Senin, 09 Juni 2014

TEMAN DAN PUJAAN


Untuk bahagia, setiap manusia pasti berhak. Tetapi, Tuhan memberikan dan menyampaikan dengan cara yang berbeda untuk setiap urusan. Dan aku percaya bahwa senang dan sedih itu datangnya satu paket. Akan ada pelangi setelah hujan kan? Akn ada yang indah dibalik hal yang begitu sulit.
Posisi dan keadaanku sulit. Untuk masalah hati dan perasaan, siapa yang bisa menawar? Tuhan memberikan lebih. Ketika hatiku dirundung pilu dan perih. Ia datang, membawa secercah harapan. Mengisi hariku dengan tawa. Aku kenal dia. Dia mantan temanku. Aku berkali-kali berfikir, apa aku akan menjadi teman yang buruk jika aku tetap merespon laki-laki ini? Tetapi ketika pikiran-pikiran itu muncul, aku juga berfikir, apa itu yang difikirkan temanku ketika ia menjalin hubungan dengan masa laluku? Semakin waktu berjalan, semakin timbul rasa ini. Dan semakin timbul rasa ini, semakin jelas pula. Ia membuatku jatuh hati. Seolah diterpa badai, cemooh dari temanku;masalalunya menghujaniku. Ku tau ini yang bakal terjadi. Konsekuensinya aku sudah mengerti. Aku mencoba kuat, bertahan … memperjuangkan. Semakin hari semakin berat pula yang harus aku topang, beban semakin terus bertambah. Melebar dan meluas pada teman yang lain. Mereka bersatu. Mengataiku dan menghujamiku dengan kata-kata pedas mereka. Sekali lagi tentang tulisanku dilain hari, aku bingung apa salahku. Begitu gagalnya aku dalam berkawan? Aku selalu berusaha bersikap dan berbuat baik. Tak a[a, Tuhan yang mengetahui. Ini dunia, sementara. Fana. Tak selamanya aku akan disini bersama mereka yang tak tahu balas budi dan tak paham bagaimana perasaan. Aku juga tak paham bagaimana perasaan, tetapi setidaknya aku berusaha memahami. Bukannya meninggalkan dan mengabaikannya.

Jika aku disebut sebagai teman yang tak tahu diri, pantaskah itu diberikan pada perasaan ini? Siapa yang bisa meminta ketika cinta yang tiba-tiba datang dan tak pandang bulu? Siapa yang bisa menawar cinta yang datang pada seseorang yang kau anggap salah? Aku tak akan mundur. Aku akan bertahan. Untuk kau masalalunya, urusi masalalumu dengan laki-laki yang mengucapkan sayang padaku. Yang mengucapkan jatuh hati padaku kini. Dan urusi saja urusanmu dengan laki-laki yang setiap pagi kau sapa itu. Kau sudah memiliki dunia sendiri, begitu pula laki-laki yang menghapus air mataku ini. Masing-masing sudah punya jalan. Aku pun begitu, aku memilih jalan ini. Mau tidak mau aku harus menjalaninya kan? Perihal jalan itu buntu, itu belakangan. Jika tidak dicoba, mana tahu jika jalan itu buntu atau tidak? Mana tahu jalan itu mulus atau penuh lobang? Tetapi, sesungguhnya jalan tak akan ada yang mulus, pasti ada kerikil-kerikil kecil sebagai sandungan. Maka dari itu, ketika kau berjalan, lihat kanan kiri depan bawah. Jangan terlalu sering menengok ke belakang. Jadikan pembelajaran. Untuk sekilas menengok ke belakang, kenapa tidak? Aku wanita dan aku mengerti perasaanmu, teman. Tetapi, jika kamu sudah memiliki bahagia yang lain, bukankah kau tidak boleh menyia-nyiakannya? Jangan lakukan hal yang salah kedua kalinya setelah kau mengabaikan laki-laki yang sekarang menemukanku. Dan ternyata kau sesali itu. Yah, itu kebodohanmu yang dulu. Jika memang kau tak rela jika laki-laki ini bersamaku, ikhlaskan dan tuluskan hatimu. Temukan kebahagiaan yang ada didepanmu, buka hatimu lebar-lebar. Dan biarkan laki-laki yang pernah kau kecewakan ini tersenyum dengan sumber bahagia yang lain;aku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar