Sabtu, 27 Desember 2014

Aku Benci Hidupku

Ini jauh lebih baik daripada aku harus berbicara pada tembok. Tapi meulis blog membuat perasaanku lebih baik.
Untuk saat ini, kalo di film-film adegan yang tepat adalah aku keluar rumah kabur dengan isak tangis, minum-minuman keras di club dugem. Makan apapun dan menangis di keramaian. Setelah itu tidak pulang berbulan-bulan. Penampilan berubah jadi kusut, berantakan. Dan menjadi tidak peduli dengan sekitar.
Yah, tapi aku dikehidupan nyata. Duniaku tidak semudah itu jika aku putus asa. Aku Cuma bisa menangis sendirian, curhat dengan tembok,berharap perasaan jauh lebih baik pagi harinya dengan tidur. Serta marah-marah di social media. Ya, social media memang tempat terbaik meluapkan amarah. Siapa peduli? Di dunia nyata bahkan yang terdekatpun tidak peduli.
Kedua orangtuaku tidak beres. Yang satu hanya bisa marah-marah tiap hari, menganggap apapun yang kulakukan salah dan memusingkan. Yang satu hanya bisa membelikan apaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaapun yang aku inginkan. Tetapi sebenarnya tidak mempedulikanku. Mereka bercerai dan saling menikah dengan orang yang salah menurutku. Saling memiliki anak yang baru yang lebih mereka sayang. Aku yang tidak pernah ditanyai bagaimana sekolahku. Aku yang tidak pernah diajak bercanda dan tertawa bersama. Aku yang tidak pernah diutamakan. Hahha aku yang terlupakan.
Teman sekelasku terlalu baik. Setahun lebih mengabaikanku yang memang berada disitu tetapi dianggap angin lalu. Setahun lebih mengabaikanku tanpa alasan yang jelas. Setahun lebih memaksaku menahan sakit perih dan berusaha bersemangat sekolah berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.
Tuhan baik padaku. Aku juga tidak dikelilingi orang yang memperdulikanku. Dunia hampir kiamat? Atau hanya duniaku yang hampir kiamat? Tidak adakah yang memperdulikanku? Tidak adakah yang membelaku?


“Apapun yang aku lakukan selalu salah. Aku benci diriku semua tentangku. Aku benci diriku melebihi orang lain.” – Captain Jack.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar