Minggu, 08 September 2013

Dunia Abu-abuku

Dalam sepi aku pernah melihat sosok yang diterangi penuh cahaya. Bukan ... dia bukan malaikat. Ini hanya dalam alam bawah sadarku saja. Mungkin semacam mimpi di siang bolong, atau mimpi dalam tidur nyenyakku. Aku melihat, seseorang seperti lentera dalam kegelapan. Membawaku dalam dunianya yang berwarna warni. Tidak seperti duniaku yang berwarna abu-abu. Bahkan condong ke warna hitam legam. Sepatutnya aku sudah terjatuh da tak bisa bangkit kembali, tapi sosok itu datang, dengan senyum menawannya, membantuku menahan rasa sakit dan ia mengusap lembut air mataku yang sering sekali menetes di pipi. Aku tak pernah bisa menjelaskan apa artinya dia dalam hidupku. Yang pasti, aku selalu mencarinya saat sekejap saja ia menghilang dari pandanganku. Sosok itu ... sosok yang berarti. Karna sosok itulah yang mampu menahanku kembali ke dalam dunia abu-abuku untuk tetap tinggal dalam dunianya yang menyenangkan. Seakan aku berada di ujung pelangi, aku tidak akan pernah mau kembali lagi. Tapi aura abu-abu itu seperti menarik-narik paksa tubuhku. Aku takut. Aku takut bila nanti aku terseret kembali ke dalam dunia abu-abuku. Benar saja, setengah jiwa aku telah kembali ke dalam dunia abu-abuku. Kelam, sendu, bergemuruh dan kelabu. Aku takut ... aku takut ... dimana kamu sosok cahaya dalam gelapku? Dimana kau saat aku membutuhkanmu? Apa kau meninggalkan aku? Melepaskan genggamanmu untuk menahanku dalam duniamu? Pernah kau mengeluh akan masa laluku. Semuanya tentangku yang serba abu-abu. Iya, abu-abu. Masalah yang selama ini kuhadapi di rumah, sekolah, ataupun lingkunganku. Aku takpernah sukses dalam membawa diriku menuju dunia yang sama denganmu. Mungkin memang tak ada indah-indahnya diriku dibandingkan dengan yang lain. Tapi jika memang aku begitu, mengapa kau datang kepadaku? Membawa sejuta harapan dan asa. Membawa seribu canda dan tawa. Hadir di dalam pikiran, mimpi dan setiap waktuku. Hanya untuk singgah? Dalam dunia abu-abuku aku tak pernah melihat warna-warna indah seperti yang lain. Semuanya sendu, semuanya datar. Samar-samarpun aku jarang melihatnya. Semua berbeda ketika kau hadir. Namun mengapa kini cerita itu berbeda lagi? Dengawan awal kau yang menjauh. Hingga, Diujung sana, aku melihat sosok terang itu menggandeng sosok yang lebih indah. Kupanggil dirimu cahayaku, kau hanya berpaling .. lalu meninggalkanku sendiri dalam abu-abuku. Meninggalkanku ketika kau menemukan keindahan yang lain. Semudah itu kah? Setelah begitu beratnya kau menarikku dari dunia kelamku? Begitu mudahnya? Ternyata egomu jauh lebih besar. Pergilah ... Biarkan aku menikmati semua yang serba abu-abu. Lagi ...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar