Belajarlah dari apa yang pernah kau alami. Bertahanlah dari apa yang pernah membuatmu terjatuh ...
Kamis, 29 Agustus 2013
Mana Jalan Keluarnya
Sekali lagi , aku tidak pernah ingin berhenti menuliskan apa yang aku rasakan. Aku tidak memliki pundak untuk tempatku bersandar. Aku juga tidak memiliki pelukan hangat untuk menguatkanku. Apalagi tempat dimana aku bisa menumpahkan semua apa yang aku rasakan. Ya, aku sendiri. Hanya tulisan yang mampu membuatku sedikit bernafas lega. Tanpa perlu terseret-seret bernafas dalam kesesakkan segala masalah yang harus aku hadapi dan aku cari jalan keluarnya. Terbesit sedikit sesal dalam diriku, mengapa aku harus menolak semua cinta yang datang padaku. Setidaknya aku bisa mencoba membuka hatiku agar aku tidak seperti ini. Selalu menangis dalam kesendirianku. Dalam kehampaanku. Tutur lembutku kurasa sudah hilang tak berbekas. Entah sejak kapan, mungkin semenjak aku mulai berontak dengan keadaanku. Sepintas rona wajah yang biasanya bersemangat dan ceria, terhempas dengan beratnya beban yang selalu saja mampu mengundang tangis dan amarahku.Sekujur tubuhku tidak satu jalan dengan pemikiranku. Ketika aku berfikir untuk menahan tangis, untuk menyodorkan tanganku, dan bertekuk lutut dihadapan dia, tubuhku menolak. Menghindar. Itu salah satu jalan yang selalu aku pilih. Menghindari selagi aku bisa. Memperburuk suasana, bukan malah meringankan suasana. Aku lebih memilih menjernihkan pikiranku. Dalam hatiku, badai topan dan petir bergemuruh hiruk pikuk. Gelisah, entah bagaimana. Entah bagaimana.Sekian lama ini, aku belum menemukan jalan keluar. Jalan terang dengan sejuta sinar harapan. Serta kebahagiaan yang menantiku. Aku hanya bisa menyemangati diri sendiri. Menguatkan tubuh yang rapuh ini. Aku harus bertanya pada siapa? Pada siapa aku harus meminta jalan keluar? Hanya Tuhan yang membantuku.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar