Untuk bahagia, setiap manusia pasti berhak. Tetapi, Tuhan
memberikan dan menyampaikan dengan cara yang berbeda untuk setiap urusan. Dan
aku percaya bahwa senang dan sedih itu datangnya satu paket. Akan ada pelangi
setelah hujan kan? Akn ada yang indah dibalik hal yang begitu sulit.
Posisi dan keadaanku sulit. Untuk masalah hati dan perasaan,
siapa yang bisa menawar? Tuhan memberikan lebih. Ketika hatiku dirundung pilu
dan perih. Ia datang, membawa secercah harapan. Mengisi hariku dengan tawa. Aku
kenal dia. Dia mantan temanku. Aku berkali-kali berfikir, apa aku akan menjadi
teman yang buruk jika aku tetap merespon laki-laki ini? Tetapi ketika
pikiran-pikiran itu muncul, aku juga berfikir, apa itu yang difikirkan temanku
ketika ia menjalin hubungan dengan masa laluku? Semakin waktu berjalan, semakin
timbul rasa ini. Dan semakin timbul rasa ini, semakin jelas pula. Ia membuatku
jatuh hati. Seolah diterpa badai, cemooh dari temanku;masalalunya menghujaniku.
Ku tau ini yang bakal terjadi. Konsekuensinya aku sudah mengerti. Aku mencoba
kuat, bertahan … memperjuangkan. Semakin hari semakin berat pula yang harus aku
topang, beban semakin terus bertambah. Melebar dan meluas pada teman yang lain.
Mereka bersatu. Mengataiku dan menghujamiku dengan kata-kata pedas mereka.
Sekali lagi tentang tulisanku dilain hari, aku bingung apa salahku. Begitu
gagalnya aku dalam berkawan? Aku selalu berusaha bersikap dan berbuat baik. Tak
a[a, Tuhan yang mengetahui. Ini dunia, sementara. Fana. Tak selamanya aku akan
disini bersama mereka yang tak tahu balas budi dan tak paham bagaimana
perasaan. Aku juga tak paham bagaimana perasaan, tetapi setidaknya aku berusaha
memahami. Bukannya meninggalkan dan mengabaikannya.
Jika aku disebut sebagai teman yang tak tahu diri, pantaskah
itu diberikan pada perasaan ini? Siapa yang bisa meminta ketika cinta yang
tiba-tiba datang dan tak pandang bulu? Siapa yang bisa menawar cinta yang
datang pada seseorang yang kau anggap salah? Aku tak akan mundur. Aku akan
bertahan. Untuk kau masalalunya, urusi masalalumu dengan laki-laki yang
mengucapkan sayang padaku. Yang mengucapkan jatuh hati padaku kini. Dan urusi
saja urusanmu dengan laki-laki yang setiap pagi kau sapa itu. Kau sudah
memiliki dunia sendiri, begitu pula laki-laki yang menghapus air mataku ini.
Masing-masing sudah punya jalan. Aku pun begitu, aku memilih jalan ini. Mau
tidak mau aku harus menjalaninya kan? Perihal jalan itu buntu, itu belakangan.
Jika tidak dicoba, mana tahu jika jalan itu buntu atau tidak? Mana tahu jalan
itu mulus atau penuh lobang? Tetapi, sesungguhnya jalan tak akan ada yang
mulus, pasti ada kerikil-kerikil kecil sebagai sandungan. Maka dari itu, ketika
kau berjalan, lihat kanan kiri depan bawah. Jangan terlalu sering menengok ke
belakang. Jadikan pembelajaran. Untuk sekilas menengok ke belakang, kenapa
tidak? Aku wanita dan aku mengerti perasaanmu, teman. Tetapi, jika kamu sudah
memiliki bahagia yang lain, bukankah kau tidak boleh menyia-nyiakannya? Jangan
lakukan hal yang salah kedua kalinya setelah kau mengabaikan laki-laki yang
sekarang menemukanku. Dan ternyata kau sesali itu. Yah, itu kebodohanmu yang
dulu. Jika memang kau tak rela jika laki-laki ini bersamaku, ikhlaskan dan
tuluskan hatimu. Temukan kebahagiaan yang ada didepanmu, buka hatimu lebar-lebar.
Dan biarkan laki-laki yang pernah kau kecewakan ini tersenyum dengan sumber
bahagia yang lain;aku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar