam semua keluhku. Aku ingin berteriak. Aku ingin membunuh semua yg mencuri perhatianmu padaku. Aku ingin menyingkirkan mereka yg lebih kau sayangi drpd aku. Aku ingin kau memperhatikanku. Sedikit saja, sebentar saja. Aku ingin aku tidak selalu salah dimatamu. Aku ingin kau mendengar semua keluh kesahku. Aku ingin kau memelukku saat aku membutuhkanmu. Aku ingin kau mengusap lembut kepalaku. Aku ingin kau mengusap air mata dipipiku. Dan aku ingin kau menguatkanku ... Ayahku ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar