Yang kusebut bintang kini perlahan memunculkan sosok aslinya. entah aku yang terlambat menyadari atau memang hatiku tak ingin cepat-cepat menyadari. dia, bintangku. yang dulu aku merasa cahayanya menentramkan dan menghangatkan, kini memanas. mengelupas kulitku yang terbakar sinar terangmu. aku mngerti kini kamu yang mulai bersinar, aku yang meredup. tak memiliki cahaya, tak memiliki sinar, dan sendiri di langit kelam. bintangku, aku kini mengerti. mungkin aku yang selalu salah dan menyalahkan. aku yang katamu egois dan banyak bersifat buruk.
Yang kusebut bintang kini dengan mudahnya memancarkan sinarnya yang panas, melukai hati dan menyayat pedih. hatiku pilu, tak pernah aku membayangkan sinarmu kan seperti ini. sekali lagi fikirku menghempas, apa salahku? untuk mengusik hidupku, itukah inginmu?
saat ada sinar yang lain yang menyinariku, kau datang dan mengalahkan sinar itu. tetapi, ketika sinar lain meredup, mengapa kau juga ikut meredup? kau membiarkanku sendiri dan meredup sepi. gundah gulana hatiku. kau tak pernah bisa kupahami. aku...yang memang selalu terlihat salah dimatamu. aku sebenarnya tak ingin menyakiti hati siapapun juga. tetapi mengapa mereka senang jika menyakitiku? apa air mataku membuat lengkungan di wajahmu? terserah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar